Sabtu, 10 Oktober 2009

MARIA SEBAGAI TELADAN

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:48-50)

Ibu Teresa sangat menganggumi Maria, bukan hanya karena dia adalah ibu Yesus melainkan karena sikap dan teladan Maria. Dalam sebuah tulisannya Ibu Teresa menulis “Panggilan Bunda Maria adalah menerima Yesus ke dalam hidupnya. Dia bersedia menjadi abdi bagi Tuhan. Kemudian bergegaslah dia pergi untuk menyerahkan Yesus kepada St. Yohanes Pemandi dan ibunya.” Bagi Ibu Teresa Maria bukan hanya menerima Yesus dalam hidupnya namun dia juga mendidik Yesus di Nasaret dan membawa Yesus pada orang lain sehingga orang lain memuji Tuhan seperti Yohanes memuji Tuhan dalam kandungan Elisabet.

Maria adalah orang beriman yang pertama. Dia percaya pada Yesus dan segala yang disabdakan oleh Tuhan padanya meski hal itu sangat membingungkannya. Bagaimana mungkin dia yang belum bersuami akan mengandung dan melahirkan seorang putra dari Roh Kudus? Namun dia memposisikan diri sebagai hamba yang taat pada perintah tuannya. Hal yang menganggumkan dari Maria adalah kepeduliannya pada orang lain yang menderita. Ketika mendengar Elisabet mengandung maka dia bergegas ke rumah Elisabet dan membantunya sampai Elisabet melahirkan. Padahal saat itu dia juga sedang mengandung. Maria adalah pelaku firman. Maka ketika Yesus ditanya siapa ibunya? Yesus menjawab ibunya adalah orang yang melakukan firman. Siapakah orang yang hebat menjalankan firman selain Maria, bunda Yesus?

Di dunia ini banyak orang yang memeluk agama dan merasa bahwa dirinya sudah beriman. Sebenarnya iman adalah perwujudan dari penyerahan hidup manusia kepada Tuhan. Dia percaya secara penuh dan utuh akan Tuhan. Kepercayaan ini terungkap dalam sikap hidup dan tindakan nyata. Yakobus mengatakan iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah mati. Bila orang mengaku bahwa dirinya orang beragama dan beriman namun hidupnya tidak diwarnai oleh iman itu maka sebetulnya dia bukan orang beriman. Mungkin dia orang beragama namun bukan orang beriman.

Ibu Teresa berusaha mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dia percaya bahwa Yesus akan memberi apa yang dibutuhkannya, maka dia tidak pernah kuatir dalam semua hal, sebab dia percaya bahwa Yesus akan memberikan segalanya pada saat yang tepat. Iman Ibu Teresa juga bersumber dari iman Maria yang siap melayani semua orang. Maria yang menerima Yesus dan membawaNya pada orang lain. Ibu Teresa menulis, “Dewasa ini Yesus mendatangi kita dan kita pun seperti Bunda Maria harus bergegas memberikan Dia kepada orang-orang lain.”

Kita sudah menerima Yesus dalam hati. Maka tugas kita adalah membawaNya kepada setiap orang agar mereka mengenal Yesus dan memujiNya. Membawa Yesus pada orang bukan berarti hendak mengkristenkan. Ibu Teresa menghendaki agar orang mengenal Allah bukan untuk menjadi Kristen. Dengan demikian pelayanan kita harus murni demi menolong orang miskin bukan sebagai sarana untuk mengkristenkan orang yang bukan Kristen. Inilah kemurnian pelayanan.

0 komentar:

Posting Komentar