Jumat, 24 Desember 2010

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA: PEWARTA YANG RENDAH HATI


Perempuan Samaria adalah seorang yang rendah hati. Dia mau mengakui kelemahan dan dosanya. Dia sadar bahwa dihadapan Yesus tidak ada yang dapat disembunyikan, maka dia segera mengakui akan kelemahannya yang mungkin membuatnya dikucilkan. Ketika Yesus memerintahkan agar dia memanggil suaminya, maka dia menjawab dia tidak mempunyai suami. Maka Yesus membenarkan apa yang dikatakannya. "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” (Yoh 4:17-18). Aib yang berusaha disembunyikan terhadap orang asing kini dibuka. Perempuan itu tidak membela diri melainkan memuji Yesus sebagai nabi.

Hampir semua orang berusaha menyembunyikan aib dirinya. Aib terkait erat dengan penilai orang terhadap harga diri. Semua orang ingin dihargai. Dinjunjung martabatnya. Maka orang berusaha menutup rapat aibnya agar harga dirinya tidak runtuh atau agar dia tidak direndahkan oleh orang. Kalau toh akhirnya ada orang yang membukanya, maka ada kecenderungan untuk membela diri dengan berbagai alasan yang tampaknya masuk akal. Bahkan tidak jarang orang mulai menyalahkan banyak orang sehingga dia harus menanggung aib. Tetapi perempuan Samaria tidak menyalahkan siapa-siapa. Hal ini membutuhkan kerendahan hati untuk menerima segala kesalahan dan dosa.

Dalam kelemahannya perempuan Samaria siap menerima perutusan Yesus untuk menjadi pewarta. Bahkan dia mengatakan kepada penduduk kota bahwa dia yakin Yesus adalah Mesias sebab Dia tahu tentang aibnya. Mungkin hampir semua penduduk kota telah mengetahui aibnya. Tetapi untuk mengatakan secara langsung kepada mereka tentang aibnya hal ini membutuhkan sebuah keberanian dan kerendahan hati yang besar. Tapi dari situlah maka penduduk kota datang pada Yesus.

Sering ada orang memberikan kesaksian di depan umum. Tidak jarang dia menyatakan kelemahan atau dosa yang pernah dibuatnya. Tapi pada umumnya mereka mengakhir sharingnya dengan menunjukkan pertobatan yang hebat. Orang menjadi kagum sebab dia yang berdosa akhirnya bisa bertobat dan menjadi orang yang saleh. Sedangkan perempuan Samaria ini tidak mengakhiri pewartaannya dengan akhir yang indah. Dia tetap seorang berdosa yang harus menanggung aib. Tidak ada tepuk tangan dan kekaguman padanya. Bahkan setelah orang bertemu Yesus dia pun tidak dipedulikan lagi bahkan ditinggalkan orang. "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:42)

Seorang pewarta sejati dia akan mewartakan Yesus dan dia siap untuk dilupakan, sebab dia menghantar orang pada Yesus bukan pada dirinya. Saat ini banyak orang yang menyatakan bahwa dirinya adalah pewarta Yesus. Tapi sungguhkah dia sudah membawa orang pada Yesus atau untuk mewartakan kehebatan dirinya? Kadang aku terheran-heran seorang yang menyatakan diri sebagai pewarta dia tidak banyak menyebut Yesus melainkan apa yang telah dialaminya dan segala kehebatan rohaninya yang telah dijalani selama ini. Ada pula orang ketika mewartakan Yesus mengisi sebagian besar pewartaannya dengan lawakan yang tidak ada kaitannya dengan iman bahkan main sulap untuk menarik perhatian. Orang akan mengingatnya sebagai pewarta yang lucu dan pandai main sulap. Tapi apakah orang-orang yang mendapat pewartaan itu semakin dekat dengan Yesus?

Kita bisa belajar dari perempuan Samaria, meski direndahkan semua orang tapi dia memberikan diri untuk menjadi pewarta. Seorang yang membawa banyak orang pada Yesus dan membiarkan Yesus sendiri yang mengajar mereka sedangkan dia dilupakan dan kembali tidak dihargai. Pewartaannya dimulai dengan pertemuannya dengan Yesus dan membuka diri dihadapan Yesus atas segala kelemahannya. Berusaha memahami siapa Yesus bagi dirinya sampai memahami bahwa Yesuslah sang Juruselamat.

1 komentar:

  1. kenapa tidak bisa klik kanan? jadi tidak bisa save imagenya.. padahal saya suka dengan gambarnya..

    BalasHapus