Minggu, 05 Desember 2010

ADVENT: PERTOBATAN


Salah satu nilai yang kuat diwartakan dalam masa Advent adalah pertobatan. Bacaan Injil mengkisahkan kehadiran Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan. Orang menerima pembaptisan sebagai tanda pertobatan. Yohanes Pembaptis mengajarkan hal praktis sebagai wujud pertobatan atau sebagai buah-buah pertobatan. “Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:10-11). Selain itu Yohanes Pembaptis juga menyerukan kejujuran dalam menjalankan tugas sebagai pemungut cukai atau prajurit.

Pertobatan adalah kembali kepada Allah. Bagi Yohanes Pembaptis pertobatan bukan hanya sekedar menyesali dosa-dosa yang telah dibuat melainkan ada perubahan sikap dan tingkah laku. Kembali kepada Allah adalah menjadikan diri sebagai citra Allah atau kembali ke fitrahnya manusia. Pada awal penciptaan Allah menciptakan semua baik adanya. Tapi karena dosa maka yang baik itu rusak. Kehidupan bersama yang baik rusak oleh dosa iri hati, keserakahan, kemarahan, keinginan menjadi allah, dan keegoisan diri. Dengan melakukan dosa manusia telah kehilangan kemanusiaannya.

Manusia dianugerahi Allah akal budi yang cukup sehingga manusia berbeda dengan hewan dan mahluk lainnya. Manusia disebut manusia bila dia mampu menggunakan akal budi. Sebelum memutuskan untuk bertindak, berbicara, dan bersikap manusia dapat mempertimbangkan semuanya dengan menggunakan akal budi, sehingga dia dapat dimintai pertanggungjawaban atas semua yang dilakukan atau dikatakannya. Dia mengerti apa secara penuh apa yang dilakukannya. Bila manusia bertindak tidak menggunakan akal budi, maka dia kehilangan kemanusiaannya. Manusia yang marah secara membabi buta dia telah kehilangan kemanusiaannya sebab tindakannya dibutakan oleh kemarahan. Manusia yang menindas sesamanya secara keji seperti majikannya Sumiati, maka dia dapat dikatakan telah kehilangan kemanusiaannya. Segala dosa dilakukan tanpa menggunakan akal budi yang benar, sehingga manusia tidak lagi menampilkan diri sebagai manusia melainkan hewan.

Pertobatan adalah sarana manusia untuk menjadi manusia seperti pada saat dia diciptakan dulu. Manusia kembali menjadi citra atau gambaran diri Allah. Maka dalam masa pertobatan ini kita diajak untuk melihat diri sendiri apakah aku selama ini sudah berubah menjadi hewan yang mengerikan dan menjijikan atau masih pantas disebut sebagai citra atau gambaran diri Allah? Tapi orang sering menyempitkan dosa dalam hal yang terkait dengan Allah. Orang merasa berdosa sebab lupa berdoa, tapi dia tidak merasa berdosa ketika tetangganya meninggal karena kelaparan. Orang merasa berdosa sebab lupa membayar perpuluhan pada Gereja tapi dia tidak merasa berdosa ketika memberi gaji karyawannya jauh dibawah upah yang layak bagi seorang pekerja.

Maka Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa perlu adanya buah pertobatan yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh pertobatan dan dapat dirasakan oleh orang lain. Buah pertobatan dapat dirasakan bila pertobatan itu aktif bukan pasif. Orang merasa sudah bertobat bila dia tidak melakukan ini atau itu. Seorang pencuri dianggap bertobat bila dia tidak mencuri. Hal ini memang membuat orang senang sebab dia tidak kuatir akan kehilangan barangnya lagi. Tapi sebetulnya hal ini tidak cukup. Pencuri bisa tidak mencuri tapi dia tidak peduli pada sesamanya. Pertobatan aktif ialah bila orang secara aktif melakukan hal-hal kebaikan sehingga orang di sekitarnya merasakan kebaikan yang dia lakukan. Orang lebih suka melakukan pertobatan pasif, maka sering kita dengar orang mengatakan bahwa yang terpenting adalah tidak merugikan sesama atau berbuat jahat pada sesama. Memang dengan tidak melakukan dosa, maka kita dapat mewujudnyatakan diri sebagai gambaran diri Allah. Tapi harus bertobat aktif. Gambaran diri Allah bukan hanya kalau kita tidak melakukan dosa tapi juga ketika kita berbuat kebaikan bagi sesama sehingga sesama menjadi bahagia. Inilah buah pertobatan.

0 komentar:

Posting Komentar