Senin, 12 Juli 2010

MENGIKUTI YESUS

Keputusan mengikuti Kristus bukanlah sebuah keputusan mudah. Sejak awal Yesus sudah menyatakan apa yang akan terjadi bagi para pengikutNya. Mereka akan mengalami aneka penderitaan dan disingkirkan oleh banyak orang bahkan keluarganya sendiri. Orang akan bangga bila mampu mempersalahkannya. Situasi ini digambarkan oleh Yesus seperti anak domba yang berada di tengah serigala. Domba adalah hewan lemah yang tidak mempunyai senjata untuk mempertahankan diri apalagi menyerang musuh. Domba jantan memang mempunyai tanduk untuk mempertahankan diri, tapi Yesus menggambarkan pengikutNya sebagai anak domba. Hewan yang lemah. Mereka hanya mampu lari dan bersembunyi. Sedang di sekitarnya ada serigala. Hewan buas yang mempunyai kebiasaan berburu dalam jumlah banyak. Mereka suka mengeroyok mangsanya. Dalam fabel, sosok serigala sering untuk untuk menggambarkan sifat yang licik, culas dan kejam. Sebaliknya domba adalah gambaran sifat yang tulus dan tidak berdaya. Suka hidup damai dan cenderung bodoh. Gambaran Yesus ini menunjukkan betapa beratnya mengikuti Dia.

Pada umumnya orang mengikuti seorang tokoh dengan harapan dia mendapatkan sesuatu. Simon pun berharap akan mendapat sesuatu. “Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Kita pun mengikuti Yesus dengan harapan mendapat berkat berlimpah, sehingga ada orang yang mengajarkan bahwa mengikuti Yesus adalah mengikuti raja. Bahkan kita diangkat sebagai anak raja. Sebagai anak raja kita tidak akan berkekurangan.

Orang mengikuti seorang tokoh juga berharap mendapatkan posisi bagi hidupnya. Yakobus, Yohanes, dan murid yang lain berusaha menjadi yang terutama dan utama. Mereka berharap mendapat kekuasaan dan popularitas. Apa yang diharapkan oleh para murid Yesus adalah hal yang wajar terjadi dalam dunia. Orang ingin mendapatkan yang baik dari keputusannya. Ketika Soeharto masih berkuasa, maka banyak orang membangun tekad bulat menjadikan dia sebagai presiden seumur hidup agar mendapat kedudukan dan jabatan. Tapi setelah Soeharto jatuh, maka banyak orang mulai mencaci makinya. Menghujatnya seolah dia sejak awal telah menjadi oposisi dari rejim yang berkuasa.

Mengikuti Yesus juga bukan mencari damai. "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10:34). Menerima Yesus berarti menerima ajaranNya yang berbeda dengan ajaran dunia. Siap untuk dilawan oleh dunia yang lebih suka tinggal dalam kegelapan. Ajaran Yesus adalah kebenaran. Bila kita hidup dalam kebenaran universal, maka kita akan berhadapan dengan para penolak kebenaran yang jumlahnya jauh lebih banyak. Dalam masyarakat sering kali kebenaran diputarbalikkan. Orang jujur akan hancur. Keadilan diperjualbelikan. Bila kita tetap meletakkan kebenaran di atas segalanya, maka kita harus berhadapan dengan serigala-serigala yang buas.

Kita mengikuti Yesus bukan mencari musuh atau suka menyakiti diri sendiri, melainkan kita ingin membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Membangun masyarakat yang berlandaskan pada kebenaran universal, bukan kebenaran sempit sesuai dengan pandangan agama atau adat tertentu. Berani berjuang membela kaum miskin dan tertindas. Inilah yang sering kali dilawan oleh dunia. Ketidakberdayaan bagaikan domba membuat kita berserah pada Allah. Membiarkan Allah yang berkuasa dalam diri kita. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2Kor 12:9). Dalam penderitaan kita mencari kekuatan dari Allah dan mengimani bahwa Allah lebih berkuasa daripada segalanya. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fl 4:13). Tapi sering kita ragu akan kekuatanNya dan terlalu melihat kekuatan diri sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar