Sabtu, 28 Mei 2011

JANGAN TAKUT BERBUAT BAIK

Menjadi orang Katolik pada jaman ini bukanlah hal yang mudah. Apalagi menjadi Katolik di tengah mayoritas bukan Katolik seperti di pulau Jawa, Sumatra dan beberapa pulau lain. Sudah puluhan kali terjadi penganiayaan dan pembakaran gedung gereja yang tidak pernah diselesaikan tuntas oleh pemerintah. Belum lagi sikap diskriminatif yang harus dialami oleh orang Katolik baik di masyarakat maupun di lembaga-lembaga pemerintahan bahkan di lembaga pendidikan dimana seharusnya peserta didik diajar untuk saling menghormati dan menghargai sesamanya, tapi disitu pun terjadi tindakan diskriminatif yang dapat dikatakan sudah melembaga. Peserta didik bahkan para guru pun dapat menghina dan memperlakukan sewenang-wenang murid Katolik seolah hal itu sudah menjadi biasa dan wajar. Di kampung pun warga dapat memperlakukan orang Katolik dengan sewenang-wenang. Semua itu seolah sudah suatu sikap atau tindakan yang tidak perlu dipersoalkan lagi.

Seorang umat bercerita bahwa bila dia menolong tetangga yang sedang menderita maka dia dituduh akan mengkristenkan. Tetapi bila dia tidak peduli pada tetangganya yang sedang menderita maka dia akan dituduh sebagai orang yang tidak punya nurani. Apapun yang dilakukan dianggap salah. Bila tetangga mengadakan doa dengan menggunakan pengeras suara yang terdengar sampai puluhan rumah, maka tidak ada orang yang protes. Tetapi bila dia mengadakan doa bersama meski tidak menggunakan pengeras suara pun dapat menjadi masalah. Akibat pembiaran dari pemerintah maka berbagai macam tindakan diskriminatif terus terjadi dan seolah hal biasa yang tidak perlu dipersoalkan. Padahal para bapa pendiri bangsa ini sudah meletakkan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai dasar negara.

Oleh karena banyaknya perlakuan yang tidak nyaman, maka banyak orang Katolik lebih suka tidak terlibat dalam berbagai urusan kemasyarakatan. Mereka lebih suka menutup diri dan menghindari kontak dengan masyarakat untuk menghindari masalah. Suatu saat aku datang ke tempat kaum miskin. Pada awalnya mereka tidak mempersoalkan kehadiranku, meski tahu bahwa aku seorang Katolik. Tapi lambat laun beberapa anak mulai mempersoalkan kehadiranku. Seorang anak mengatakan bahwa dia dilarang menerima apapun dariku sebab aku orang Katolik. Mereka tidak mau menerima barang dan bantuan dari orang Katolik. Kebetulan saat itu mereka hendak memperbaiki rumah ibadahnya. Beberapa orang berdiri di tepi jalan sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan bagi pendirian rumah ibadah. Maka aku bertanya pada mereka seandainya aku memasukan uang ke dalam kardus itu apakah mereka akan menolak? Apakah mereka akan bertanya terlebih dahulu pada para pengendara mobil yang lewat baru menyodorkan kardus setelah mereka tahu bahwa pengendara itu bukan orang Katolik? Pertanyaanku ini tidak ada yang bisa menjawab.

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” (1Ptr 3:14). Penulis surat Petrus mendorong kita untuk terus berbuat baik meski kita harus mengalami penganiayaan. Orang yang bersikap sewenang-wenang dan menindas sebenarnya adalah orang yang takut. Mereka takut kehilangan pengikut. Mereka takut tidak dihargai oleh pengikutnya dan berbagai macam ketakutan yang lain. Ketakutan-ketakutan inilah yang dicoba untuk ditutupi dengan tindak kekerasan. Maka penulis surat Petrus mengingatkan agar kita tidak takut pada apa yang mereka takuti.

Kita pun hendaknya tidak jemu-jemu untuk berbuat baik, meski orang lain mengancam kita, sebab perbuatan baik bukanlah sekedar kewajiban moral melainkan konsekwensi sebagai pengikut Kristus. Bila kita mencintai Kristus, maka kita melakukan apa yang dilakukan oleh Kristus yaitu berbuat kasih kepada semua orang termasuk kepada orang yang membenci kita. Tapi hal ini tidak mudah. Maka Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan memberi kekuatan pada kita untuk terus berbuat baik, meski apa yang kita lakukan ditolak bahkan membahayakan jiwa kita.

0 komentar:

Posting Komentar