Sabtu, 03 Juli 2010

IMAN MEMBUTUHKAN BUKTI?


Pagi ini sebuah TV swasta memberitakan bahwa di sebuah makam yang dikeramatkan menyemburkan air jernih yang berlimpah. Banyak penduduk yang datang mengambil air itu. Mereka percaya bahwa air itu mempunyai mujijat. Hal yang kuanggap lucu adalah komentar akhir pembawa berita bahwa ada kemungkinan bahwa semburan air itu disebabkan adanya pipa PDAM yang bocor. Seandainya kemudian petugas PDAM memeriksa pusat semburan dan menemukan pipa PDAM yang bocor bagaimana reaksi masyarakat yang sudah rela antri dan berebut untuk mendapatkan air itu? Hal seperti ini sudah sering terjadi dimana masyarakat begitu mudah mempercayai sesuatu seolah sebuah mujijat dari Allah.

Kita mengaku sudah memasuki jaman modern yang ditandai dengan memiliki aneka peralatan modern. Sebetulnya ke-modern-an tidak hanya ditandai oleh barang-barang canggih tapi juga perubahan perilaku manusia yang disebabkan adanya perubahan dalam cara pandang terhadap hidup dan dunia sekitarnya. Dalam dunia modern orang lebih menekankan penggunaan akal budi dalam melihat dan memutuskan segala sesuatu. Mereka mencari sebab akibat dan berusaha memecahkan setiap hal yang dihadapinya dengan menggunakan akal budi yang ditunjang oleh tehnologi. Pada jaman dulu orang percaya bahwa epidemi pes disebabkan adanya kuasa jahat yang muncul dari rawa-rawa. Gerhana bulan disebabkan bulan dimakan raksasa. Pada jaman modern dengan aneka penemuan dan perkembangan tehnologi, maka semua itu berusaha untuk dinalar dan dipecahkan dengan mencari sebab akibatnya.

Tapi kekuatan tehnologi dan daya pikir manusia kerap menemui jalan buntu. Saat ini tehnologi kesehatan semakin canggih, tapi penyakit pun semakin canggih. Seolah mereka saling berkejaran. Akibatnya manusia kembali masuk dalam hal-hal diluar akal atau sering disebut supranatural. Mereka mencari kekuatan lain diluar tehnologi dan akal budi. Sebetulnya bagi orang beragama mereka sudah mempunyai kekuatan besar yaitu Allah. Mereka percaya bahwa Allahlah yang berkuasa atas segala yang ada di semesta. Segala kecanggihan tehnologi dan kekuatan daya nalar manusia tidak akan mampu melebihi kekuasaan Allah. Apa yang telah dirancang matang oleh manusia dapat mengalami kegagalan oleh sesuatu yang tidak diduga. Ada kejadian-kejadian yang diluar perhitungan manusia. Orang yang sudah dinyatakan tidak akan mampu hidup ternyata dapat sembuh. Hal ini sering dianggap adanya kekuatan lain yaitu Allah.

Meski manusia percaya adanya Allah yang mahakuasa, tapi manusia membutuhkan bukti tentang keberadaan Allah. Iman adalah manusia percaya penuh pada Allah. Tapi dalam berbagai kesempatan manusia menjadi ragu akan imannya. Doa yang tidak terjawab. Bencana yang datang beruntun. Penderitaan yang menimpa orang saleh dan lainnya membuat manusia bertanya. Apakah Allah sungguh ada atau hanya sebuah ciptaan manusia pada jaman dahulu? “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!” (Mzm 85:8-9). Pemazmur dalam penderitaannya berteriak meminta bukti keselamatan dari Allah. Bukti adalah sesuatu yang dapat dirasakan atau dilihat oleh manusia.

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). Thomas menuntut bukti kebangkitan, sebab akal budi tidak mampu menjelaskan kebangkitan. Akal budi membutuhkan bukti fisik atau penalaran yang logis. Iman membutuhkan akal budi untuk mempertajam dan mempertanggungjawabkan. Tapi akal budi bukan untuk mencari pembuktian-pembuktian dan menguraikan segala misteri iman. St. Agustinus berusaha menggunakan akal budinya untuk menguraikan Tritunggal dan dia akhirnya sadar bahwa hal itu hanya dapat diimani. Orang terus mencari bukti kehadiran Allah dalam mujijat termasuk air di kuburan. Tapi harusnya orang tetap menggunakan akal budi untuk mempertajam dan mempertanggungjawabkannya agar tidak tersesat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger