Kamis, 16 Desember 2010

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA: LETIH


Injil Yohanes sering menunjukkan kuasa Yesus dan beberapa ahli mengatakan bahwa Yohanes sering ingin menunjukkan keilahian Yesus. Tapi dalam kisah pertemuan dengan perempuaan Samaria, Yesus tampil sangat manusiawi sekali. Dia letih dan haus. Jarak antara Yudea dan Galilea sekitar 200 km dan itu ditempuh dengan jalan kaki yang membutuhkan waktu sekitar 3 hari perjalanan. Yesus dan para murid sudah menempuh separoh perjalanan. Yesus sampai di sumur Yakub sekitar pukul 12 siang. Saat dimana matahari bersinar sangat terik. Maka sangat wajar bila Yesus haus dan lapar. Yesus duduk di tepi sumur menunggu para murid yang pergi membeli makanan dalam keletihan dan kehausan.

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Kita melewati waktu demi waktu, peristiwa demi peristiwa yang saling berkait satu dengan yang lain. Kadang kita tidak menyadari perjalanan hidup kita, sebab tenggelam dalam kesibukan yang tiada hentinya sampai akhirnya kita terhenyak tahun sudah berganti. Rasanya perayaan Natal tahun lalu baru saja berlalu ternyata kini sudah hampir Natal lagi. Ada orang mengatakan bahwa bumi sekarang berputar lebih cepat dibanding dulu, sebab waktu rasanya cepat bergerak. Padahal bumi berputarnya tetap sama. Satu hari tetap 24 jam. Kesibukan membuat orang tidak sadar akan terjadinya perubahan waktu.

Banyaknya kesibukan membuat orang letih. Keletihan ini bukan hanya menyerang fisik tapi juga psikis atau jiwa. Hidup pada jaman ini dimana persaingan semakin kuat membuat orang harus lebih berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Seorang teman mengatakan bahwa dia hampir tidak pernah melihat matahari, sebab pergi dari rumah ketika matahari masih belum terbit dan keluar dari kantor ketika matahari sudah tenggelam. Dia terpaksa menjalani semua itu demi mempertahankan hidupnya. Jika tidak maka usahanya dapat direbut oleh para pesaingnya. Pulang dari kerja dia pun terjebak kemacetan yang membuatnya semakin letih. Sesampai di rumah masih ada aneka masalah yang harus diselesaikan. Tubuh dan jiwanya yang letih sepanjang hari masih harus menanggung aneka masalah yang ada di rumah.

Keletihan jiwa juga dapat terjadi ketika aneka harapan yang dimiliki tidak dapat terwujud meski dia sudah berusaha keras untuk mewujudkannya. Dia merasa tidak berdaya lagi. Apalagi beban hidup terus bertambah. Masalah datang silih berganti, seolah satu masalah belum selesai sudah muncul masalah baru. Ketika aku melihat jadwal seorang anak pelajar SD aku hanya mampu geleng-geleng kepala. Dulu ketika aku masih SD sepulang sekolah masih ada waktu untuk bermain bersama teman-teman sampai sore tiba. Tapi anak ini sepulang sekolah masih harus les bahasa, musik, pelajaran dan sebagainya. Dia tidak lagi mempunyai waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Aku bertanya pada diri sendiri apakah anak ini tidak mengalami keletihan jiwa?

Keletihan dapat membuat orang kehilangan kontrol atas dirinya. Dia akan mudah marah, tidak mampu konsentrasi, bergerak hanya mengikuti arus, dan sebagainya. Maka perlu istirahat, tapi orang jaman ini sering melihat istirahat adalah perbuatan yang kurang berguna. Mereka lebih bangga bila tenggelam dalam kesibukan. Akibatnya banyak orang mengalami keletihan jiwa, sehingga saat ini banyak berita tentang orang yang berbuat “aneh-aneh”. Yesus beristirahat di dekat sumur, sumber air, yang dapat memberikan kesegaran jiwa. Dalam percakapan dengan perempuan Samaria Yesus menunjukkan bahwa Dialah sumber air hidup “barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14). Yesus adalah air kehidupan yang dapat menghilangkan keletihan. Untuk mendapatkan air kehidupan kita perlu datang padaNya. Hening dihadapanNya. Menyerahkan semua masalah dan beban hidup padaNya dan membiarkan Dia berkarya dalam hati kita. Tapi kita sering enggan untuk sejenak hening di hadapanNya dan membiarkan jiwa kita letih.

0 komentar:

Posting Komentar