Kamis, 08 Juli 2010

MEMBALAS DENDAM

Seorang bercerita dengan emosional tentang kemarahan, kebencian dan dendamnya pada saudaranya. Setelah mendengarkan ceritanya aku dapat memahami mengapa dia sangat marah dan benci pada saudaranya. Tapi aku yakin bahwa apa yang diceritakan tidak semua benar. Pasti ada nilai kebaikan dalam diri saudaranya. Karena saudaranya dapat membangun keluarga yang baik dan tampak bahagia. Rasanya sulit dipahami orang sejahat itu dapat membangun keluarga yang baik dan tampak bahagia. Maka aku tidak sepenuhnya menyetujui kemarahan dan dendam yang bertumpuk di dalam hati orang itu. Usulku agar dia mengampuni agar dapat hidup tenang langsung ditolaknya dengan nada keras. Baginya tidak ada lagi pengampunan bagi saudaranya. Dia pun bersumpah bahwa sampai matipun dia tidak akan mengampuni saudaranya.

Semula aku melihat bahwa orang yang bercerita padaku bukanlah orang yang kasar dan pemarah. Tapi karena dendam pada saudaranya maka dia berubah menjadi pemarah dan kasar. Keluarganya mengeluh akan perubahan ini. Kebencian yang menggumpal menjadi dendam dapat merubah seseorang secara total. Kebencian dan dendam bagaikan bangkai yang mengeram dalam hati sehingga menimbulkan bau busuk dan sangat menganggu. Membuat hidup tidak nyaman. Bila ingin memiliki hidup yang nyaman dan tenang harus punya keberanian untuk membuang bangkai itu.

Sebagai seorang Katolik seharusnya pengampunan bukan hal yang asing. Dalam doa Bapa Kami, yang setiap hari didoakan pun pengampunan menjadi salah satu syarat agar diampuni oleh Tuhan. Tapi karena doa hanya sekedar diucapkan dan kurang diresapi maka pengampunan menjadi hal yang asing. Tidak tertanam dalam hati dan menjadi dasar kehidupan. Kesulitan mengampuni sebab merasa bahwa dirinya tidak berdosa. Orang yang datang padaku melihat dirinya selalu benar. Semua kesalahan ada dalam diri saudaranya. Sebetulnya bila kita menyadari bahwa kita pun orang berdosa dan sering melakukan kesalahan, maka kita akan mudah mengampuni.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Rm 12:19). Dendam mendorong kita ingin membalas. Padahal menurut Rasul Paulus pembalasan adalah hak Allah. Kita tidak berhak membalas sakit hati kita. Tapi kita sering merasa menjadi Allah dan mengambil alih peran Allah untuk mengadili dan menghukum orang lain. Hal ini bukan berarti di dunia tidak perlu adanya hukum positip yang dibuat negara. Hukum tetap diperlukan agar adanya ketertiban. Manusia masih lemah. Bila tidak ada hukum maka dia akan dapat berbuat sesuka hatinya sehingga merugikan sesama. Adanya hukum pun belum menjadi jaminan akan terciptanya ketertiban dalam masyarakat, sebab orang mudah sekali tergoda untuk mengikuti dan memuaskan keinginannya sehingga berani melanggar hukum yang ada.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Mat 5:39). Ajaran ini sering dianggap lemah, sebab seolah kita membiarkan diri untuk ditindas. Sebetulnya tidak. Ketika Yesus ditampar oleh seorang pada saat diadili, Dia tidak memberikan pipi satunya untuk ditampar, melainkan Dia mempertanyakan mengapa Dia ditampar? Hal ini bukan berati Yesus tidak konsisten dengan ajaranNya. Tapi Dia membedakan penindasan. Bila penindasan itu ditujukan pada kebenaran yang menyangkut masyarakat luas, maka kita wajib mempertanyakan. Bertanya bukan berarti membalas kejahatan, melainkan membuka ruang dialog untuk menemukan kebenaran. Bila kesewenang-wenangan hanya menimpa kita, tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada orang lain, maka kita harus mengampuni. Bahkan kita diminta untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Hal ini sangat membutuhkan kebesaran jiwa yang didasari oleh kasih yang besar dan kesadaran bahwa Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu atas segala dosa yang telah kita lakukan.

0 komentar:

Posting Komentar