Minggu, 04 Juli 2010

YESUS ADALAH TUAN ATAU NABI

St. Vincentius a Paulo (24 April 1581 – 27 September 1660) adalah seorang imam yang memberikan dirinya untuk melayani kaum miskin di Perancis. Dia dapat disebut sebagai tokoh pembaharu Gereja. Salah satu sumbangan St. Vincentius pada Gereja adalah dia berhasil merobohkan tembok biara. Pada jaman itu kaum biarawan dan biarawati tinggal dibalik tembok biara sehingga terpisah dari kehidupan dunia. St. Vincentius melihat bahwa panggilan hidup membiara adalah untuk melayani Yesus yang miskin. Maka dia mengajak para imam untuk melayani kaum miskin di pedesaan, sebab kaum miskin di pedesaan sering diabaikan oleh para imam yang sibuk melayani di kota

St. Vincentius bersama St. Louisa untuk mendirikan suster-suster yang melayani kaum miskin. Bagi St. Vincentius Tuhan tidak lagi ada di tabernakel tapi ada nyata dalam diri kaum miskin, maka dia mengatakan pada para suster bahwa kapelmu adalah lorong-lorong rumah sakit dan rumah-rumah kumuh. Mereka tidak memusatkan diri dalam doa tapi doa mereka ada dalam pelayanan. Maka dia mengatakan “tinggalkan Tuhan demi Tuhan.” Hal ini bukan berarti menyepelekan kehidupan doa. Dia tetap menekankan kehidupan doa dan meditasi. Dalam sebuah suratnya dia mengatakan jadilah kartusian (para rahib yang sebagian besar hidupnya untuk berdoa dan meditasi) ketika di rumah dan pelayanan ketika di luar rumah. Bagi St. Vincentius kaum miskin adalah tuan yang harus dilayani dengan penuh kasih. Inilah sumbangsihnya besar bagi Gereja.

Lain St. Vincentius lain pula Uskup Oscar Romero (15 Agustus 1917 – 24 Maret 1980). Bila St. Vincentius memposisikan kaum miskin sebagai tuan, sedangkan Uskup Romero memposisikan kaum miskin sebagai nabi. Dia mengatakan “Umatku adalah nabiku”. “Saya harus mendengar apa yang dikatakan Roh Kudus melalui umatNya.” Uskup Romero berjuang untuk Gereja di El Salvador dimana saat itu banyak rakyat yang dibunuh dan diperlakukan tidak adil oleh penguasa dan para tuan tanah. Perjuangan Uskup Romero dimulai dari kesediaanya untuk mendengarkan jeritan rakyat miskin yang menuntut keadilan. Jeritan itu menyadarkan dia bahwa sebagai Uskup dia ditutut untuk membaktikan dirinya untuk membela dan menjadi suara kaum miskin.

St. Vincentius dan Uskup Romero bukan orang yang berjuang demi kaum miskin sejak awal hidup panggilannya sebagai seorang imam dan uskup. Mereka hidup dalam cita-cita dan pandangan mengenai panggilan imamat yang tidak bersentuhan dengan kaum miskin. Sampai pada suatu titik dimana mereka disadarkan akan tugas utama mereka adalah melayani kaum miskin. Kesadaran itu muncul setelah mereka bertemu langsung dan terlibat dalam kehidupan kaum miskin. Dari sini mereka menemukan Yesus yang baru dan otentik milik mereka. Mereka menemukan Yesus sebagai tuan yang harus dilayani dan sebagai nabi yang menyerukan keadilan dan pembebasan.

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat 16:15-16). Yesus ingin para muridNya memahami Dia menurut pendapatnya secara pribadi. Petrus sebagai wakil para rasul menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus melarang Petrus untuk mengatakan hal itu kepada siapapun. Yesus ingin setiap orang menemukan DiriNya secara pribadi, bukan atas pendapat orang. St. Vincentius melihat Yesus sebagai tuan sedangkan Uskup Romero melihat Yesus sebagai nabi. Mereka menemukan Yesus secara pribadi dalam pergulatannya bersama kaum miskin.

Pemahaman kita bahwa Yesus adalah Mesias berdasarkan atas ajaran dari Kitab Suci dan Gereja. Bukan dari hasil pergulatan kita dalam pertemuan dengan Yesus secara nyata. Yesus ada dalam diri kaum miskin. Maka usaha pencarian siapa Yesus bagi diri kita adalah bila kita berani terlibat dalam kehidupan kaum miskin dan merefleksikannya dalam terang iman dan Kitab Suci. Dari sini kita akan menemukan Yesus entah sebagai tuan, nabi, guru atau lainnya. Pemahaman ini otentik milik kita yang mungkin tidak dipahami oleh sesama. Kita pun harus bertanya pada diri sendiri siapakah Yesus?

0 komentar:

Posting Komentar