Jumat, 14 Agustus 2009

GEREJA YANG BERJUANG

Tulisan sebelumku yang berjudul “Yesus Kaum Kiri” ternyata menimbulkan pertanyaan bagi seseorang. Baginya Yesus itu penyelamat manusia dari dosa bukan soal kiri atau kanan. Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Apa yang dikatakan memang benar bahwa Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis misalnya mendukung satu partai politik atau seorang imam mencalonkan menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Tapi bukan berarti Gereja melepaskan diri dari masalah kemanusiaan. Gereja tidak hanya berbicara soal Kerajaan Allah ketika sudah kebangkitan nanti. Gereja harus menempatkan diri dan menunjukkan perannya sesuai dengan posisinya.

Beberapa tahun lalu Gereja dihebohkan oleh teologi pembebasan yang muncul di Amerika Selatan yang menimbulkan pro dan kontra. Francis Wahono Nitiprawiro dalam bukunya yang berjudul “Teologi Pembebasan” menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaan antara teologi pembebasan dengan Marxisme. Teologi pembebasan adalah upaya Gereja untuk menjalankan salah satu tugasnya yaitu kenabian. Dalam situasi masyarakat yang tidak adil dimana banyak rakyat dimiskinkan dan ditindas, maka Gereja tidak boleh diam. Gereja harus terlibat dalam masalah dunia seperti harapan Konsili Vatikan II yang tertuang dalam konstitusi dogmatik Gaudium et Spes. Gereja tidak boleh menjadi getho atau menikmati kenyamanan menara gading. Dalam hal inilah sering kali Gereja lupa atau berusaha menikmati kemampanan kaum kanan atau tidak mau repot. Keterlibatan dalam perjuangan kaum miskin membutuhkan banyak energi bahkan kesiapan untuk memberikan nyawanya seperti uskup Oscar Romero (1917-1980) yang dibunuh karena menyuarakan kenabian di El Salvador. Sering kali perjuangan seperti para tokoh teologi pembebasan ini dicap sebagai orang kiri.

Edicio de la Torre seorang teolog dari Philipina membedakan orang yang berjuang. Ada orang yang menderita tapi tidak berjuang. Ada orang yang menderita maka berjuang. Ada orang yang berjuang maka menderita. Yesus adalah orang yang berjuang maka menderita. Dia berjuang untuk membangun sebuah dunia baru. Dunia ini dinikmati mulai saat ini. Kerajaan Allah sudah datang. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Mat 12:28). Kehadiran Kerajaan Allah merupakan hadirnya tatanan baru dalam masyarakat. Siapa saja yang ingin masuk dalam tatanan baru ini harus mengubah dirinya secara total. Gaya hidup, pemikiran, pandangan hidup dan budaya lama tidak bisa dicampur dengan tatanan baru ini. Dalam kotbah di bukit Yesus mengkonfrontasikan antara tata kehidupan baru dengan tata kehidupan lama. Hukum utama adalah kasih. Kasih pada Allah yang semula hanya dipusatkan pada doa dan liturgi diubah menjadi kasih nyata kepada sesama. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,” (Mat 9:13). Terbuka bagi siapa saja dan bukan milik satu kelompok saja.

Kerajaan Allah adalah situasi hidup yang nyata, menyejarah pada saat ini dan disini. Bukan sebuah utopia atau situasi setelah kematian saja. Pembebasan yang dilakukan oleh Yesus bukan melulu diakhir jaman, tapi dimulai ketika Dia ada di dunia. Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan dan sebagainya. Yesus membangun Kerajaan Allah secara nyata dan kongkrit yang dapat dirasakan oleh manusia hidup. Yesus membangun Kerajaan Allah mulai dari komunitas kecil yang diharapkan akan bertumbuh dan berjuang untuk membangun sebuah tatanan baru dalam masyarakat.

Syarat untuk pembangunan Kerajaan Allah adalah pertobatan yang mampu mengubah situasi dan kondisi kehidupan. Maka dalam Kerajaan Allah keselamatan bukan menjadi urusan perorangan melainkan komunitas. Aku dapat masuk surga bila menyelamatkan sesama. Orang diselamatkan bila dia memberi makan orang yang lapar (Mat 25:31-46). Inilah pertobatan yaitu bukan sekedar mengakui dosanya, melainkan kembali kepada hukum kasih. Dosa adalah penyebab rusaknya hukum kasih. Maka orang bertobat bila dia mengembalikan apa yang sudah dirampasnya. Tidak mempunyai dendam dan kebencian, sehingga mampu mencintai musuh. Tidak terbelenggu SARA, seperti orang Samaria yang menolong orang Yahudi. Pemimpin adalah orang yang melayani bahkan rela memberikan nyawanya demi keselamatan pengikutnya. Maka Kerajaan Allah bergerak untuk mengubah masyarakat secara total menuju situasi hidup yang adil, bersatu dan damai sejahtera.

Namun Yesus menyadari bahwa Kerajaan Allah yang dibangunNya tidak luput dari para pengkhianat yang mencoba membelokkannya. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” (Mat 11:12). Munculnya mesianis-mesianis yang mengatasnamakan Yesus memberikan janji kebahagiaan setelah meninggal. Mereka tidak peduli dengan penderitaan dunia, sebab hal yang penting adalah kebahagiaan di surga setelah mati. Orang miskin diajak untuk berdoa dan diberi janji kebahagiaan surga. Yesus tidak menyepelekan kehidupan doa. Dia berdoa secara khusus. Tapi Dia mengubah situasi kemiskinan yang menyebabkan manusia tidak dihargai martabatnya menjadi dihargai martabatnya. Mesianis palsu mengajak orang untuk tidak mempermasalahkan situasi dan kondisi hidupnya di dunia dan memberi janji kebahagiaan surga setelah mati.

Yesus bukan praktisi politik seperti para mesianis dunia. Para calon presiden ketika masa kampanye semua menjanjikan kehidupan yang lebih baik agar rakyat memilihnya. Rakyat hanya menjadi obyek bagi pencapaian kedudukan yang diinginkan. Seorang caleg DPRD di Surabaya memberi janji kepada warga pinggir kali kalau dia menjadi anggota dewan maka para penghuni pinggir kali tidak akan digusur. Tapi begitu terjadi penggusuran maka dia tidak muncul. Dia tidak berani merealisasikan janjinya. Yesus tidak membius rakyat dengan janji kehidupan yang adil sejahtera. Rakyat bukanlah obyek untuk mencapai kedudukan. Yesus mengajarkan agar semua orang bertobat. Berubah kembali ke hakekatnya sebagai citra Allah. Hidup bersatu dengan Allah yang adalah kasih, sehingga hidupnya merupakan pacaran kasih Allah bagi sesama.

Gereja adalah kelanjutan dari Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus. Dengan demikian Gereja adalah agen perubahan masyarakat. Gereja menjadi garam yang mempengaruhi masyarakat agar bertobat sehingga dapat mencapai kehidupan yang damai sejahtera. Gereja adalah terang yang memberikan gambaran kehidupan adil sejahtera itu seperti apa. Gereja adalah komunitas orang yang terus menerus berjuang membangun perubahan dalam masyarakat sehingga tercapai kehidupan adil, bersatu dan damai sejahtera. Di negara kita masih banyak terjadi ketidakadilan dan kesewang-wenangan seperti kasus Lapindo. Bila Gereja masih merasa dirinya adalah penerus Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus apakah yang akan dilakukan? Apakah diam saja dan memusatkan diri pada liturgi dan doa-doa atau mulai menyuarakan suara kenabian meski harus menderita? Apakah Gereja akan mengejar kemapanan sehingga melupakan tugas perutusannya di dunia yaitu membuat dunia yang lebih baik?

0 komentar:

Posting Komentar