Rabu, 07 Oktober 2009

RUMAH DARI COKLAT


“Membaca apa rek?” tanyaku sambil duduk di sela tiga anak-anak yang duduk melingkari sobekan koran kumal yang dibentangkan di trotoar. Koran lusuh itu mungkin bekas bungkus sesuatu yang dibuang orang di tepi jalan. Beberapa bagian tampak kotor dan berwarna coklat tua. Mungkin bekas kena kuah makanan.
“Ini lho mas,” kata salah satu anak menunjuk sebuah foto dan keterangan foto itu. Aku berusaha melihat apa yang menjadi pusat perhatian anak-anak.
“Foto apa?” tanyaku
“Rumah dari coklat.” Jawab yang lain. Foto di koran sudah tampak samar tapi masih cukup jelas. Sebuah foto tentang rumah-rumahan dan di sekitarnya ada beberapa orang berdiri sambil tersenyum. Seorang berpakaian putih dengan topi putih menjulang tinggi tampak sedang sibuk memperbaiki rumah-rumahan itu. Di bawah foto ada keterangan dalam rangka menyambut Natal sebuah hotel membuat rumah dari coklat.
Aku menatap mereka satu persatu. Aku tidak tahu apa yang telah mereka bicarakan sebelum aku datang. Dua orang gadis berpakain bersih melintas dekat kami. Bau harum menebar sejenak mengganti bau yang melekat diantara kami. Kalau dilihat pakaianya mereka adalah pegawai penjual parfum dan alat kosmetik di plaza yang berdiri megah di seberang jalan.
“Kenapa rumah coklat?” tanyaku ingin tahu.
“Ini coklat sungguhan?” tanya anak yang memakai baju yang sudah pudar warnanya. Matanya penuh ingin tahu. Aku menganggukkan kepala.
“Apa aku bilang,” seru anak yang memakai kaos hijau seragam Persebaya. “Dia ini suka ngeyel. Aku kan bilang ini coklat sungguhan. Ini lho ada tulisannya.” Lanjutnya sambil jemarinya yang kotor menunjuk pada keterangan foto.
“Mosok coklat yang bisa dimakan dijadikan rumah?” tanya anak itu masih tidak percaya. Matanya berkedip-kedip lucu. Wajahnya yang kotor mungkin beberapa hari belum mandi memancarkan tanya yang tidak dipahami.
“Ya bisa aja kan,” jawabku berusaha menengahi.
“Peyeng ini memang suka ngeyel. Sudah diberitahu masih nggak percaya aja.” Kata anak berkaos Persebaya sambil menatap jengkel pada anak yang dipanggil Peyeng.
“Aku kan tanya.” Sanggah Peyeng. Dia menatap balik anak berkaos Persebaya penuh tantangan. Bibirnya yang hitam terbakar rokok tampak cemberut kesal.
“Uh…” kata anak yang lain sambil mendorong kepala Peyeng.
“Jancuk!” teriak Peyeng marah. Dia langsung berdiri. Tanganya hendak melayang ke arah anak itu. Meski tubuh Peyeng lebih kecil dari pada anak itu tapi dia tidak takut. Di dunia anak jalanan rasa takut adalah sesuatu yang memalukan. Sejak kecil mereka masuk dalam dunia menindas atau tertindas. Bila saat ini tertindas maka besok dia akan menjadi penindas. Hidup dalam situasi bertahan atau menyerang. Berkelahi adalah hal biasa.
“Udah.. udah.” Kataku sambil memegang lengan Peyeng yang sudah bergerak untuk memukul. Kutarik lengan itu agar dia duduk lagi di sebelahku. “Mosok gini aja mau berkelahi.” Kata sambil mengelus-elus kepala Peyeng. Sudah berpuluh kali aku mengatakan pada mereka agar jangan berkelahi namun perkataanku itu berlalu seperti angin yang lewat di sela tangga penyeberangan jalan di atas kami.
“Pesek memang nglamak mas.” Gerutu Peyeng. “Awas kamu!” ancamnya dengan nada gusar. Matanya menatap marah. Pesek hanya tersenyum kecil sambil meledek. Anak itu dipanggil Pesek sebab memang hidungnya pesek. Di dunia anak jalanan nama asli hampir tidak ada. Mereka dipanggil dengan nama palsu. Tidak ada satu anak pun marah kalau dipanggil dengan nama ejekan. Bila nama menunjukkan jati diri, maka mereka tampaknya ingin menyembunyikan jati dirinya. Nama mengingatkan mereka pada pemberi nama yaitu orang tua. Mungkin mereka ingin melupakan orang tua yang kejam dan sewenang-wenang yang telah mendorong mereka untuk hidup di jalanan.
“Jadi anak jangan suka ngeyel.” Kata anak yang memakai kaos Persebaya.
“Memang kenapa kalau ada rumah dari coklat?” tanyaku. Kulihat wajah ketiga anak itu. Wajah yang penuh debu dan hitam terbakar matahari. Mereka terdiam. Sebuah angkot berhenti lalu jalan kembali meninggalkan kepulan asap dan debu.
“Kan sayang mas coklat bisa dimakan kok dijadikan rumah.” Jawab Peyeng.
“Rumahnya nanti dimakan.” Jawab Pesek.
“Ah kamu sok tahu Sek,” potong Peyeng.
“Kalau gak dimakan apa mau dibuang?” tanya anak berkaos Persebaya.
“Kalau dibuang langsung kamu ambil Tri,” jawab Pesek.
“Bukan hanya Gotri tapi kalian pasti akan berebut,” jawabku. Mereka semua tertawa.
“Mas nanti hoyen ya,” kata Pesek. Hoyen adalah istilah bagi kami ketika mengambil nasi, ayam, burger dan soft drink yang dibuang di sampah oleh sebuah rumah makan cepat saji yang ada di plaza depan kami. Setiap jam 12 malam rumah makan itu membuang sisa makanan dan nasi serta ayam goreng yang tidak laku. Semua dimasukan dalam kantong-kantong plastik hitam yang besar dan dilemparkan dalam bak sampah plaza. Pada saat itu kami akan cepat-cepat mengambilinya, sebab takut ketahuan satpam rumah makan itu. Para satpam itu akan melarang bahkan memukul kami bila ketahuan mengambil sampah makanan itu.
“Ya.” Jawabku singkat. Pada awalnya aku agak jijik ketika ditawari oleh teman-teman di rumah singgah makanan dari hasil hoyen. Tapi mereka memaksa. Akhirnya aku jadi terbiasa juga untuk memakan sisa makanan.
“Mas apa coklat yang dibuat rumah ini sama dengan coklat yang pernah mas berikan?” tanya Peyeng masih penasaran dengan rumah coklat. Matanya yang lebar menatap erat foto rumah dari coklat.
“Mungkin, sebab aku sendiri belum pernah lihat.” Jawabku.
“Mas punya coklat lagi?” tanya Gotri
“Gak!” jawabku “Mahal rek!”.
“Kalau mahal kenapa dijadikan rumah-rumahan?” tanya Peyeng.
“Mereka kaya Yeng,” jawab Pesek. “Gak seperti kamu yang mlarat.” Gotri dan Pesek tertawa bersama. Peyeng hanya tersenyum kecut.
“Daripada dijadikan rumah-rumahan kan lebih baik dibawa ke rumah singgah.” Kata Peyeng, “Pasti kalian juga akan berebut.” Tawa mereka meledak kembali mengalahkan deru mobil dan motor yang bersliweran di depan kami.
“Jangankan satu rumah,” kata Gotri. “Satu genggam saja sudah senang.” Mereka tertawa hambar. Menungkapkan keinginan yang tak mungkin terpenuhi.

Suara deru kendaraan ramai di jalanan. Mereka saling berebut untuk menjadi yang terdepan. Derap kaki orang berjalan di trotoar terdengar silih berganti. Jarang sekali mereka yang lewat akan melihat kami. Satu dua orang berusaha berjalan menjauhi tempat kami duduk. Ada rasa takut dan jijik. Beberapa orang berusaha memalingkan muka seolah tidak ingin melihat kami. Bagi mereka kami adalah hal yang sudah biasa ada di tepi jalan. Seperti seongok sampah yang ada di tepi jalan.

Kami terus berbicara soal rumah dari coklat yang dipamerkan selama beberapa hari. Aneka analisa konyol meluncur dari mulut kami yang berbau busuk. Dari perut-perut yang menahan lapar dan mengimpikan ada makanan yang tersedia. Hasil mengamen tidak cukup untuk membeli sebungkus nasi. Dihadapan kami ada selembar kertas koran yang memberitakan ada rumah dari coklat.

0 komentar:

Posting Komentar