Sabtu, 10 Oktober 2009

ADORASI

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Luk 6:12)

Beberapa kali Yesus masuk tempat sepi untuk berdoa pada Bapa. Bahkan dalam kesibukanNya dan ketika sangat dibutuhkan banyak orang, Dia pun pergi ke tempat sepi untuk berdoa (Mrk 1:33-37). Apakah Yesus begitu egois sehingga meninggalkan banyak orang untuk berdoa? Berdoa adalah menjalin hubungan dengan Allah. Bagi Yesus menjalin hubungan yang mesra dengan Allah adalah diatas segalanya. Bila dekat dengan Allah maka akan semakin memahami kehendak Allah. Berdoa berarti juga mempersatukan diri dengan Allah, sehingga terbangun satu kesatuan yang erat “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Yesus berdoa ditempat-tempat sepi dan sendiri. Dalam keheningan itu Dia dapat berbicara dengan Bapa secara khusus. Dia mencari kehendak Bapa (bdk. Mat 26:37-44).

Dalam dunia ini orang menikmati keramaian. Orang juga terjebak dalam arus jaman yang sibuk, sehingga orang berusaha untuk masuk dalam kesibukan. Orang modern adalah orang yang sibuk. Akibatnya doa dalam hening ditinggalkan. Orang lebih menikmati doa dalam keramaian. Orang pun tidak mempunyai waktu doa, sebab tenggelam dalam kesibukannya. Bila belajar dari Yesus maka kita butuh waktu hening untuk mempersatukan diri dengan Allah sehingga dapat melihat kehendakNya. Adorasi adalah doa hening dimana kita berhadapan dengan Yesus. Melihat belas kasih Yesus yang sedemikian besar sehingga menyerahkan nyawaNya bagi kita. Melihat kesederhanaan Yesus yang siap menjadi roti yang kita santap.

Ibu Teresa menulis, “Kami mempunyai banyak pekerjaan bagi kaum miskin. Kami tidak perlu mengurangi pekerjaan kami untuk dapat mengadakan adorasi itu. Sering kali kesibukan pekerjaan dijadikan alasan bagi banyak orang untuk tidak mengadakan adorasi setiap hari. Saya dapat menceritakan kepada Anda bahwa ada perubahan besar sejak di dalam konggregasi kami ada adorasi setiap hari. Cinta kasih kami kepada Yesus semakin mendalam….Hati Kudus Yesus merupakan pusat cinta kasih kita. Ekaristi merupakan kekuatan kita, kebahagiaan dan cinta kasih kita, kedamaian yang memungkinkan kita menerima Yesus dan kemudian membagikan Dia kepada orang-orang lain,”

Pelayanan kepada kaum miskin membutuhkan energi yang besar. Mengasihi orang menderita membutuhkan kasih yang tulus dan besar. Bagi Ibu Teresa sumber kasih yang besar itu didapatkanya ketika dia mempersatukan diri dengan Allah dalam adorasi dan keheningan. Menurut Ibu Teresa setelah mengadakan adorasi setiap hari, jumlah anggota konggregasinya semakin banyak. Hal ini bukan mujijat adorasi melainkan dengan adorasi dan hening, Ibu Teresa semakin bersatu dengan Allah, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan merupakan cerminan karya Allah yang berbelas kasih.

Dalam hening kita bisa melihat karya kita dalam terang Allah. Kita dapat menilai diri sendiri apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak Allah? Apakah karya kita sudah mencerminkan kehendak Allah? Terlebih adalah melihat belas kasih Allah dalam hidup kita. Kesadaran belas kasih itulah yang kita wartakan pada dunia. Namun pada umumnya sering kita meremehkan adorasi. Kita menganggap bahwa bertindak belas kasih jauh lebih berguna daripada duduk dalam hening. Padahal bila kita terus bertindak maka akan mengalami kejenuhan. Kita akan mudah marah dan putus asa. Kita akan mengalami kekeringan sebab usaha yang kita lakukan adalah usaha pribadi bukan melaksanakan kehendak Allah.

0 komentar:

Posting Komentar