Sabtu, 10 Oktober 2009

YESUS YANG MISKIN DAN MENYEDIHKAN

“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” (Yes 52:13-14)

Di komunitas MC di Calcuta ada seorang gadis kaya lulusan sebuah perguruan tinggi yang menjadi postulan (calon suster). Dia harus melakukan kunjungan pada kaum miskin. Sebelum dia berangkat menjalankan tugasnya Ibu Teresa mengatakan, “Kamu telah melihat imam dalam misa yang dengan cinta dan perhatian yang manis dia menyentuh tubuh Kristus.Yakinlah kamu telah melakukan hal yang sama ketika kamu sampai di rumah orang miskin, sebab Yesus ada disana dalam penyamaran yang menyedihkan.”

Ibu Teresa senantiasa berefleksi dan hening di depan salib dan tabernakel. Dia melihat kemiskinan dan penderitaan Yesus disana. Yesus yang Putra Allah wafat dalam kemiskinan dan penderitaan yang sangat menyedihkan. Kepedihan dan penderitaan Yesus saat ini terpancar dalam diri orang miskin. Yesus ada dalam diri orang miskin. Maka Ibu Teresa mengatakan bahwa Yesus bukan hanya ada dalam hosti melainkan Dia hidup dalam diri orang miskin. Siapa yang menyentuh orang miskin, maka dia sudah menyentuh Yesus seperti dia menyentuh Yesus yang berupa hosti.

Demi keselamatan manusia Yesus menyerahkan diriNya kepada manusia. Dia melepaskan kesetaraanNya dengan Allah menjadi manusia yang miskin dan wafat secara mengerikan di salib. Kemiskinan yang dialami Yesus adalah kemiskinan total. Di salib Dia kehilangan kekayaanNya, statusNya, dan martabatNya sebagai Putra Allah. Yesaya menggambarkan dengan tepat sekali apa yang akan dialami oleh Yesus. Dia begitu buruk rupa seperti bukan manusia lagi. Kemiskinan adalah bila orang diperlakukan tidak seperti manusia. Dia diperlakukan sewenang-wenang, ditinggalkan, tidak dicintai dan sebagainya. Dia dihilangkan jati dirinya sebagai manusia yang bermartabat, sehingga mereka kehilangan jati dirinya sebagai citra Allah.

Ibu Teresa berusaha menjadikan kaum miskin sebagai manusia yang bermartabat kembali. Manusia yang merupakan citra Allah. Maka pelayanan yang dilakukan adalah berusaha mencari orang-orang yang telah dibuang dan tidak dianggap manusia lagi. Mereka seperti Yesus yang disalibkan. Agar dapat melayani kaum miskin, maka orang harus berani hidup miskin. Berani melepaskan apa yang menjadi miliknya seperti Yesus melepaskan seluruh kepemilikanNya. Dalam pelayanan pun Ibu Teresa berusaha menjadi miskin. Dia tidak ingin mempertahankan apa yang dimilikinya supaya dapat memahami dan merasakan makna kemiskinan itu. Mengalami betapa beratnya dihilangkan segala sesuatu yang dimiliki sampai kemanusiaannya. Dalam sebuah wawancara Ibu Teresa mengatakan “Kami akan menyesuaikan diri dalam bentuk pakaian jika itu bisa lebih diterima oleh kaum miskin dimana kami merasa terpanggil untuk melaksanakan karya kami.” Para suster MC mengenakan sari sebab sari adalah pakaian umum masyarakat India. Namun Ibu Teresa berani meninggalkan sari bila memang kaum miskin tidak dapat menerimannya sebab dia berpakain seperti itu. Inilah salah satu bentuk pelepasan diri dan menjadi miskin.

0 komentar:

Posting Komentar