Jumat, 12 Agustus 2011

TUHAN, MAAF AKU TELAH MENGKHIANATI ENGKAU


Aku berlutut di bangku panjang. Hanya aku sendirian dalam ruang yang sangat luas dan mampu menampung 800 orang. Suasana hening sesekali dipecahkan oleh suara motor yang melintas di jalan depan gedung gereja. Semua lampu padam. Hanya ada cahaya merah kecil dari lampu dekat tabernakel dan beberapa lilin yang bernyala di depan patung St. Maria. Hatiku gundah. Air mataku menetes perlahan. Aku ingin mulai berdoa tapi tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Tuhan.

“Tuhan aku telah mengkhianati Engkau,” kataku lirih seperti angin yang berlalu. Kutatap salib yang tergantung di atas tabernakel. Dalam keremangan tampak wajah Yesus yang teduh. Dia seakan menatapku. Aku menundukkan kepala. Tidak mampu menatap wajahNya yang penuh luka. Mahkota duri di kepalanya. Paku-paku yang menancap di lengan dan kakiNya. Luka di lambung yang menganga. Pada Jumat Agung aku sering merasa sedih melihat penderitaan Yesus. Kini aku telah menambah penderitaanNya.

“Tuhan maaf aku telah mengkhianati Engkau,” hanya itu doa yang dapat keluar dari lubuk hatiku yang terdalam. Sudah beberapa lama aku mengalami konflik antara kepentingan diriku dan iman. Aku salah satu dari beberapa orang Katolik yang bekerja di sebuah instansi. Teman-teman seangkatanku sudah menduduki posisi yang penting dengan gaji dan fasilitas yang cukup. Bahkan pegawai yang masuk belakangan pun beberapa sudah mendapatkan posisi yang lebih tinggi dariku. Karirku seolah berhenti sampai posisi ini. Bukan aku bodoh atau sering melanggar. Satu-satunya ganjalan yang menghambat karirku adalah karena aku seorang Katolik.

“Tuhan maaf aku telah mengkhianati Engkau,” Apakah aku harus mempertahankan imanku sedangkan anak-anakku sudah semakin besar dan membutuhkan banyak biaya. Gajiku pada posisi ini tidak akan cukup untuk menunjang kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat. Apakah aku harus korupsi seperti beberapa orang yang diberitakan media? Aku tidak ingin keluargaku makan uang hasil curian. Aku berusaha mempertahankan imanku tapi kenyataan menuntut lain. Berulang kali aku mengalami kesulitan keuangan yang begitu berat sedangkan Engkau diam. Engkau hanya menatapku seperti saat ini.

“Tuhan maaf aku telah mengkhianati Engkau.” Aku sudah mengikutiMu selama ini. Pada saat masih muda aku termasuk penggerak kaum muda. Aku aktif terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja. Aku tidak lupa akan semangat yang berkobar dalam hatiku saat itu. Gereja bukanlah tempat asing bagiku. Aku dekat dengan beberapa romo bahkan istriku pun yang mencarikan adalah seorang romo. Aku ingat semua kebaikan yang telah Engkau berikan padaku. Segala berkahMu yang terwujud dalam rumah tanggaku yang tenang dan anak-anak yang membanggakan. Aku ingat dan tahu semua anugerahMu. Tapi sekali lagi Tuhan, sampai kapan aku harus berhenti pada posisi ini hanya karena aku adalah pengikutMu? Aku sudah berusaha bertahan ketika teman-teman dekatku menyarankan agar aku meninggalkanMu dan berganti pada iman yang lain. Aku berusaha bertahan. Tapi akhirnya tembok pertahananku akhirnya runtuh. Realita dan tuntutan hidup membuatku memutuskan bahwa aku akan meninggalkan Engkau apapun resiko yang harus kutanggung. Teman-teman Mudika dulu pasti kecewa dan mungkin mencibirku. Aku tidak akan berani menemui mereka apalagi menemui romo yang dulu sangat dekat padaku dan banyak membimbingku. Maka aku datang padaMu di malam ini. Saat rumahMu sudah sepi.

“Tuhan maaf aku telah mengkhianati Engkau,”. Engkau memang bersabda bahwa barang siapa mengikuti Engkau, maka dia harus memanggul salibnya setiap saat dan mengikuti Engkau. Aku tidak mampu memanggul salib. Aku gagal menjadi pengikutMu. Aku menjadi Yudas yang menjual Engkau demi kepentinganku. Aku bangkit dari kursi kayu dan dengan langkah berat meninggalkan wajah Yesus yang terus menatapku dengan teduh. Wajah yang penuh luka dan tergantung di kayu salib.

1 komentar: