Rabu, 22 Desember 2010

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA: DALAM KELEMAHAN DIUTUS ALLAH


Setelah mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, maka perempuan itu segera pergi ke kotanya kembali untuk mewartakan tentang Mesias. Dialah orang pertama yang diutus oleh Yesus untuk mewartakan bahwa Yesus adalah Mesias. Dengan demikian menurut Injil Yohanes pewarta Yesus adalah Mesias yang pertama adalah seorang perempuan yang dipandang hina dan berdosa oleh masyarakat. Bukan para rasul. Para rasul hanya memanen apa yang telah ditaburkan oleh perempuan itu. “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.” (Yoh 4:38). Betapa berat tugas yang harus diemban oleh perempuan ini. Banyak warga kota yang tahu bahwa dia adalah perempuan yang berdosa dan kini tiba-tiba dia mewartakan bahwa dia bertemu Mesias. Siapa yang akan percaya bila ada orang berdosa berusaha meyakinkan mereka bahwa dia telah bertemu Mesias dan menjadi utusan Mesias?

Perempuan itu mungkin menceritakan tentang semua pembicaraannya dengan Yesus, tapi tidak ada satu pun orang yang percaya padanya. Akhirnya perempuan itu terpaksa membuka aibnya sendiri. Dia mengatakan bahwa Yesus tahu dengan segala yang telah diperbuatnya. “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” (Yoh 4:39). Apa yang dilakukan oleh perempuan itu adalah sesuatu yang tidak pantas. Dia harus membongkar aibnya sendiri dihadapan banyak orang. Tidak mudah bagi kita untuk membongkar aib kita dihadapan umum. Kita lebih suka menyembunyikan aib secara rapat agar harga diri kita tidak runtuh. Tapi perempuan ini tidak peduli lagi dengan harga dirinya sehingga rela menelanjangi diri.

Orang-orang Samaria lalu pergi menemui Yesus. Mereka mungkin ingin bertemu Yesus sebab Dia mengaku Mesias dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh perempuan itu tapi Dia juga mengutusnya untuk mewartakan kabar kehadiran Mesias. Mungkin dalam pikiran mereka mulai timbul pertanyaan Mesias macam apakah Dia sebab bicara dengan perempuan Samaria dan seorang pendosa. Berbicara dengan perempuan seorang diri saja sudah tidak pantas, apalagi perempuan ini adalah perempuan berdosa dan seorang Samaria. Bagaimana mungkin seorang Yahudi yang mengaku Mesias dan sudah mengetahui apa yang terjadi dengan perempuan itu masih mengutusnya? Terdorong oleh rasa penasaran ini maka mereka datang pada Yesus.

Setelah bertemu Yesus dan mendengarkan ajaranNya maka mereka menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka percaya kemesiasan Yesus bukan karena warta dari perempuan itu tapi setelah mendengarkan Yesus. "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:42). Dengan demikian orang Samarialah yang pertama-tama mengakui bahwa Yesus adalah juruselamat dunia. Suatu hal yang sangat mengejutkan padahal orang Yahudi belum percaya akan hal itu. Mereka hanya mengharapkan Yesus mampu membuat mujijat bagi kepentingannya. Para rasulpun belum memahami siapa Yesus. Mesias dalam konsep mereka adalah pemulih kerajaan Daud bukan Juruselamat dunia.

Perempuan Samaria dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta kabar gembira. Dalam kelemahan dan kedosaannya dia dipilih oleh Yesus. Sering kita membayangkan bahwa orang yang dipilih Allah untuk menjadi pewarta adalah orang yang hebat dan suci, sehingga kita sering menolak untuk menjadi pewarta dengan alasan masih mempunyai dosa, tidak pantas dan sebagainya. Allah menggunakan siapa saja untuk menjadi utusanNya. “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1Kor 1:26). Dengan demikian kita tidak perlu takut untuk menjadi pewarta kabar gembira kepada siapa saja meski kita adalah manusia yang lemah dan penuh dosa.

0 komentar:

Posting Komentar