Minggu, 26 Desember 2010

TAHUN BARU

Beberapa hari lagi kita akan merayakan tahun baru. Suasana semarak perayaan tahun baru sudah sangat terasa di kota-kota besar. Berbagai pusat perbelanjaan dihias dan ada tulisan “Selamat tahun baru” dalam berbagai bahasa. Beberapa tempat belanja mengadakan diskon besar-besaran untuk aneka barang yang dijual atau istilahnya cuci gudang. Di tepi jalan sudah bermunculan orang yang berjualan terompet yang akan ditiup pada saat pergantian tahun. Beberapa hotel di tempat wisata pada umumnya penuh. Tidak jarang sudah dipesan jauh-jauh hari. Tempat hiburan mempromosikan diri acara tutup tahun dengan mendatangkan artis-artis terkenal. Televisi juga tidak mau kalah mempromosikan acara tutup tahun dengan berbagai acara menarik. Bila dilihat acara tahun baru identik dengan segala acara hiburan dan kesenangan.

Bagi kaum miskin atau orang-orang yang tinggal jauh di pedesaan berbagai acara itu tidak akan terasa. Mereka mungkin hanya akan melihat semaraknya acara di televisi atau bahkan tidak peduli sama sekali perubahan tahun. Bagi mereka tanggal 1 Januari sama dengan hari-hari yang lain. Malam tahun baru pun tidak banyak artinya. Semua hari sama dan tidak ada yang istimewa. Tidak ada perayaan atau pesta. Mereka hanya akan mencopot kalender lama yang mungkin sudah berdebu dan kotor lalu mengganti dengan kalender baru. Perubahan tahun hanya ditandai oleh perubahan kalender.

Bagi kita yang sibuk dengan perayaan dan pesta sebetulnya juga dapat bertanya pada diri sendiri, apa artinya semua pesta, meniup terompet, berkeliling kota menghirup asap kendaraan yang penuh sesak, menyalakan kembang api dan sebagainya? Kita hanya merayakan tapi tidak tahu apa makna perayaan itu. Ada orang mengatakan bahwa dia merayakan tahun baru sebab untuk mensyukuri telah melewati satu tahun dengan baik. Apakah rasa syukur harus dikumpulkan selama setahun baru dirayakan? Bukankah setiap hari kita harus bersyukur atas segala karunia Allah dalam hidup? Apakah semua orang yang merayakan tahun baru adalah orang yang bersyukur atas segala berkah yang telah diterima sepanjang tahun? Bagaimana dengan orang-orang hidup dalam penderitaan akibat bencana alam atau aneka penderitaan yang lain? Orang-orang yang masih hidup dalam pengungsian atau meratapi musnahnya segala yang dimiliki?

Tahun Baru hanya selisih beberapa hari dari hari raya Natal, sehingga bagi umat kristiani mengucapkan Natal pada umumnya sekaligus dengan mengucapkan Tahun Baru. Pada saat Natal kita merayakan kelahiran Yesus yang dianggap titik tolak perubahan tahun dari sebelum masehi menjadi tahun masehi. Kelahiran Yesus dianggap tahun nol, meski diyakini bahwa ada kesalahan yang dilakukan oleh Dionisius tentang penetapan kelahiran Yesus. Menurut Injil Matius Yesus lahir ketika Herodes menjadi penguasa. Padahal Herodes berkuasa pada tahun 73 SM- 4 SM, maka sebetulnya tahun yang dibuat Dionisius dan digunakan oleh sebagian besar orang di dunia ada kesalahan sekitar 4 atau 5 tahun.

Lepas dari masalah kesalahan yang dibuat oleh Dionisius, tapi dengan penanggalan menurut Dionisius menunjukkan bahwa kelahiran Yesus dianggap sebagai saat yang penting sehingga menjadi titik tolak penanggalan. Sebelum kelahiran Yesus orang Romawi yang sangat berpengaruh di Eropa menggunakan penanggalan dengan titik tolak pembangunan kota Roma atau AUC (Ad Urbe Condita) tapi sejak kelahiran Yesus mereka menggantinya dengan AD (Anno Domini) atau kita menyebutnya Masehi. Kehadiran Yesus bukan hanya menjadi titik tolak penanggalan melainkan titik tolak sebuah kebudayaan baru yang bermula dari Israel. Yesus membawa pembaharuan relasi antara manusia dengan Allah dan sesamanya. Allah yang semula diyakini jauh kini menjadi dekat dan bisa disentuh. Bahkan Allah ada dalam manusia terutama yang miskin dan menderita. Dia membawa hukum baru yaitu kasih yang penuh kurban demi keselamatan sesama. Maka pergantian tahun harusnya menjadi titik tolak sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik. Pada saat ini kita bertanya pada diri sendiri dan membangun komitmen ke-baru-an apa yang akan kita lakukan pada tahun mendatang. Kita melihat hidup kita dimasa lalu kemudian berusaha membaharuinya, sehingga tahun baru menjadi titik tolak pembaharuan diri. Bukan sekedar mengganti tanggalan melainkan mengubah sikap, perilaku atau pandangan kita menjadi baru.

1 komentar: