Minggu, 20 September 2009

JANJI

Kami duduk di bangku kecil dalam naungan kerindangan pohon trembesi. Kulihat wajah ketiga temanku sedang tampak bingung. Mereka menceritakan situasi yang membuat tidak nyaman. Beberapa waktu lalu ada orang yang mewakili sebuah perkumpulan datang kepada mereka. Dia mengatakan akan membagi sembako. Maka teman-teman diminta untuk mendata warga yang kekurangan. Teman-teman segera bergerak dan mencatat nama dan alamat warga yang sangat membutuhkan. Setelah data terkumpul, ternyata hal itu dianggap belum cukup. Data itu harus dilampiri oleh fotocopy KTP dan KSK. Padahal banyak kaum miskin di kota tidak mempunyai KTP dan KSK. Lalu orang itu mengadakan survey dengan datang dan melihat warga yang miskin. Setelah semua selesai ternyata pembagian sembako dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Ketika hal itu dipertanyakan maka hasilnya hanya kemarahan dari orang yang semula akan memberi. Maka teman-teman menjadi kebingungan. Bagaimana menghadapi warga yang sangat membutuhkan menjelang lebaran seperti ini.

Kisah janji yang diingkari seperti ini sudah sering aku dengar baik dalam skala kecil seperti yang dialami teman-teman maupun dalam skala besar seperti para kurban lumpur Lapindo. Orang dengan mudah mengumbar janji tapi kenyataannya tidak ada realisasinya. Padahal sering kali janji itu sudah dipublikasikan besar-besaran. Di koran dan TV dikatakan bahwa para kurban lumpur Lapindo akan segera mendapat ganti rugi sebesar 20% lalu 80%. Tapi janji itu diingkari. Bahkan meski sudah ditulis dalam akta notaris yang mempunyai kekuatan hukum. Apalagi hanya sekedar omongan tanpa bukti tertulis dari notaris seperti kali ini. Rakyat miskin sering dipermainkan oleh janji.

Orang mudah sekali mengatakan janji. Yesus mengajarkan “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Bila orang konsekwen dengan apa yang dikatakan maka tidak perlu ada sumpah yaitu janji yang melibatkan Allah sebagai saksi. Tapi oleh karena orang mudah mengingkari janjinya, maka dalam hal penting orang melibatkan Allah dalam perjanjian yang dibuatnya. Namun pada jaman ini sumpahpun mudah tetap dilanggar. Sebelum menduduki jabatan orang bersumpah akan melindungi rakyat, tapi setelah menduduki jabatannya dia menindas rakyat. Bagi Yesus selebihnya itu berasal dari si jahat. Semua pengingkaran perkataan berasal dari si jahat yaitu keinginan dan ambisi pribadi yang tersembunyi di balik janji dan sumpahnya.

Orang mengingkari janji sebab tidak menghargai sesamanya. Orang janji datang jam 7 tapi karena dia kurang menghargai sesamanya maka dia dapat datang sesukanya. Dia merasa dibutuhkan atau penting sehingga dapat berlaku sesuka hatinya. Apapun yang terjadi dia yakin tetap akan dibutuhkan dan tidak ada orang yang berani menentangnya. Karena dia merasa penting maka dia mudah mengecilkan sebuah janji. Bagi orang yang mampu beras 5 kg bukanlah hal yang besar sebaliknya bagi masyarakat miskin hal itu sangat besar. Oleh karena merasa bahwa beras 5 kg adalah hal kecil, maka dia dengan mudah melupakan janjinya. Sebaliknya kaum miskin merasa dikecewakan.

Orang dapat dinilai dari perkataannya. “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (Ams 17:28). Menurut penulis Amsal, lebih baik orang bodoh tidak berbicara agar tidak tampak kebodohannya. Janji terkait dengan kepercayaan. Bila orang mengingkari janjinya maka dia akan dinilai sebagai orang yang tidak dapat dipercaya. Dinilai rendah oleh orang lain. Oleh karena itu perlu hati-hati bila akan membuat janji. Orang harus mengukur kekuatan dirinya sendiri sebelum membuat janji agar dia tetap dihargai oleh sesamanya sebab mampu mewujudkan apa yang telah dijanjikan.

Teman-teman bertanya padaku apa yang harus dilakukan? Sambil menghela nafas prihatin kuhubungi beberapa orang apakah mereka dapat memberi beras. Bagiku besok pagi orang yang telah menerima janji harus menerima beras entah bagaimana caranya.

0 komentar:

Posting Komentar