Senin, 09 Mei 2011

CATATAN DARI SERAWAI: RANTAU MALAM


Pada tahun 1986 dirilis film berjudul The Mission yang dibintangi oleh Robert de Niro. Film ini menceritakan perjuangan imam-imam Yesuit pada tahun 1750 an di pedalaman Amerika Selatan. Dalam film itu digambarkan medan yang indah tapi sulit dilalui oleh para misionaris. Mereka harus melalui sungai-sungai yang deras arusnya, tebing-tebing curam, hutan belantara dan air terjun yang terjal tapi sangat indah. Ketika aku bersama beberapa orang menyusuri anak sungai Serawai, aku membayangkan para misionaris itu. Anak sungai ini airnya deras dan dangkal. Airnya sangat jernih sehingga orang dapat melihat bebatuan dan ikan yang berkeliaran di dasar sungai. Beberapa bagian sungai sangat dangkal sehingga perahu harus di dorong agar dapat bergerak kembali. Di kiri kanan sungai berdiri pohon-pohon besar yang memberi keteduhan. Suatu perjalanan yang sangat indah menuju kampung yang Rantau Malam.

Kampung ini diberinama Rantau Malam, sebab pada jaman dahulu orang hanya bisa sampai ke tempat ini pada malam hari setelah seharian menyusuri sungai Serawai lalu masuk ke sungai Jelundung, anak sungai Serawai. Konon orang Dayak yang tinggal disini dulu merupakan orang-orang Dayak yang melarikan diri dari penjajahan. Mereka tidak mau hidup dibawah penjajahan. Tapi orang yang bercerita tidak menjelaskan secara jelas siapa yang disebut penjajah itu. Apakah Belanda atau Jepang atau bangsa lain lagi. Tampaknya masih belum ada orang yang secara serius berusaha menyelidiki dan menulis sejarah kampung-kampung Dayak yang terletak di sepajang sungai ini.

Semua penduduk di Rantau Malam mengaku beragama Katolik. Sebetulnya semua penduduk di kampung-kampung sepanjang sungai Serawai dan anak sungainya semua mengaku beragama Katolik. Agama Katolik tampaknya menjadi agama mayoritas di beberapa kampung sepanjang Dalam Serawai. Di dua kampung yang lebih dekat muara ada juga orang yang beragama Protestan, tapi tidak banyak. Meski agama Katolik merupakan agama mayoritas tapi umat disini kurang mendapatkan pelayanan dari imam. Mereka misa hanya dua kali setahun yaitu pada Paskah dan Natal. Itu pun tidak tepat pada hari perayaannya. Akibat jarang mengadakan misa, maka banyak umat yang tidak paham mengenai segala urusan liturgi. Bagi mereka yang terpenting ada pastur yang datang dan merayakan misa.

Aku misa malam Paskah di Rantau Malam. Aku membayangkan di paroki tempatku pasti misa ini sangat meriah. Semua dipersiapkan sebaik mungkin. Aku selama beberapa malam terus mendengar orang latihan koor. Anak misdinar dan asisten imam berlatih beberapa kali demikian pula lektor. Gereja dihias meriah. Tapi disini semua itu tidak ada. Aku terpaksa menghilangkan beberapa bagian liturgi sebab umat tidak paham. Misa dilakukan sederhana. Tanpa koor, misdinar, lektor yang siap membaca, dan hiasan altar. Semua sangat sederhana.

Umat yang hadir dalam misa sekitar 300 an mulai dari anak-anak sampai orang tua. Semua dengan tekun mengikuti misa. Meski ada puluhan anak kecil duduk di bangku paling depan tapi tidak ada keributan sama sekali. Mereka duduk dalam diam dan tertib. Suatu hal yang sulit ditemui di paroki kota. Kehadiran anak-anak dan kaum muda sangat menguntungkan, sebab merekalah yang bernyanyi atau menjawab apa yang dikataan imam. Mereka tampak mengikuti misa dengan tekun dan khusyuk. Meski hujan turun sangat deras dan petir menggelegar tapi mereka tetap tenang. Mungkin karena misa hanya setahun dua kali maka mereka sungguh menikmati.

Pada malam hari sambil berbaring di lantai kayu dalam gelap, dingin dan basah karena pulang dari gereja kehujanan, aku membayangkan betapa memprihatinkan umat disini. Mereka seperti domba tanpa gembala. Mereka harus mencari sendiri pemahaman imannya tanpa bimbingan. Betapa enaknya umat di kota yang selalu mendapat pelayanan imam bahkan mati pun harus beberapa kali imam yang memimpin. Tapi apakah iman orang kota jauh lebih berkembang daripada iman disini?

0 komentar:

Posting Komentar