Rabu, 12 Agustus 2009

YESUS ADALAH ORANG KIRI

Anthony Giddens (1938 - ) sosiolog Inggris dalam bukunya yang berjudul “The Third Way” menyinggung buku berjudul “Left and Right” karangan Norberto Bobbio (1909-2004) seorang politikus Italia yang membahas soal kaum kiri dan kanan. Secara singkat Giddens menyimpulkan bahwa kaum kiri saat ini sudah mulai memudar sedangkan kaum kanan semakin menguat. Kaum kiri memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial. Tanpa persamaan derajat maka keadilan sosial tidak akan tercapai. Untuk itu rakyat harus terlibat dalam membangun dunia yang adil. Sebaliknya kaum kanan berusaha menekankan herarki dan melindungi ekonomi dan kultur mereka. Seperti Pat Buchanan yang menyerukan “America first” atau yang pertama adalah orang Amerika. Demikian pula Jean Marie Le Pen di Perancis yang diskriminatif. Kaum kanan berusaha mempertahankan kenikmatan dan kemampanan yang diperoleh dari neoliberalisme.

Meski dalam konteks situasi ekonomi dan politik yang berbeda, namun kita bisa belajar dari Yesus tentang nilai-nilai yang diperjuangkan. Sejak awal Yesus menyerukan bahwa Dia akan berjuang bersama rakyat miskin (Luk 4:18-19). Hal ini disebabkan kaum miskin banyak ditindas dan tidak dipedulikan oleh para pemimpin. Mereka tidak diperhatikan oleh para pemimpinnya yang terlalu sibuk mengurus soal adat istiadat seperti orang Farisi, yang membebani rakyat dengan aneka peraturan seperti para ahli kitab, dan membuat hukum yang tidak berpihak pada rakyat miskin seperti para ahli Taurat. Penjajah Romawi pun menindas rakyat dengan aneka pajak yang berat. Pilihan Yesus membuatNya berhadapan dengan para pemimpin agama dan penjajah Romawi.

Yesus memperjuangkan kesamaan. Dia menghapus herarki “Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.” (Mat 23:3). Herarki dapat membuat orang tidak menghargai sesamanya dan tidak bisa terlibat dalam diri sesama, sebab ada batasan yang menghalanginya. St Paulus lebih tegas lagi menghilangkan aneka perbedaan yang ada. “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal 3:8). Kesamaan bukan hanya mereka menghilangkan sekat yang ada tapi juga membuat mereka menjadikan miliknya adalah milik bersama “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis 4:32). Tujuan semua ini adalah membangun komunitas surgawi atau Kerajaan Allah. Maka kehadiran Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah yang menjadi nyata bukan saja setelah kematian tapi juga saat di dunia.

Pergerakan Yesus dalam usaha membangun komunitas baru dengan budaya baru yang setara dan untuk keadilan sosial membuat gerah para pemimpin Yahudi. Herarki dan kemampanan yang sudah mereka bangun selama ini akan goyah. Yesus dengan keras mengkritik atau mengutuk kebejatan para pemimpin (Mat 23:1-36). Mereka berlindung dibalik hukum dan tata aturan yang dibuatnya sendiri untuk melindungi kemapanan dan sebaliknya menindas rakyat kecil. Mereka tidak mampu menjadi pengayom rakyat kecil sebab mereka lebih mencitai kekuasaan dan fasilitas yang dimilikinya. Maka melalui berbagai cara mereka berusaha untuk mengenyahkan Yesus.

Yesus tidak berusaha menguraikan kemiskinan tapi Dia mengajak pengikutNya untuk peduli dan terlibat dalam kehidupan kaum miskin. Bagi Yesus mencintai Allah harus terwujud pada mencintai orang miskin. Pribadi kaum miskin bukan kemiskinan. Maka ukuran untuk dapat masuk surga adalah kalau orang rela berbagi pada orang miskin (Mat 25:31-46), sebab Yesus ada dalam diri orang miskin. Inilah solidaritas yaitu keterlibatan dalam kehidupan manusia (Rm 12:15) dengan penuh rasa empati. Dengan demikian Yesus adalah orang kiri yang berusaha membangun sebuah kehidupan yang adil berdasarkan kesetaraan dan solidaritas. Lalu mengapa kita bangga menjadi orang kanan? Bukankah dengan demikian kita berhadapan dengan Yesus sendiri?

0 komentar:

Posting Komentar