Sabtu, 05 Februari 2011

HEMAT....

Akhir-akhir ini ada iklan sebuah provider telepon selular yang menekankan hidup hemat. Bila tidak salah sudah ada dua versi iklan bagaimana orang hidup hemat. Sepintas iklan ini cukup lucu, tapi bisa memberikan ajaran yang keliru soal hidup hemat. Dalam versi iklan yang kedua, ditayangkan seorang pemuda yang menyemprotkan parfum di tubuhnya, padahal parfum itu ada dalam deretan rak sebuah toko. Dia tidak membelinya. Dia pun sambil sibuk menelpon mengambil makanan dan minuman milik teman-temannya dengan alasan hemat. Sikap pemuda itu menyesatkan bagi pemirsa. Memakai parfum yang ada di toko tanpa membeli sama saja dengan mencuri, kecuali bila parfum itu menjadi tester yang biasanya ditawarkan oleh seorang SPG atau ada tulisan tester di botol parfum. Mengambil makanan orang tanpa permisi juga merupakan ajaran yang tidak sopan. Apalagi memakan dan meminum milik orang lain yang sudah dimakan atau diminum dapat menularkan penyakit.

Kita memang harus hidup hemat. Beberapa tahun lalu ketika negara sedang mengalami krisis ekonomi kita sering mendengar slogan kencangkan ikat pinggang. Slogan itu meminta semua warga untuk memperketat pengeluaran agar krisis ekonomi segera dipulihkan. Dengan demikian negara mengajak penduduk untuk hemat bukan sekedar tidak belanja tapi mempunyai tujuan bersama yaitu mencapai kesejahteraan bersama, meski dalam realitanya hanya rakyat miskin yang harus mengencangkan ikat pinggang sedangkan para penguasa negara tetap menjalankan hidup boros seperti sedia kala.

Hemat adalah salah satu nilai yang ada dalam masyarakat dan diajarkan sejak masih anak-anak. Ada orang yang memberikan pengertian bahwa hidup hemat adalah hidup yang sederhana. Dia boleh membeli apa saja tapi yang sungguh dibutuhkan. Tapi saat ini banyak orang membeli sebab dia punya uang bukan karena dia membutuhkan. Orang membeli komputer yang canggih tapi dia hanya mampu menggunakan untuk membuat tulisan atau mendengarkan lagu, maka dia disebut tidak hemat. Sebaliknya orang membeli lampu dengan merk terkenal dan cukup mahal dia dapat disebut hemat sebab lampu itu awet dan tidak membutuhkan energi listrik yang besar.

Hidup hemat juga dapat diartikan orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Perkembangan tehnologi sangat cepat sehingga setiap saat muncul produk baru. Bila kita terus menerus mengikuti perkembangan tehnologi maka tidak akan pernah berhenti untuk membeli. Apa yang terhebat pada hari ini besok sudah ada yang lebih hebat lagi. Maka perlu merasa cukup dengan apa yang ada pada kita. Seorang teman mengatakan bahwa sudah hampir 5 tahun dia tidak pernah ganti HP, sebab baginya HP yang dimiliki masih berfungsi dengan baik. Dia merasa cukup dengan HP yang dimiliki. Orang yang merasa cukup maka dia mampu mengendalikan pengeluarannya. Tapi ada banyak orang yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki. Dia sudah memiliki rumah satu lalu beli lagi meski akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah ditinggali. Orang membeli pakaian meski pakaian yang dimiliki masih banyak yang cukup bagus, hanya karena ada model terbaru maka dia membeli.

Maka agar dapat hidup hemat kita harus mampu mengendalikan diri. Memperhitungkan setiap pengeluaran. Hidup hemat bukan berarti pelit yaitu sikap yang berusaha sedikit mengeluarkan demi menumpuk kekayaan. Iklan provider telepon selular yang sering muncul pada saat ini tentang hidup hemat sebetulnya mengajarkan hidup pelit. Dia tidak mau mengeluarkan uang dan merasa lebih baik meminta pada orang lain. Bila hidup hemat tujuannya hanya mengumpulkan uang bagi diri sendiri, maka dapat dikatakan bahwa orang semacam itu adalah orang yang egois. Terlalu memusatkan pada kenyamanan diri. Dia seperti orang kaya yang ingin membuat lumbung untuk menyimpan hasil panennya sehingga dia dapat menikmati hidup pada masa tuanya (Luk 12:16-21). Hidup hemat mempunyai tujuan yang mulia yaitu demi kesejahteraan bersama. Kita memperhitungkan setiap pengeluaran agar ada yang dapat berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan. Disinilah manfaat dan nilai dari hidup hemat.

0 komentar:

Posting Komentar