Minggu, 02 Agustus 2009

KEKERASAN

Sejak tahun 2000 di negara kita sudah terjadi 21 kali ledakan bom di berbagai tempat dan menelan banyak kurban. Bom pertama meledak di kedutaan Philipina di Jakarta pada 1 Agutus 2000 dan yang masih segar diingatan kita terjadi pada 17 Juli 2009 di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott. Bom yang meledak di Bali pada 12 Oktober 2002 menelan paling banyak kurban yaitu 202 orang meninggal dan sekitar 300 orang terluka baik turis asing maupun warga negara Indonesia. Banyak pendapat mengenai rentetan ledakan bom yang merugikan negara maupun masyarakat umum.

Saya membayangkan bahwa orang yang melakukan pengeboman adalah orang yang sedang berjuang. Mereka bukan anak-anak yang iseng-iseng bermain bom. Saya yakin bahwa mereka melakukan dengan sadar dan penuh perhitungan. Tapi mengapa perjuangan dilakukan dengan melakukan pengeboman? Apakah tidak ada jalan lain? Apakah bila telah berhasil membunuh sekian banyak orang dan membuat orang lain ketakutan maka mereka dinilai telah menang?

Kekerasan melekat dalam perjalanan sejarah dan sama tuanya dengan kehidupan manusia. Dalam Kitab Suci diceritakan bahwa sejak Kain dan Habel yang merupakan anak-anak dari Adam dan Hawa, sudah terjadi kekerasan. Hal itu terus terulang dalam berbagai bentuk dan alasan. Tidak jarang kekerasan meluas menjadi perang terbuka antar negara atau dalam negara. Orang saling membunuh dan menyiksa sesamanya. Menurut Wikipedia selama perang Dunia II ada 63.537.400 orang yang meninggal, baik tentara maupun warga sipil terutama Yahudi yang dibantai oleh Jerman. Saya yakin masih banyak lagi kurban yang tidak tercatat akibat kelemahan pendataan.

Bila melihat jumlah kurban sebesar itu mengapa masih terus terjadi perang dan tindak kekerasan? Saat ini memang tidak ada perang terbuka dan luas seperti PD II tapi tetap saja terjadi kekerasan dalam skala kecil dan besar yang menyebar dimana-mana dengan kurban yang tidak sedikit. Kekerasan juga terjadi dalam rumah tangga dan komunitas bahkan dalam lingkup pendidikan. Kita pernah dibuat terheran-heran dengan kekerasan yang terjadi di IPDN dan masih banyak terjadi di sekolah yang lain.

Kekerasan terjadi disebabkan oleh kecurigaan, keberpihakan pada salah satu kelas atau kelompok dan pengejaran pemenuhan kepentingan pribadi atau kelompok. Kain curiga pada Habel maka dia membunuhnya. Kecurigaan dipicu oleh rasa iri, benci, dan dendam. Orang iri melihat sesamanya berhasil, maka dia curiga bahwa sesamanya telah berbuat curang sehingga dia melakukan kekerasan. Sekelompok orang yang mengejar kepentingan kelompok untuk mendirikan negara yang sesuai dengan keinginannya maka mereka melakukan bom. Orang berpihak pada satu kelompok maka dia melakukan kekerasan terhadap kelompok lain.

Jaman dulu ada semboyan si vis pacem para bellum atau damai hanya dapat terjadi melalui perang. Tapi sejarah mencatat bahwa perang tidak menghasilkan apa-apa selain dendam, kebencian dan kerusakan yang menyeluruh. Keinginan menjunjung martabatnya melalui kekerasan sebetulnya sudah merusak martabat itu sendiri. Dengan melakukan kekerasan sebetulnya orang telah merendahkan martabatnya sebagai manusia. Dia memposisikan dirinya sebagai hewan yang bergerak tidak berdasarkan pertimbangan akal budi melainkan dorongan perasaan atau rangsangan belaka.

Tuhan menganugerahi manusia akal budi sehingga berbeda dengan hewan. Semakin dewasa seseorang maka dia semakin banyak menggunakan akal budinya untuk mempertimbangkan setiap keputusan yang dipilihnya. Tapi pertimbangan akal budi akan melemah ketika orang sudah digelapkan oleh kecurigaan, keberpihakan atau keinginan, sehingga dia tega melakukan kekerasan. Untuk itu perlu kita hati-hati dan melatih diri untuk senantiasa menggunakan akal budi sebelum memutuskan sebuah tindakan yang dapat berbuah kekerasan dan merugikan sesama. Marilah hidup damai.

1 komentar:

  1. meminta selalu lebih mudah daripada memberi.

    BalasHapus