Senin, 05 Juli 2010

GEREJA TELAH MATI

Jean Jacques Rousseau (28 Juni 1712 – 2 Juli 1778) filsuf Swis berpendapat bahwa manusia adalah seperti atom yang lengkap dalam dirinya. Dia tidak membutuhkan orang lain. Manusia bukan seperti sel yang membutuhkan sel lain. Kalau toh manusia itu berkumpul disebabkan adanya kaitan struktur bukan batin. John Locke (16 Agutus 1632 – 28 Oktober 1704) filsuf Inggris berpendapat bahwa manusia berkumpul dan mengingkatkan diri satu dengan yang lain supaya ada kesamaan dalam segi hukum. Thomas Hobbes (5 April 1588 – 4 Desember 1679) filsuf Inggris mengatakan bahwa masyarakat adalah himpunan individu-individu yang masing-masing secara egoistis mengejar kepentingan mereka sendiri. Pendapat ketiga orang itu hampir sama bahwa manusia tidak membutuhkan sesamanya. Mereka berkumpul dengan sesama demi kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri. Semua kembali kepada diri sendiri.

Sebagai orang Timur yang menjunjung persaudaraan kita pasti berpendapat bahwa apa yang dikatakan oleh ketiga orang itu adalah salah. Kita menghargai persaudaraan, yaitu hubungan yang melibatkan batin. Bagi penduduk desa semua orang yang tinggal disitu adalah saudara. Bila salah satu warga membetulkan rumah atau punya hajat maka semua orang akan membantu tanpa diupah. Mereka cukup diberi makan dan minum. Suatu hal yang wajar sebab mereka telah bekerja keras. Jika pohon buahnya berbuah maka semua tetangga akan turut merasakan buahnya. Mereka saling memberi dan melibatkan diri satu dengan yang lain. Bahkan rumah mereka terbuka bagi semuanya.

Tapi itu kenangan sekitar 10-20 tahun yang lalu. Secara pasti hal itu sudah semakin memudar dan diganti dengan pola pikir seperti yang dikatakan oleh ketiga filsuf di atas. Orang semakin lama semakin egois. Pagar rumah mereka yang semula dari bambu dan pendek, bahkan banyak rumah tanpa pagar, sekarang berubah menjadi tembok dan besi yang menyerupai benteng. Orang tidak lagi saling menyapa bahkan sesama tetangga tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Manusia telah menjadi atom.

Sikap ini juga sudah merasuk dalam tubuh Gereja. Banyak orang datang ke gereja dan merasa kesepian, sebab dia tidak mengenal saudaranya yang duduk di sebelahnya. Selama mengikuti ibadat dia tidak menyapa dan disapa oleh umat lain. Dia menjadi orang asing. Rasul Paulus menggambarkan Gereja sebagai tubuh yang terkait satu dengan yang lain. Bila mereka tidak saling mengenal bagaimana mereka dapat terkait? Orang menyatakan bahwa dia datang ke gereja untuk berdoa. Bertemu dengan Tuhan. Begitu khusuknya dia berdoa sampai tidak melihat orang yang duduk di dekatnya dan tidak mengenalnya. “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1Yoh 4:21). Bila kita hanya mencintai Allah dan tidak mau mengenal saudara kita maka cinta kita mandul, sebab tidak pernah diwujud nyatakan dalam diri saudara-saudara kita.

“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis 4:32) Kesatuan Gereja sedemikian kuat sehingga tidak ada milik individu. Semua milik bersama. Gambaran Gereja seperti ini sudah tidak ada lagi. Sebaliknya anggota Gereja semakin individualis. Mereka hanya berusaha untuk mengejar kesalehan pribadi dengan memusatkan diri dalam hidup doa dan meditasi tapi melupakan hidup persaudaraan. Padahal kita semua tahu bahwa cinta pada Allah tidak dapat dipisahkan dari cinta pada sesama.

Gereja adalah gambaran Kerajaan Allah di dunia. Bila anggota Gereja sudah menjadi individualis maka Gereja kehilangan hakekatnya sebagai Kerajaan Allah. Gereja bagai garam yang kehilangan asinnya. Gereja menjadi tanda yang tidak mampu menandakan atau mati. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tahun ada pertambahan anggota Gereja. Tapi mereka menjadi kecewa sebab Gereja yang digambarkan hanya merupakan kenangan masa lalu. Inilah tantangan kita saat ini untuk membangkitkan kembali Gereja yang telah mati, sehingga Gereja sungguh menjadi tubuh Kristus.

0 komentar:

Posting Komentar