Senin, 10 Agustus 2009

SATYAGRAHA

Dalam tulisan tentang “Kekerasan” aku mengatakan bahwa kekerasan tidak terkait dengan keberanian. Bahkan tindakan semacam bom bunuh diri adalah suatu tindakan pengecut dari orang yang sakit jiwa. Bagiku seorang pemberani adalah orang yang mendasarkan hidupnya pada hukum yang paling tinggi di dunia yaitu hukum kasih. Hal ini memang dapat dilihat agak aneh. Tidak masuk akal, sebab kasih dianggap sebagai kelemahan atau cara untuk menghindari konflik. Orang yang hidupnya penuh kasih, dia akan menghindari kemarahan dan kekerasan. Dia berusaha mencari jalan dalam setiap masalah dengan mengutamakan kasih dan perdamaian.

Mahatma Gandhi (1869-1948) bapa bangsa India mewariskan dua ajaran besar yaitu ahimsa dan satyagraha. Secara sederhana ahimsa diartikan sebagai semangat untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan kekerasan demi tercapai kesejahteraan umum dan perdamaian. Secara positip ahimsa adalah kasih besar yang memberikan pengampunan, menunjukkan kesabaran, kebesaran jiwa dan kemurahhatian. Sedang satyagraha diartikan sebagai pencarian kebenaran atau hidup berpegang teguh pada Allah dan mengabdikan diri sepenuhnya pada Allah untuk mencapai kebenaran.

Dasar satyagraha ada 3 yaitu kemurnian, kemiskinan dan ketidaktakutan. Kemurnian adalah kemurnian intensi dalam melakukan tindakan. Dalam melakukan segala sesuatu dia tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi. Dia jujur seperti dalam Injil, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jaha” (Mat 5:37). Kemiskinan bukan berarti tidak punya uang melainkan tidak serakah, ingin menguasai banyak hal. Kemiskinan berarti juga pengosongan diri sampai titik nol seperti dalam Flp 2:5-8. Keberanian adalah kekuatan untuk melepaskan segala yang dimiliki bahkan nyawanya sendiri. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Ketiganya merupakan semangat ahimsa. Dengan demikian untuk menjadi seorang satyagrahi (pelaku satyagraha) dia mendasarkan diri pada semangat ahimsa, semangat kasih yang mengampuni, rela berkurban bukan hanya fisik tapi juga dikecewakan dan disakiti hatinya dan semangat untuk mengampuni.

Ajaran Gandhi mengenai satyagraha diikuti oleh para pejuang anti kekerasan seperti Martin Luther King dan Nelson Mandela. Sebetulnya ajaran ini bukan hanya ditujukan untuk perjuangan tanpa kekerasan melainkan sebagai dasar kehidupan sehari-hari. Seorang satyagrahi bersenjatakan cinta maka dia menolak kekerasan yang dapat mengakibatkan perpecahan. Bila ada orang yang bersalah, maka dia tidak menghukum melainkan memberikan penyadaran agar orang itu mau bertobat. St Paulus menulis, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Rm 12:21). Hal ini bukan berarti membiarkan orang berdosa. Bila ada orang berbuat salah maka kita harus menegur meski mungkin kita akan dipukuli sampai mati. Tetapi bukan berarti kita boleh memaksakan kehendak kita kepada setiap orang, sebab hal itu dapat menyebabkan perpecahan. Dengan demikian seorang satyagrahi adalah orang yang menolak kejahatan tanpa kekerasan melainkan mempertobatkan.

Gandhi dipengaruhi ajaran Yesus terutama “Kotbah di Bukit”. Dia mengagumi Yesus tapi menolak orang Kristen, sebab mereka tidak mampu menjalankan apa yang diajarkan oleh Yesus. Yesus adalah seorang satyagrahi. Dia berani menderita demi membela dan menyelamatkan manusia yang ditindas oleh penguasa dengan bersenjatakan kasih dan pengorbanan. Bagaimana Gereja saat ini disini? Apakah para penguasa Gereja sudah menjadi satyagrahi? Penguasa yang berani mengosongkan diri dan tidak membuat perpecahan. Penguasa yang berani menyerukan kebenaran meski harus mati? Saat ini banyak kasus rakyat ditindas oleh penguasa. Kasus Lapindo, penggusuran, perburuhan, anak jalanan dan sebagainya. Apakah yang telah dilakukan oleh Gereja? Apakah cukup memberi bingkisan atau akan mulai menyerukan dan melakukan pergerakan?

0 komentar:

Posting Komentar