Rabu, 19 Agustus 2009

YESUS SANG REVOLUSIONER

Revolusi adalah perubahan sosial budaya yang cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Sistem masyarakat yang lama dibongkar secara radikal (seakar-akarnya) dan dibangun budaya, ideologi, dasar-dasar hukum, ekonomi yang baru demi tercapainya sebuah perbaikan. Sebuah revolusi dapat mengakibatkan pertumpahan darah, sebab muncul pertentangan antar kelas dan kelompok. Tapi tidak semua revolusi menumpahkan darah. Sebuah revolusi dapat berdampak luas, sehingga mempengaruhi banyak orang dalam aneka jaman namun juga dapat hanya berdampak di suatu tempat saja dan dalam waktu tertentu saja.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang filsuf Perancis menulis artikel berjudul “Sang Revolusioner”. Menurut Sartre “sang Revolusioner” adalah orang yang lahir dari rakyat tertindas. Memang tidak semua kaum tertindas akan menjadi revolusioner, sebab mereka mengharapkan dapat menikmati apa yang dinikmati oleh kelas menengah. Bagi saya mereka tidak bergerak mungkin dikooptasi oleh kelas menengah atau mereka pesimis dan pasrah akan hidupnya. Banyak orang menganut fatalisme, pasrah pada nasib. Seorang revolusioner berjuang demi transformasi radikal atas eksistensi dirinya. Mungkin dia sadar bahwa dia tidak mampu mengubah seluruhnya seketika, namun dia berjuang untuk menciptakan tahap yang mendasar untuk mencapai masyarakat yang adil sejahtera. Dia tidak bergerak sendiri melainkan membangun solidaritas. Solidaritas hanya tercapai bila masyarakat tanpa kelas. Sartre mengkritik orang yang dianggap “pribumi”, sebutan bagi penduduk yang terjajah. “Pribumi” adalah orang yang tidak mampu menunjukkan eksistensinya. Dia adalah kaum miskin yang tidak peduli akan eksistensinya. Orang yang hidup hanya menjalankan kehidupannya. Dia tidak punya tujuan hidup, segalanya dijalankan karena memang harus menjalankan. Seperti buruh yang hidup hanya untuk bekerja bukan untuk tahap memiliki modal usaha atau kapital.

Membaca tulisan Sartre, maka saya berusaha melihat apakah Yesus termasuk sang revolusioner? Pada jaman Yesus ada kelas-kelas dalam masyarakat Yahudi. Ada Saduki orang yang mengurus keuangan Bait Allah. Ada imam yang melakukan persembahan. Untuk jadi imam butuh restu dari orang Romawi dan mereka juga harus memberi upeti. Ada Farisi dan ahli Kitab. Selain itu masih ada orang-orang yang diangkat oleh penjajah Romawi sebagai pegawai pemerintahan dan penguasa Romawi sendiri. Yesus ada dalam pihak kaum miskin yang sering ditindas.

Yesus bukan datang untuk memberontak dan mengusir penjajah. Dia membangun suatu masyarakat baru yang tanpa kelas. Semua adalah saudara baik Yahudi maupun non Yahudi yang diwakili oleh orang Samaria. Dia menghargai perempuan dan anak-anak. Masyakarat tanpa kelas ini mendasarkan diri pada hukum kasih. Inilah sebuah perubahan radikal. Bila Yesus berontak maka suatu saat akan terjadi pemberontakan lagi. Kudeta akan menimbulkan kudeta baru. Keputusan Yesus untuk membangun masyarakat baru tanpa melakukan pemberontakan tampaknya kurang dipahami oleh murid muridNya. Mereka ingin menjadikan Yesus raja yang artinya membangun kekuatan politis tandingan. Mereka telah siap untuk melakukan pemberontakan, maka Petrus membawa pedang. Dia adalah nelayan dan tampak janggal ketika membawa pedang dan siap melawan para tentara yang berusaha menangkap Yesus.

Dalam membangun masyarakat baru Yesus melihat jauh ke depan. Komunitas yang baru dibentukNya adalah cikal bakal dari dunia baru. Dunia yang damai sejahtera dan adil seperti gambaran Yesaya dimana pemangsa dan yang siap dimangsa dapat hidup berdampingan secara rukun (Yes 11:6-10). Bagaimana dengan Gereja saat ini? Apakah tetap memposisikan diri pada kaum miskin untuk membangun masyarakat baru? Ataukah masyarakat baru menjadi sebuah utopia yang tidak menyejarah? Ataukah Gereja sudah menikmati kemampanan sebuah kelas tertentu sehingga lupa akan tugas dan perannya seperti yang dikehendaki Yesus? Apakah Gereja masih terus melakukan revolusi yaitu melakukan transformasi radikal akan budaya dalam masyarakat?

0 komentar:

Posting Komentar