Senin, 19 Oktober 2009

SEBUAH MOBIL VW DI TEMPAT PARKIR


Pak Dul berlari kecil. Dia sudah mengerahkan seluruh kecepatan larinya tapi kakinya yang tua tidak mampu lagi membawa tubuhnya yang semakin menggelembung. Nafasnya sudah hampir putus tapi jarak yang hanya beberapa meter seolah menjadi track yang panjang. Jemari tangan kirinya yang sebesar sosis memegangi topi satpam yang kekecilan di kepalanya. Keringat yang beraneka warna membasahi wajahnya.
“Cepat!” bentak seorang berpakaian rapi yang berdiri dekat sebuah mobil sedan tua warna biru langit. Di kap depan ada lambang VW.
“Ini mobil siapa?” teriak orang itu sambil menggebrak kap mobil VW di sebelahnya. Pak Dul yang masih mengatur nafas wajahnya menjadi pucat. Matanya terbelalak seperti mata ikan koki. Dia terkejut bagaimana mungkin ada mobil parkir di tempat ini. Disini biasanya terparkir mobil sedan BMW hitam.
“Kamu ini gimana sih jadi satpam aja gak becus!” gelegar suara orang itu membuat wajah Pak Dul seputih mayat. “Mobil siapa ini!” bentaknya sekali lagi.
“Maaf pak saya tidak tahu.” Jawab Pak Dul tergagap-gagap.
“Bagaimana kamu tidak tahu? Lalu apa tugasmu hah!”
“Saya baru saja aplosan Pak,”
“Siapa sebelum kamu.”
“Somad Pak.”
“Panggil Somad.”
“Dia sudah pulang Pak,”
“Aku tidak peduli dia mau pulang atau ke mana. Yang penting panggil dia.” Mata orang itu melotot seolah ingin melihat lebih jelas Pak Dul yang ada dihadapannya. Pak Dul segera mengeluarkan HP yang dibelinya beberapa waktu lalu dari seorang pencopet di terminal. Dia pencet-pencet HP berusaha mencari nomor Somad. Tapi jemarinya yang gemuk tidak mampu menemukan nomor Somad. Seingatnya kemarin sudah disave sama Somad tapi mengapa sekarang tidak ada? Keluhnya dalam hati.
“Kamu bisa apa tidak pakai HP!” bentak orang itu tidak sabar melihat Pak Dul hanya pencet sana pencet sini. “Kalau gak bisa pakai HP bilang dong.” Kata orang penuh penghinaan. Pak Dul semakin bingung. Ya ini nomor Somad, kata dalam hati sedikit lega. Dia pencet nomor Somad. Tut..tut…tut.. tidak ada jawaban.
“Maaf tidak bisa dihubungi Pak,”
“Coba sini aku yang menghubungi.” Kata orang itu. Dia langsung mengambil HP dari tangan Pak Dul. “Mana nomornya Somad.”
“Itu pak di dalam HP.”
“Aku udah tahu bodoh, kalau nomor itu ada dalam HPmu.” Bentak orang itu semakin jengkel. Ingin rasanya dia meremas tubuh Pak Dul menjadi sebuah gumpalan. Tangan orang itu bergerak mencari nama Somad di dalam memori HP. Hanya beberapa detik dia sudah mencoba menghubungi Somad. Tapi tidak ada jawaban.
“Dasar satpam brengsek semua.” Gerutu orang itu. “Udah kamu cepat ke rumah Somad dan suruh dia kemari.”
“Saya tidak tahu rumahnya Pak.”
“Sebetulnya yang kamu tahu itu apa sih!” kata orang itu jengkel. “Dasar satpam goblok. Kalau kupecat baru tahu rasa kamu!” Mata orang itu berkeliling.
“Hei sini kamu!” teriaknya pada seorang anak muda yang sedang membersihkan halaman. Anak muda itu segera berlari. Dalam hitungan detik dia sudah ada dihadapan lelaki itu.
“Kau tahu ini mobil siapa?”
“Maaf pak tidak saya tidak tahu.”
“Bagaimana mungkin semua orang tidak tahu ini mobil siapa.” Orang itu makin geram. “Kamu tadi dimana ketika ada orang memarkir mobil disini?”
“Saya dari tadi di sana Pak.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah ujung halaman.
“Harusnya kamu lihat kan siapa saja yang masuk halaman parkir ini.”
“Maaf pak itu bukan tugas saya.”
“Apa kalau bukan tugasmu maka kamu tidak peduli?” bentak orang itu. Keringat mulai meleleh di wajah dan tubuhnya. Bajunya yang rapi basah oleh keringat. Anak muda itu menundukkan kepalanya. Matanya menghitung jumlah lidi yang terikat menjadi sapu. Hatinya jengkel tapi dia berusaha untuk diam. Mulutnya dikunci rapat. Segala sumpah serapah ditekan dalam hati yang mendidih. Dia sadar sebagai pegawai outsourcing maka kesalahan sedikit saja bisa membuat hilangnya pekerjaan.
“Ada apa Pak?” sebuah suara cerah memecah kebekuan. Seorang gadis cantik berdiri di dekat mereka. Pakaiannya rapi. Baunya harum.
“Ini ada mobil yang parkir di tempat bos Bu” jawab orang itu sopan. Meski dia lebih tua tapi memangil “ibu” pada gadis yang lebih muda. Gadis itu menatap lelaki itu sejenak.
“Mobil siapa?” Tanyanya. Matanya yang indah dibentengi kaca mata dengan gagang agak besar.
“Itulah masalahnya Bu, Dul dan anak ini tidak tahu siapa yang memparkir mobil itu disini” jawab lelaki itu sambil mengusap peluh di dahi. Matanya yang garang tidak berani menatap gadis di hadapannya.
“Harusnya kamu bisa membina pegawai dengan lebih baik lagi, sehingga mereka tahu tanggungjawab.” Kata gadis itu dalam nada rendah tapi penuh kejengkelan. “Mosok soal parkir saja tidak mampu menyelesaikan? Bila bos datang lalu mobilnya mau diparkir dimana?”
“Ya bu saya akan usahakan membereskan masalah sebelum bos datang.” Jawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepala dengan sangat sopan.
“Bapak ini bagaimana sih.” Nada gadis itu mulai meninggi. “Ini jam berapa? Sebentar lagi bos datang! Coba pikirkan dong cara yang cepat agar mobil ini tidak lagi ada disini.” Gadis itu pun pergi meninggalkan mereka diringi tatapan penuh kejengkelan dari lelaki itu. Tangan lelaki itu menggebrak kap mobil VW kuno yang masih diam membisu. Dia merasa tersinggung ditegur di hadapan bawahannya.
“Ada apa Nan?” sebuah suara terdengar di teras kantor. Langkah gadis itu berhenti di hadapan seorang lelaki setengah tua yang sedang bergegas hendak keluar kantor.
“Itu Pak,” kata gadis itu menunjuk ke arah mobil VW. “Ada mobil terparkir di tempat parkir mobil bos.” Lelaki itu sejenak menatap 3 orang yang masih berdiri di sekitar mobil VW tanpa tahu apa yang dilakukan.
“Bagaimana mungkin ada mobil bisa parkir disitu?” tanyanya jengkel. “Apa tanda larangan parkir disana masih ada?”
“Keliatannya masih Pak.”
“Kamu ini gimana sih? Kok keliatannya.” Kata lelaki itu ketus.
“Masih ada Pak,” kata lelaki yang dekat mobil VW dengan agak keras.
“Sekarang kamu cari siapa yang memiliki mobil itu.” kata lelaki itu kepada gadis yang tertunduk di hadapannya. Lelaki itu segera bergegas pergi. “Cepat sebab sebentar lagi bos datang!” perintahnya sambil terus berjalan. Gadis itu pun segera masuk ke gedung kantor. Pikirannya bergerak cepat bagaimana menemukan pemilik mobil itu dalam waktu yang cepat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Bila sampai pemilik mobil itu tidak ditemukan sampai bos datang pasti dia akan kena damprat dari lelaki itu lagi. Tiba-tiba gadis itu berbalik ke arah tiga orang yang masih berdiri dekat mobil VW.
“Kalian cari mobil siapa saja untuk menarik mobil VW itu. Cepat!” perintahnya. Kini lelaki itu menjadi kebingungan. Dia harus mencari mobil siapa. Di dekat situ memang ada beberapa mobil parkir berderet rapi. Semua milik atasannya. Bagaimana mungkin dia akan meminjam mobil atasannya untuk menarik mobil VW ini?
“Ayo cepat cari mobil sana,” gadis itu mengulang perintahnya.
“Ya Bu,” kata lelaki itu. Dia mengeluarkan HP berusaha mencari siapa pimpinannya yang biasanya baik hati sehingga memperbolehkan mobilnya untuk menarik mobil VW ini? Beberapa detik berlalu. Tidak ada satu namapun yang memungkinkan untuk dimintai tolong. Lelaki itu menjadi semakin geram.
“Aku memintamu untuk menarik mobil ini, bukan memainkan HP.” Suara gadis itu makin keras. Dia jengkel melihat lelaki itu hanya mencari-cari nama di HP.
“Ya bu.” Keringat membasahi tubuh lelaki itu. Panasnya matahari pagi tidak mampu mengalahkan gelegak kemarahan dalam hatinya.

Sebuah mobil station wagon berwarna hitam memasuki halaman parkir. Lelaki itu hafal dengan plat mobil ini. Hatinya sedikit lega. Dia segera berjalan cepat menghampiri mobil itu dan berusaha menghentikannya.
“Ada apa?” sebuah wajah muncul di balik kaca jendela yang sudah diturunkan.
“Maaf pak apakah bapak bisa membantu saya?” tanyanya sopan.
“Membantu apa?”
“Kita sedang ada masalah Pak,”
“Masalah apa?”
“Itu lho Pak,” kata lelaki itu menunjuk ke arah VW tua. “Ada sedan butut berani parkir di tempat parkir bos.”
“Mobil siapa itu?” tanya lelaki itu dengan suara geram. “Apa dia tidak melihat tulisan di papan itu sehingga asal main parkir aja. Dasar orang goblok!” Lelaki di dekat kaca hanya diam sambil memandang penuh harap.
“Lalu kamu mau apa?”
“Menurut Bu Nan, mobil itu ditarik saja dan dipindahkan ke parkir bawah.”
“Apa kamu sudah mendorongnya?”
“Belum pak.”
“Suruh orang-orang itu mendorong.” Lelaki itu menunjuk pada pak Dul dan anak muda pembersih rumput. “Mosok hal gitu aja tidak tahu,” lelaki itu segera ke tempat pak Dul dan anak muda pembersih halaman.
“Kenapa kalian pada bengong?” tanyanya dengan nada keras. “Ayo kalian dorong.” Kedua orang itu langsung meloncat ke arah belakang mobil yang dekat tembok. Mereka berdua berusaha mendorong. Ternyata mobil itu tidak bergerak.
“Mobilnya dihandrem pak.” Kata pak Dul dengan nafas terengah-engah.
“Dasar orang goblok hanya menyusahkan orang saja.” Gerutu lelaki dalam mobil. “Udah sekarang kalian cari tali dan ikat mobil itu ke mobil ini.”
Segera pak Dul berlari ke pos satpam. Dia pernah melihat ada tali tergeletak di sana. Semoga saja tali itu masih belum dijual oleh temannya. Dalam waktu sekejap pak Dul sudah berlari kembali ke arah mobil VW dengan tali ditangannya. Dia segera jongkok di belakang mobil station wagon dan mencari tempat untuk mengikatkan talinya.
“Hati-hati jangan sampai mobilku beset.” Teriak lelaki dari dalam mobil. Pak Dul sangat berhati-hati mengikat tali di bawah mobil station wagon yang katanya harganya hampir satu milyard ini. Pemuda pembersih halaman mengikatkan ujung tali yang lain ke bawah bemper mobil VW tua. Setelah berkutat beberapa menit semua beres. Lelaki dalam mobil station wagon mulai menjalankan mobilnya. Dia menginjak gas agak keras agar ada kekuatan untuk menarik mobil itu. Perlahan mobil VW itu bergerak.
“Hai kalian tahan mobil butut itu agar tidak menabrak mobilku.” Teriakknya memberi perintah kepada siapa saja yang ada di situ. Bergegas semua orang berusaha mengatur kecepatan mobil VW itu agar tidak menabrak mobil station wagon.

“Hai mau dibawa kemana mobil itu?” teriak seseorang dari teras.
“Mau diparkir disana Bu,” kata lelaki yang mobilnya digunakan untuk menarik VW
“Kenapa?” tanya perempuan itu dengan wajah pucat. Di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan tampang kucel melihat semua itu dengan mata terheran-heran.
“Salah parkir Bu,” jawab lelaki itu sopan meski yang dihadapinya jauh lebih muda darinya. Tapi perempuan itu adalah sekretaris dan orang kepercayaan bos.
“Kamu ini gimana sih.” Kata perempuan itu, “Ayo cepat kembalikan kesana.” Katanya sambil menunjuk ke arah tempat parkir semula.

Mendengar itu semua orang menjadi heran. Mereka bingung. Lelaki dalam mobil station wagon segera menginjak rem. Tapi mobil VW tetap menggelinding perlahan mengarah ke mobilnya. Pak Dul dan anak muda itu berusaha menghentikan. Tiba-tiba terdengar suara brak. VW itu menabrak station wagon meski tidak keras.

“Aduh gimana sih kalian ini.” Kata perempuan itu. Dia setengah berlari menuju ke arah VW yang sudah berhenti. Dia segera meneliti apakah ada kerusakan atau tidak di VW itu. Jemarinya yang lentik dan terawat mengelus kap VW untuk merasakan apakah ada yang penyok atau tidak.
“Ayo sekarang kembalikan ke tempatnya.” Suaranya rendah tapi penuh tekanan dalam setiap kata yang keluar dari bibirnya yang bergincu merah darah. Semua orang saling menatap penuh kebingungan.
“Cepat! Tunggu apa lagi?” perintahnya. Matanya melotot kepada semua orang.

Tiba-tiba anak muda yang keluar kantor bersamanya berjalan ke arah VW itu. Tubuhnya yang atletis dibungkus kaos yang tak layak di kantor ini. Dari saku celananya jeans yang agak lusuh dia mengeluarkan sebuah kunci kontak. Wajahnya tampak tidak senang. Dia membuka pintu VW itu dan duduk di belakang kemudi.

“Pak Dul, kamu lepas talinya. Cepat!” bisik perempuan itu. Pak Dul segera menguraikan ikatan tali yang mengikat VW. Dalam hitungan detik tali sudah terlepas.

“Maaf ya Frans,” kata perempuan itu sambil membungkuk hormat pada pemuda yang sudah duduk dibalik kemudi. Pemuda itu hanya tersenyum kecut. Perempuan itu lalu berdiri tegak. Pandangannya mengarah kesemua orang yang berdiri bengong disana. “Frans adalah putra Pak Sudikarma yang akan menggantikan beliau di kantor ini.”

Perkataan itu bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul dari balik VW. Wajah semua orang menjadi pucat. Lelaki yang pertama mengetahui ada VW di parkiran bos segera datang ke arah jendela VW. Sebuah senyum ramah tersungging di bibirnya. Gadis yang sejak tadi hanya berdiri melihat pun bergegas mengikutinya di belakang.
“Maaf pak saya tidak tahu kalau ini mobil bapak,” kata lelaki itu dengan suara sangat ramah. Tangannya menepuk-nepuk body mobil dengan penuh kasih sayang. “VW macam ini sudah sangat jarang,” katanya memuji. “Ini tipe apa Pak?” tanyanya sopan.
“Karmann Ghia type 34.” Jawab pemuda itu acuh.
“Wah mobil antik.” Kata lelaki pemilik station wagon yang juga sudah berdiri di dekat mobil VW yang kini tampak menjadi sangat indah dan mahal. Tanganya mengelus-elus mobil itu. Pak Dul dan anak muda itu menjadi bingung. Kenapa semua orang sekarang menjadi ramah? Lelaki pemilik station wagon mengusap bemper mobil VW dengan kemeja panjangnya yang baru saja keluar dari binatu. Dia tidak ingin ada sisa cat di bemper itu.
“Sudah tidak perlu repot pak,” kata pemuda itu melihat bagaimana bapak itu berusah membersihkan sisa cat mobilnya yang menempel di bemper VW.
“Ah tidak apa-apa kok pak,” katanya diiringi tawa renyah seperti baru saja mendapat kabar kalau jabatannya naik. Mereka kini berdiri tegak di dekat mobil VW dengan wajah berseri. Senyum lebar dan cerah menebar kemana-mana. Pak Dul dan anak muda itu hanya menatap heran. Keringat di wajah mereka mengucur membasahi kulitnya yang berminyak. Mulut mereka ternganga menatap sandiwara satu babak. Sial! Kata pak Dul dalam hati.

1 komentar: