Kamis, 15 Juli 2010

BERNILAI ATAU PRESTASI

Albert Einstein (14 Maret 1879 – 18 April 1955) adalah salah satu orang paling genius di dunia. Dia penemu teori relativitas yang sangat terkenal dan banyak lagi penemuan-penemuannya yang sangat berguna bagi ilmu pengetahuan. Suatu saat dia pernah berkata, “Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, tapi menjadi orang yang bernilai.” Kita semua ingin menjadi orang yang sukses. Sejak kecil orang sudah dididik dan dipacu untuk meraih kesuksesan. Anak selain disekolahkan juga disuruh les berbagai mata pelajaran, bahasa dan aneka ketrampilan sebagai persiapan bagi masa depannya. Setelah selesai belajar orang mulai mengejar karir dengan segala cara. Dia harus menjadi orang yang sukses sehingga membanggakan keluarga.

Sering kali kesuksesan diukur dengan kepemilikan materi atau kekayaan. Bila orang memiliki aneka gelar tapi hidupnya miskin, maka dia dianggap belum sukses. Sebaliknya meski seseorang tidak mengeyam pendidikan cukup tapi mempunyai banyak usaha yang menghasilkan uang, sehingga dia dapat kaya raya maka dia dianggap orang sukses. Kesuksesan juga ditentukan oleh prestasi yang ditekuni. Orang tua sederhana dianggap sukses bila anak-anaknya menjadi kaya. Seorang pelukis dianggap sukses bila mampu menghasilkan lukisan yang dikagumi oleh banyak orang. Seorang pelajar yang menjadi juara kelas dan meraih berbagai prestasi maka dianggap sebagai pelajar sukses.

Orang sukses akan dihargai dan dikagumi oleh banyak orang, maka wajar bila orang berusaha meraih kesuksesan itu. Kita pun akan puas akan hidup kita sendiri bila sadar bahwa kita telah menjadi orang yang sukses. Bila membaca kata-kata Einstein maka kita perlu merenung lagi. Apakah kita sudah bernilai bagi sesama? Bernilai artinya kita menjadi berarti bagi sesama. Menjadi penting dan dibutuhkan oleh sesama. Menjadi orang yang sangat berpengaruh bagi sesama, bahkan mungkin menjadi segalanya bagi sesama. Tanpa kita maka sesama akan merasa sangat kehilangan atau mungkin tidak akan menjadi seperti dirinya saat ini.

Dengan mengejar prestasi maka kita mengarahkan segala perbuatan untuk diri sendiri, sebaliknya agar bernilai bagi sesama maka perbuatan kita juga terarah untuk sesama. Pengejaran untuk menjadi yang terhebat mau tidak mau akan berusaha mengalahkan bahkan menyingkirkan sesama. Sedangkan agar bernilai maka kita melihat sesama sebagai sahabat. Bukan pesaing. Untuk menjadikan sesama sebagai pesaing adalah hal yang sangat mudah. Tapi untuk menjadikan sesama sebagai sahabat merupakan hal yang perlu perjuangan.

Marta dalam Injil hari minggu ini adalah sosok yang mengejar prestasi. Dia tenggelam dalam kesibukan di dapur dengan harapan Yesus akan memuji kelezatan masakannya. Begitu sibuknya Marta sampai dia melupakan Yesus. Dia menjadikan Yesus sebagai tamu hebat, bukan orang yang bernilai baginya. Sebaliknya Maria duduk di bawah kaki Yesus mendengarkanNya sebagai guru. Maria tidak menyibukkan diri sebagai usaha mencapai prestasi tapi dia menjadikan Yesus sebagai orang yang bernilai. Yesus begitu bernilai sehingga dia tidak ingin meninggalkan Yesus seorang diri.

“Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Luk 10:42) Bagian Maria yang terbaik adalah menempatkan dirinya sebagai orang yang menjadikan Yesus sebagai orang yang bernilai. Hal ini membangun relasi yang dalam dengan Yesus. Relasi ini tidak akan dapat diambil dari Maria. Seandainya Marta dapat memasak yang sangat lezat maka kelezatan itu akan hilang dengan cepat. Orang akan mengenang dan kagum padanya sebagai tukang masak yang handal. Dia akan menepuk dada sebab masakannya dipuji Yesus. Sebaliknya relasi kasih yang dibangun oleh Maria tidak akan hilang. Dia ada dalam Yesus dan Yesus ada dalam dia. Dimana saja Yesus atau Maria berada mereka akan terus saling mengingat. Mereka saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Mengubah satu dengan yang lain. Mereka menjadi bernilai bagi yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar