Sabtu, 11 Desember 2010

ANDAI RUANG INI DAPAT BERBICARA


Aku meneguk air putih dari gelas. Tenggorokanku terasa kering. Hampir 3 jam aku duduk mendengarkan dua orang yang bertengkar. Saling menyalahkan. Kata-kata pedas dan cenderung kasar terlontar begitu saja. Padahal beberapa tahun lalu mereka datang padaku. Di tempat ini pula. Mereka menyatakan bahwa mereka sudah merasa cocok satu dengan yang lain. Mereka bisa menerima kekurangan yang ada dalam pasangannya. Mereka mampu berkomunikasi dengan baik dan menyelesaiakan setiap masalah dengan baik. Mereka bisa mengampuni. Pendek kata mereka yakin bahwa mereka akan mampu membangun keluarga dengan baik. Tapi kini mereka seperti dua musuh yang berhadapan. Tidak ada lagi bekas cinta. Segala janji yang dulu pernah mereka katakan di ruangan ini seperti kabut yang lenyap tanpa bekas.

Dulu aku sudah memperingatkan mereka agar menunda perkawinannya untuk lebih saling mengenal pribadi masing-masing secara mendalam. Memang ketika mereka bertanya mengapa harus menunda, aku tidak mampu menjelaskan dengan tepat. Tapi instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres atau tidak pada tempatnya. Tapi aku tidak tahu dengan pasti apa itu. Aku hanya merasa bahwa perkawinan mereka sangat rapuh dan rawan. Tapi aku tidak bisa membatalkan perkawinan berdasarkan naluriku saja. Itu pilihan dan hak mereka untuk menikah. Maka aku hanya membuat catatan dalam lembaran kanonik bahwa perkawinan rawan.

Saat ini kasus perceraian menjadi semakin banyak. Ada berbagai alasan yang menjadi penyebabnya. Mulai dari perselingkuhan, komunikasi, keterlibatan orang tua, sampai penghasilan dan jabatan istri yang lebih tinggi dibandingkan suaminya. Bila dicari akar masalahnya bagiku saat ini orang mengalami krisis pemahaman cinta. Cinta yang bertujuan untuk membahagiakan pasangan menjadi membahagiakan diri sendiri. Akibatnya tidak ada kurban. Semua ingin menangnya sendiri. Melihat masalah dari sudutku bukan sudutmu atau sudut kita. Bila ada masalah bukan mencari bagaimana jalan keluarnya tapi sibuk mencari siapa benar siapa salah. Parahnya bila semua merasa paling benar sehingga mulai menghakimi yang lain sebagai tertuduh.

Andai ruangan ini dapat berbicara maka dia mungkin akan mengatakan apa yang dulu pernah dikatakan oleh kedua orang itu. Mungkin meja ini akan mengatakan bagaimana mereka mengatakan saling mencintai. Mungkin kursi ini akan mengatakan kehangatan cinta mereka. Mungkin gambar di dinding ini akan mengatakan impian-impian yang mereka bangun. Mungkin lampu di dinding akan mengatakan janji mereka yang akan setia sehidup semati. Semua di ruang ini masih tetap tapi apa yang mereka dengar sudah tidak ada lagi. Kini semua benda itu mendengar hal yang sebaliknya. Kata dan tuduhan yang dulu tidak pernah mereka bayangkan.

Jaman ini egoisme semakin menguat. Orang memusatkan semua pada diri sendiri. Dalam Kitab Suci sudah jelas bahwa dalam perkawinan mereka bukan lagi dua tapi satu. “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:5-6). Dalam perkawinan Allah menjadikan suami istri menjadi satu daging. Mereka tak terpisahkan. Hal ini bukan berarti mereka kemana-mana harus berdua, melainkan suami hidup dalam istri dan istri hidup dalam suami. Bila kamu hidup dalam aku, maka aku bukan lagi sepenuhnya menjadi diriku. Kamu menjadi bagian dari aku dalam segala hal. Aku bersikap, mengambil keputusan, menentukan arah hidup dan lainnya bukan demi atau seturut keinginanku sendiri tapi juga keinginan dan seturut kehendakmu. Hal ini dapat terjadi bila satu dengan yang lain saling memahami secara penuh. Diantara mereka tidak ada lagi batas atau ruang atau sesuatu yang tersembunyi. Mereka mengenal satu dengan yang lain secara penuh. Tapi yang sering terjadi adalah orang mengenal hanya luarnya saja dan dia tetap mempertahankan kemandiriannya sehingga mengabaikan pasangannya.

0 komentar:

Posting Komentar