Selasa, 09 Agustus 2011

YESUS ALA McDONALD


Bagi kita orang yang hidup di kota besar tidak asing lagi dengan McDonald, sebuah warung makan cepat saji yang tersebar di berbagai negara. Bagi orang yang tinggal di desa atau kota kecil mungkin hanya melihat iklan McDonald dari TV saja. Disini aku bukan hendak mempromosikan McDonald tapi hendak melihat Gereja dengan budaya McDonald. Sebetulnya ada banyak warung cepat saji semacam McDonald di negara kita, tapi aku menggunakan McDonald sebab warung ini lebih terkenal dan mewabah dimana-mana. Selain itu ada budaya baru yang ditawarkan oleh McDonald yang diadaptasi oleh Gereja saat ini. Budaya ini sebetulnya budaya jaman ini dan dapat dilihat dalam cara warung itu menjalankan usahanya.

Ciri khas budaya McDonald adalah satu untuk semua. Dengan membeli satu burger, maka kita akan memperoleh roti, sayur, daging dan kentang. Seperti kalau kita makan dalam satu piring. Budaya saat ini juga menyodorkan satu untuk semua. Bila kita masuk supermarket, maka kita bisa belanja semua keperluan hidup. Kedua, orang tidak perlu menunggu lama bahkan tidak perlu untuk turun dari mobil bila membeli Mc Donald sebab ada sistem pelayanan drive through. Ketiga, McDonald menawarkan gengsi. Makan di McDonald dianggap bergensi. Keempat, McDonald menawarkan keceriaan. Patung McDonald yang duduk dekat pintu dibuat seperti badut yang menggambarkan kegembiraan. Kelima, McDonald menawarkan budaya instant, yang cepat dan lengkap.

Budaya yang ditawarkan oleh McDonald juga merasuk dalam Gereja. Banyak orang mencari gereja yang dapat memberikan jaminan keselamatan rohani dan sekaligus mendapat kepuasan jiwanya. Maka para pemimpin Gereja berupaya dengan berbagai cara untuk meyakinkan bahwa umat yang hadir akan mendapatkan keselamatan pada akhir jaman nanti dan kelegaan pada saat ini. Untuk itu suasana gereja dibuat seceria mungkin dengan musik yang gembira dan suasana yang nyaman. Gedung gereja dibangun semodern mungkin agar tampak bergengsi. Kotbah penuh janji akan kebahagiaan surga dan dunia. Bahkan tanpa malu lagi orang mulai menafsirkan ajaran Yesus dalam konteks harta benda. Bila orang memberi uang maka dia akan memperoleh beratus-ratus kali lipat. Sabda Yesus bahwa kita adalah anak Allah diartikan sebagai orang yang sukses dan kaya, sebab Allah adalah raja yang kaya raya dan memberikan apa saja kepada orang yang memohon padanya. Orang pun tidak perlu susah payah untuk memperoleh keselamatan. Seperti McDonald yang membangun budaya instant, kini keselamatan pun menjadi instan. Seolah dengan sekali doa dan berbuat baik maka orang akan diselamatkan. Bahkan orang tidak perlu bersusah payah, sebab dia sudah ditentukan oleh Allah untuk selamat.

Sebetulnya ajaran ini berbeda bahkan berlawanan dengan ajaran Yesus. Bagi Yesus keselamatan bukanlah hal yang mudah diraih. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Mat 7:13-14). Kita harus berjuang untuk memperoleh keselamatan itu. Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih apakah dia mau mengikuti Yesus atau menolakNya. Dia memang menentukan siapa yang akan dipanggilNya. Tapi panggilan bukan berarti secara otomatis akan masuk surga. Yudas Iskariot dipilih oleh Yesus tapi dalam perjalanan waktu dia diberi kebebasan untuk terus mengikutiNya atau mengkhianatiNya. Tidak ada otomatisasi. Mengikuti Yesus berarti berani menanggung penderitaan. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat 10:38), sebab dia harus melepaskan segala yang ada padanya. Anak muda yang kaya karena tidak berani melepaskan hartanya maka dia tidak jadi mengikuti Yesus.

Tapi karena budaya McDonald sudah merasuk dalam masyarakat maka ajaran Yesus pun dipelintir disesuaikan dengan budaya saat ini. Orang pun senang mengikuti Yesus ala McDonald daripada Yesus yang sesungguhnya. Disinilah tantangan Gereja saat ini bagaimana mewartakan ajaran Yesus yang sesungguhnya.

1 komentar: