Sabtu, 10 Oktober 2009

ANAK DAN KELUARGA

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat 15:28)

Suatu hari Ibu Teresa menemukan anak kecil di jalan. Dia membawa ke rumah dan memberi pakaian yang layak. Tapi anak itu melarikan diri. Ibu Teresa mengutus seorang suster untuk mengikutinya. Ternyata anak itu kembali kepada ibunya yang menjadi pengemis. Ketika ditanya mengapa dia tidak mau tinggal di rumah yang disediakan? Anak itu menjawab bahwa dia tidak dapat berpisah dengan ibunya sebab dia sangat mencintainya. Dari pengalaman ini Ibu Teresa belajar bahwa kebahagiaan seseorang bila dia menemukan cinta dalam keluarga. “Tidak ada anak muda atau gadis muda melarikan diri dari rumah karena tidak mempunyai ini atau itu. Mereka hanya melarikan diri dari rumah yang tidak mempunyai kasih sayang.”

Dalam dunia dewasa ini banyak anak yang kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Mereka menjadi anak yang putus asa, mudah menyerang, hidup seenaknya, tidak punya harapan dan sebagainya. Persoalan ini menimpa keluarga tanpa memandang status sosial, ekonomi, suku dan sebagainya. Tidak jarang kasus anak yang putus asa muncul dari keluarga yang dianggap baik oleh masyarakat. Orang tuanya aktif melakukan aktifitas sosial, hidup menggerejanya baik, dalam kehidupan bermasyarakat tidak mempunyai masalah, dan sebagainya, namun ternyata anaknya menjadi anak yang kesepian dan putus asa sehingga melakukan hal-hal yang tidak terpuji.

Dalam Injil seorang perempuan Kanaan rela diusir oleh para murid bahkan dihina oleh Yesus sebab dia memohon terus menerus pada Yesus untuk kesembuhan anaknya yang sedang sakit. Cinta pada anaknya membuatnya mampu bertahan menghadapi segala tantangan. Cinta yang besar membuatnya berserah pada Tuhan. Iman adalah perwujudan cinta pada Tuhan, bila seseorang mampu mencintai anaknya sedemikian besar maka dapat dipastikan dia dapat mencintai Tuhan secara penuh.

Mencintai anak secara penuh sering kali menjadi tantangan dalam dunia dewasa ini. Saat ini banyak orang aktif mengadakan pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin dan menderita. Orang aktif menjalankan ajaran agamanya. Namun mengapa semakin banyak anak yang tumbuh dalam kesepian dan kefrustasian? Hal ini mungkin disebabkan banyak orang lebih memilih mencintai orang diluar keluarga dibandingkan dalam keluarganya sendiri. Memang sangat mudah mencintai orang di luar keluarga sebab hal itu hanya dilakukan sesaat saja. Tidak ada ikatan emosional, sebab lebih pada pelayanan. Kita pun dapat berpura-pura mencintai dan baik. Ada aneka topeng yang kita kenakan. Sebaliknya bila melayani dan mencintai keluarga tidak dapat sesaat saja. Keluarga ada bersama kita. Kita tidak dapat memakai topeng kelemah lembutan, murah hati, senyum dan sebagainya. Kita menjadi diri kita apa adanya. Bila pelayanan di luar kita dapat berusaha menahan diri bila orang yang kita layani tidak sepaham dengan kita, sebab setelah itu kita pergi meninggalkan mereka. Tapi di dalam keluarga kita tidak dapat meninggalkan anak kita meski dia tidak sepaham dengan kita. Disinilah yang menyebabkan timbulnya keinginan melayani diluar tapi melupakan keluarga.

Ibu Teresa menegaskan pelayanan dimulai dari keluarga. Dia berkata “Cinta kasih itu hidup ditengah keluarga.” Dalam keluarga cinta kita diuji. Kita dituntut mencintai setiap pribadi sepenuhnya. Bila kita menemukan cinta dalam keluarga maka kita akan mempunyai akar yang kuat dalam pelayanan kita

0 komentar:

Posting Komentar