Minggu, 25 Oktober 2009

SUATU HARI MINGGU DI SUATU TEMPAT

Seorang pria gagah berdiri di balik mimbar. Pakaian kebesarannya menenggelamkan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi. Tapi pakaian itu adalah lambang statusnya yang harus dikenakan ketika dia ada di tempat itu. Dihadapannya dalam bangku-bangku kayu jati yang panjang-panjang, duduk rapi orang tanpa batasan umur. Ada empat lajur bangku panjang yang berderet ke memanjang dari pintu masuk sampai tempat pria itu berdiri. Hampir semua bangku terisi penuh.

“Saudara-saudara terkasih,” katanya lantang di depan pengeras suara, “Dalam Injil dikisahkan Yesus mengkritik orang Farisi yang mampu mengetahui tanda alam tapi tidak mampu mengetahui tanda jaman. Apakah tanda-tanda jaman itu?..”
Tiba-tiba dari deretan bangku tengah terdengar tulit..tulit…tulit… Suara itu tidak begitu keras tapi cukup bagi banyak orang untuk menolehkan kepala. Mata mereka bergerak mencari sumber suara itu. Daya pengaruh suara itu lebih kuat dari pada suara keras pria yang ada di belakang mimbar.
“Siapa sih yang tidak mematikan HP?” gerutu lirih seorang pemudi yang duduk beberapa baris di belakang pemilik HP yang bunyi. Wajah pemudi itu tampak cemberut. Sebuah rasa kesal tersirat.
“Udah biar aja. Kamu dengarkan aja kotbahnya.” Jawab seorang pemuda yang duduk di sebelahnya. Dia merapatkan tubuhnya ke arah tubuh si pemudi. Udara panas yang menggambang di ruang itu tidak menjadi penghalang untuk duduk berdempetan, meski masih ada sela yang cukup lebar dengan orang lain yang duduk sebangku dengannya.
“Sungguh menganggu!” sambung pemudi itu lirih dalam nada jengkel.
“Itulah tanda-tanda jaman.” Bisik pemuda itu. Dia menatap mesra kepada pemudi itu. “Orang sudah sangat tergantung dan melekat pada HP. Kamu juga kemana-mana selalu bawa HP.” Sebuah senyum menghiasi wajahnya.
“Boleh aja sih orang bawa HP tapi kan di pintu sudah ada tanda agar HP dimatikan.” Jawab pemudi itu. “Sebetulnya tanpa diberi tanda di pintu pun orang harusnya sudah tahu bahwa dia masuk ke gereja. Dia mau berdoa.”
“Ah tanda bisa saja ditempatkan dimana-mana, tapi apakah orang menangkap tanda?”
“Harusnya nangkap dong. Anak kecil aja tahu.”
“Masalah bukan orang tahu dan tidak tahu.”
“Lalu apa?” tanya pemudi itu. Matanya menatap tajam kepada pemuda yang wajahnya sangat dekat dengan wajahnya.
“Masalahnya orang udah terlekat itu saja.” Pemuda itu membetulkan letak duduknya. Tubuhnya agak dibungkukkan agar suaranya tidak menganggu seorang ibu yang duduk di sebelahnya. Mereka terdiam.

“Orang harus mampu menangkap tanda jaman.” Kata pria di balik mimbar dengan suara lantang. “Bila kita paham akan tanda jaman maka kita bisa memahami akan situasi jaman ini. Kita dapat mempersiapkan diri kita masing-masing. Tidak terjebak dengan tawaran jaman yang bisa menyesatkan dan melumpuhkan iman kita, melainkan kita bisa memperkuat diri kita sendiri dengan semakin beriman.”
“Tuh dengar,” bisik pemuda itu membuka percakapan kembali, “HP bisa merupakan sarana melumpuhkan iman kita.”
“Ah terlalu tinggi.” Jawab pemudi itu sinis. Bibirnya yang kecil mencibir.
“Eh itu romo yang bilang lho,”
“HP kalau digunakan dengan baik tidak akan melumpuhkan iman.” Sahut pemudi itu. “Bahkan bisa menjadi sarana menumbuhkan iman. Kamu kan sering aku kirimi ayat-ayat yang berguna bukan?” Pemuda itu menganggukkan kepalanya. “Semua itu tergantung dari pemakainya saja.” Lanjut pemudi itu penuh semangat berusaha menyaingi kotbah pria yang berdiri di balik mimbar.
“Tapi kalau kita jujur,” bisik pemuda itu, “Berapa persen sih HP itu untuk menumbuhkan iman dan berapa persen yang dapat menggoyahkan iman?”
“Ya kamu hitung sendiri saja,” sahut pemudi itu. “Apa kamu pernah menghitung?”
“Belum,” jawab pemuda itu sambil menggelengkan kepalanya.
“Kalau kamu sih pasti hanya untuk SMS cewek-cewek lain ya?” kata pemudi itu ketus.
“Ah kamu bisa aja,” jawab pemuda itu. “Cewek yang aku SMS hanya kamu kok,” rayu pemuda itu sambil tersenyum mesra.
“Omong kosong!”
“Sungguh!”
“Siapa cewek kemarin yang kirim SMS mesra?”
“Ah hanya cewek iseng kok,” sahut pemuda itu. Dia menatap ke arah pemudi. “Dia memang suka bergurau.”
“Bohong!”
“Sungguh.”
“Aku tidak percaya ada cewek mengirim SMS mesra hanya sekedar guyon.”
“Nanti kamu kukenalkan dengannya.”
“Nggak mau!” jawab pemudi itu dengan wajah cemberut.
“Dia teman SMA,” jawab pemuda itu lirih. Tubuhnya semakin dirapatkan ke pemudi di sebelahnya.
“Aku nggak tanya siapa dia, tapi pasti ada banyak SMS seperti itu di HPmu yang tidak aku ketahui.”
“Tidak! Percayalah.”
“Bohong!”
“Aku hanya kirim SMS mesra ke kamu seorang,” kata pemuda itu penuh rayu.
“Bagaimana aku tahu ketika kamu tidak bersamaku.”
“Percaya saja padaku.”
“Huh..”
“Aku hanya mencintai kamu,” kata pemuda itu mesra. Dia menggenggam jemari pemudi di sebelahnya. Pemudi itu segera menarik jemarinya dari genggaman pemuda itu.
“Dilihat orang tuh!” kata pemudi itu dengan wajah merona merah. Sikunya menyodok pinggang pemuda di sebelahnya yang tersenyum bahagia.

Seorang ibu yang duduk di sebelah pemuda itu batuk-batuk kecil. Dia menatap mereka dengan wajah yang masam. Kedua kaum muda itu pun menatap ke arah ibu itu. Sejenak mereka saling memandang. Pemuda itu tersenyum kecil ke arah ibu itu.

“Kalian sama mengganggunya dengan suara HP,” bisik ibu itu lirih sambil memalingkan wajahnya. Dia kembali mengarahkan wajahnya ke arah depan tempat pria itu masih berdiri di balik mimbar. Kedua anak muda itu hanya saling menatap.

“Saudara-saudara terkasih,” kata pria dibalik mimbar lantang, “Memang kita tidak akan mampu melawan segala perkembangan jaman. Atau kita menolak segala sarana tehnologi yang ada saat ini. Kita akan menjadi orang terkucil dari dunia. Kita akan menjadi orang aneh di tengah masyarakat. Tapi kita dapat menggunakan segala sarana tehnologi untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama. Amin.” Pria dibalik mimbar menyudahi kotbahnya. Dia lalu berjalan menuju meja besar yang berada di tengah.

Deretan manusia yang duduk di bangku serentak berdiri ketika pria di balik meja besar mengajak mereka untuk berdiri. Kedua anak muda itu pun turut berdiri seperti yang lain. Semua orang yang datang ke tempat ini mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk memuji dan memuliakan Tuhan pada hari Tuhan. Tapi apakah tujuan itu terwujud?

0 komentar:

Posting Komentar