Jumat, 07 Agustus 2009

PERBUATAN BAIK

Seorang datang padaku dan menceritakan bahwa dia telah lama memberi makan pada orang miskin. Menurutnya setiap dua minggu sekali dia membuat nasi bungkus dan dibagikan pada orang miskin. Dia bangga menceritakan pengalamannya berbelas kasih pada kaum miskin. Aku tanya sudah berapa lama dia melakukan itu. Dia menjawab sudah hampir dua tahun secara rutin. Semua itu dia lakukan sendiri, sebab menurutnya sulit sekali mengajak teman untuk melakukan hal itu. Dia pun merasa bahwa hal itu tidak perlu dikatakan pada banyak orang, sebab bila tangan kanan memberi jangan sampai tangan kiri mengetahuinya.

Sebetulnya banyak orang melakukan seperti orang itu. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai rasa belas kasihan pada sesamanya yang menderita dan rendah hati sehingga memberi secara tersembunyi. Mereka tidak ingin popularitas dan dikenal oleh orang lain. Satu alasan ketersembunyian adalah takut dicap sebagai kristenisasi. Apakah Yesus menghendaki agar kita melakukan perbuatan baik secara tersembunyi? Ternyata tidak. Dia bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:16). Yesus menghendaki agar orang melihat perbuatan baik kita agar mereka memuliakan Allah di surga.

Dalam hal ini Yesus tidak mengajarkan kesombongan. Memang bila ayat itu dipotong dan berhenti sampai “melihat perbuatan baik”, saja maka berarti itu kesombongan. Tetapi melanjutkan dengan tujuan dari perbuatan baik itu yaitu agar manusia memuji Tuhan. Setiap perbuatan baik yang kita lakukan bertujuan agar manusia merasakan belas kasih Allah secara nyata. Kita adalah alat Tuhan untuk menunjukkan belas kasihNya pada manusia seperti Yesus dipakai oleh Tuhan untuk menunjukkan belas kasihNya. Hal yang kurang baik ialah bila tujuan itu berhenti kepada diri kita sendiri, sehingga orang akan memuji kita sebagai orang baik. Beberapa kali Yesus menyingkir agar orang tidak memusatkan perhatian pada DiriNya setelah melihat perbuatan baikNya. “Waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk 1:37-38) Demikian pula ketika orang ingin mengangkatNya menjadi raja setelah Yesus menggandakan roti (Yoh 6:15).

Ibu Teresa dari Kalkuta mengatakan bahwa kita adalah cerminan kasih Allah. Bagaikan sebuah cermin yang dapat memantulkan bayangan kita, maka perbuatan baik membuat orang melihat dirinya sendiri. Sejauh mana dia juga telah berbuat baik pada sesamanya Bukan hanya ingin menerima kebaikan orang saja. Memang banyak orang hanya ingin menerima kebaikan dan enggan berbuat baik bagi sesamanya. Maka dalam berbuat baik kita pun mengajarkan agar orang mau melakukan hal yang sama. Perbuatan baik kita membantu orang untuk merefleksi dirinya agar sadar bahwa dia pun sesungguhnya mempunyai sesuatu yang dapat diberikan pada sesamanya. Seperti Yesus mencuci kaki para murid maka Dia pun mengharap muridNya melakukan hal yang sama. “sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasih.” (Yoh 13:34). Hal inilah yang sering kali kurang diperhatikan, sebab orang cenderung senang bila telah melakukan hal yang baik namun lupa mendidik orang lain untuk berbuat baik.

Penderitaan tidak pernah akan ada habisnya dan menimpa banyak orang. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus terlibat sesuai dengan batas kemampuan kita. Tapi kita juga harus mengajak dan menjadi teladan bagi sesama. Setiap orang pasti mempunyai kekuatan. Seorang yang tidak punya uang dia masih mempunyai tenaga yang dapat diberikan kepada sesama. Orang tidak punya tenaga dia pun dapat memberikan doa-doanya bagi orang sesamanya. Semakin banyak orang terlibat dalam penderitaan sesama semakin banyak orang yang dapat dibantu. Sebuah perubahan dimulai dari diri kita terlebih dahulu baru kemudian mengajak orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar