Sabtu, 10 Oktober 2009

BELAJAR DARI ANAK KECIL

Yesus bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 18:3)

Pada jaman Yesus hidup anak-anak dan perempuan adalah termasuk orang yang menduduki bagian terendah dalam struktur masyarakat akibatnya mereka kurang dihargai. Mereka dianggap orang yang tidak tahu apa-apa. Padahal anak-anak adalah manusia yang masih diliputi oleh pikiran-pikiran yang tulus dan murni. Bila mereka bertindak tanpa didasari oleh motivasi-motivasi tersembunyi. Misalnya mereka memberi sebab memang mereka ingin memberi bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Sedangkan orang dewasa sering kali melakukan sebuah tindakan dengan aneka motivasi tersembunyi untuk keuntungan diri mereka sendiri.

Anak-anak pun senantiasa bersuka cita dalam aneka masalah hidupnya. Inilah dasar untuk pembangunan Kerajaan Allah, sebab Kerajaan Allah adalah situasi dimana orang dapat mencintai secara tulus dan penuh suka cita. Maka Yesus mengajak para murid untuk belajar dari mereka. Bahkan para murid dituntut untuk bertobat untuk menjadi seperti anak kecil. Hal ini bukan berarti mereka harus menjadi kekanak-kanakan, melainkan meniru ketulusan dan kemurnian sikap anak-anak.

Suatu hari Ibu Teresa memberikan roti kepada beberapa anak miskin. Ternyata ada seorang anak yang tidak memakan roti itu. Ibu Teresa bertanya mengapa roti itu tidak dimakan? Anak itu menjawab, “Ayah saya sakit. Saya lapar sekali, tapi ayah saya sakit, dan saya kira dia akan senang sekali kalau mendapat roti ini.” Dalam renungannya Ibu Teresa menulis, anak itu rela memberikan rotinya agar dapat menggembirakan ayahnya karena mendapat sepotong roti. Kaum miskin itu orang yang berjiwa besar! Mereka tidak memerlukan simpati dari kita. Mereka tidak minta agar kita kasihan pada mereka. Mereka orang-orang yang berjiwa besar.

Kita dapat belajar dari pengalaman Ibu Teresa yang belajar dari ketulusan anak-anak. Meski dia sendiri membutuhkan namun karena terdorong oleh cinta yang besar kepada ayahnya maka dia rela menahan laparnya demi ayahnya. Inilah kebesaran cinta. Cinta yang berani mengurbankan kepentingan-kepentingan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Inilah kebesaran jiwa seperti Yesus yang berani berkurban untuk manusia.

Dalam dunia saat ini banyak orang melakukan suatu tindakan dengan aneka macam motivasi. Orang memberi dengan motivasi akan menerima kembali. Banyak orang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dari setiap yang dia lakukan bahkan dalam tindakan amal. Keuntungan bukan hanya dalam wujud materi namun juga prestasi, nama baik, kebanggaan diri dan sebagainya. Hal ini tampak adanya banyak orang yang beramal akhirnya menemukan kekecewaan sebab orang yang diberi tidak membalas seperti yang dia inginkan. Akhirnya mereka tidak mau beramal kembali.

Dalam mengasihi dibutuhkan ketulusan dan sikap tanpa pamrih. Kita tidak berpikir mengenai diri kita, melainkan memikirkan orang yang kita beri. Kita tidak menuntut mereka menjadi seperti yang kita inginkan melainkan membiarkan mereka seperti yang mereka inginkan. Tindakan kasih yang kita lakukan bukan untuk membentuk orang menjadi seperti yang kita harapkan. Tindakan kasih adalah untuk membahagiakan orang. Maka Yesus menyerukan pertobatan agar kita menjadi anak-anak yang berjiwa besar. Manusia yang berani berkurban demi orang lain tanpa mempunyai maksud lain selain kebahagiaan orang yang dicintainya.

0 komentar:

Posting Komentar