Rabu, 07 Juli 2010

DOA DAN PELAYANAN

Secara garis besar dalam Gereja ditemukan dua orang yang mempunyai pendapat yang bertentangan satu dengan yang lain tentang peran doa dalam kehidupan mereka. Sekelompok orang menyatakan buat apa berdoa bila tidak melayani. Lebih penting melayani umat secara nyata dari pada menghabiskan waktu untuk berdoa. Mereka melihat bahwa doa tidak akan mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Tuhan tidak datang melalui doa-doa untuk menyelesaikan masalah manusia. Kelompok ini sulit bila diajak untuk pertemuan doa, bahkan mereka sudah tidak mau ke gereja mengikuti perayaan sakramen. Mereka tetap percaya pada Yesus Sang Revolusioner.

Kelompok satunya tekun dalam doa dan meditasi tapi sangat sulit bila diajak untuk melayani kaum miskin. Bagi mereka relasi dengan Tuhan hanya dapat dijalin melalui doa dan meditasi. Mereka merasa bahwa pelayanan pada kaum miskin tidak akan pernah selesai. Kemiskinan adalah urusan negara. Bukan urusan mereka. Kelompok ini berusaha mencari kesalehan pribadi melalui doa-doa yang dijalankan secara ketat. Mereka beranggapan bahwa dengan senantiasa ingat akan Tuhan maka mereka tidak akan melakukan kejahatan yang melanggar hukum Tuhan. Mereka baik pada sesama dan berusaha hidup tanpa menyakiti atau merugikan sesama.

St. Vincentius a Paulo mengatakan, “Berilah aku seorang pendoa maka dia akan dapat melakukan segala hal.” St. Vincentius bukan hendak membentuk ordo pendoa. Dia adalah seorang yang peduli pada kaum miskin dan tertindas sehingga mendorong semua imamnya untuk melayani kaum miskin terutama di pedesaan dan tempat-tempat yang dihindari oleh orang. Tapi dia tetap menekankan kehidupan doa dan yakin bahwa seorang pendoa akan mampu melakukan pelayanan yang semakin baik. Pelayanan adalah buah dari doa dan meditasi. Dalam doa orang disadarkan akan belas kasih Allah dalam hidupnya. Belas kasih inilah yang dibagikan pada sesama. Dalam keheningan meditasi dia mencari kekuatan dari Allah sendiri untuk bertahan dan fokus pada misinya yaitu melayani kaum miskin. Godaan untuk meninggalkan pelayanan dan godaan untuk mencari kebangaan diri sangat kuat dalam pelayana. Dengan doa dan meditasi dia akan terus menerus diingatkan tujuan dari hidupnya yaitu melayani kaum miskin.

Uskup Oscar Romero seorang pejuang melawan penindasan juga menekankan kehidupan doa. Dia mengatakan “Jam-jam terbaik kita adalah jam yang kita habiskan dengan berlutut dihadapan Tuhan dalam doa kontemplatif.” Doa membuat hidupnya tenang dan damai yang terpancar kepada siapa saja yang datang padanya. Banyak orang bersaksi bahwa Uskup Romero adalah seorang yang banyak mendengarkan. Dia dapat membuat orang di sekitarnya merasa tenang meski dia tidak mengatakan apa-apa. Isi doanya merupakan ungkapan kegelisahan, kekalahan dan jeritan kaum miskin. Setiap dia mendengarkan keluhan kaum miskin dan melihat penderitaannya, maka semua dibawa dalam doa-doa dan meditasinya. Dengan demikian isi doa bukan hanya berbicara soal kepentingan diri tapi kepentingan umatnya. Kehidupan doa dan meditasi membuatnya menjadi pribadi yang tenang dan damai.

Yesus meluangkan waktu untuk berdoa. Dia meninggalkan banyak orang yang mencari untuk meminta kesembuhan. “Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." (Mrk 1:35-37). Bukan Yesus tidak mempunyai belas kasih pada orang yang membutuhkanNya, tapi relasi dengan Bapa adalah yang utama. Hidup Yesus adalah pelaksanaan dan perwujudan kehendak Allah di dunia. Bagaimana Dia tetap dapat memahami dan konsisten menjalankan kehendak Allah bila tidak mempunyai relasi yang baik? Doa dan karya adalah satu kesatuan integral. Tak terpisahkan. Tidak mungkin orang hanya menekankan satu hal dan mengabaikan yang lain. Semakin aktif melayani harusnya semakin aktif berdoa. Demikian pula sebaliknya. Semua pelayanan adalah perwujudan dari doa dan sebaliknya semua doa adalah ungkapan pelayanan dan pencarian kehendak Tuhan dalam pelayanan ini.

0 komentar:

Posting Komentar