Sabtu, 18 Desember 2010

KAMBING HITAM


Kambing hitam entah mengapa digunakan istilah itu untuk memposisikan orang sebagai tumpuan kesalahan meski mungkin dia tidak bersalah. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk kekerasan yang belum terjamah oleh hukum positip yaitu hukum negara. Padahal dampak negatif orang yang dijadikan kambing hitam bisa sangat besar. Pada tahun 1965 banyak sekali orang dijadikan kambing hitam dan akhirnya menemui ajal atau dipenjara tanpa pengadilan yang jelas. Setelah keluar dari penjara pun mereka menjadi orang-orang buangan ditengah masyarakat, sebab mereka sangat dibatasi geraknya. Di tengah masyarakat bahkan keluarga menjadikan orang sebagai kambing hitam sering terjadi meski mungkin dampak negatifnya tidak begitu luas. Tapi hal ini membuat orang yang dijadikan kambing hitam menjadi tidak nyaman dalam hidupnya.

Orang menjadikan sesamanya sebagai kambing hitam sebab mereka sebenarnya tidak berani mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Ketika terjadi bencana lumpur yang menenggelamkan banyak desa di Porong akibat kesalahan Lapindo Inc, maka seorang pejabat yang tidak berani bertanggungjawab menjadikan gempa di Jogjakarta sebagai kambing hitam. Ketika terjadi bencana kereta api terguling tidak ada satu pun pejabat yang mau bertanggungjawab maka masinis kereta api itu yang dijadikan kambing hitam. Pada umumnya orang yang dijadikan kambing hitam adalah orang yang tidak berdaya, lemah, tidak mempunyai kekuasaan sehingga dia tidak mampu membela diri.

Mochtar Lubis menulis buku berjudul “Manusia Indonesia”. Dalam bukunya dia menulis beberapa ciri manusia Indonesia. Salah satu ciri manusia Indonesia adalah enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, keputusannya, pemikirannya, kelakuannya, dan sebagainya. Bila ada masalah maka begitu mudah mengatakan “bukan saya”. Tapi dalam setiap masalah harus ada orang yang bertanggungjawab, maka dicari kambing hitam untuk menumpahkan segala tanggungjawab kesalahan padanya. Maka orang yang suka mencari kambing hitam adalah orang yang tidak bertanggungjawab, kejam, pengecut dan licik. Dia hanya mencari keselamatan diri sendiri dan tega mengorbankan orang lain demi keselamatan dirinya sendiri.

Menurut Sindhunata dalam buku “Kambing Hitam” terjadinya kambing hitam, sebab orang menipu dirinya sendiri dan sesamanya. Sindhunata mengutip kecamanan Yesus pada kaum Farisi yang dianggap sebagai pembunuh nabi-nabi terdahulu tapi mereka mengatakan bahwa kalau mereka hidup pada jaman nabi itu maka mereka tidak akan turut terlibat pembunuhan itu. Mereka menjadikan nenek moyangnya sebagai kambing hitam, padahal mereka mengakui sebagai keturunan nenek moyangnya itu. Maka Yesus mengecam mereka sebagai keturunan iblis. “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yoh 8:44). Iblis disini bukan roh jahat atau setan seperti pemahanan kita. Iblis adalah cerminan dusta dan kekerasan yang ada dalam diri manusia. Sikap ini berlawanan dengan Yesus.

Bila kita mengakui diri sebagai pengikut Kristus maka seharusnya dalam hidup kita ada kekuatan yang berlawanan dengan kekuatan iblis dalam artian dusta dan kekerasan, sehingga kita tidak mudah mengurbankan orang dengan menjadikannya sebagai kambing hitam demi keselamatan diri sendiri. Kita berani mempertanggungjawabkan semua yang kita pikirkan, lakukan, tindakan dan lainnya. Yesus telah memberikan teladan bahwa Dia berani mengurbankan diri tanpa mencari kambing hitam. Dia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukanNya seorang diri. Dia menanggung sendiri semua tuduhan palsu yang dituduhkan padaNya. Pada waktu penangkapan di taman Getsmani, Dia meminta supaya para prajurit melepaskan para murid, “Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” (Yoh 18:8). Inilah bedanya antara Anak Allah dengan anak iblis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger