Selasa, 22 Februari 2011

KUATIR


Seorang teman bercerita tentang beratnya hidup pada jaman ini. Dia bercerita panjang lebar tentang segala kecemasannya. Padahal aku tahu bahwa dia termasuk orang yang ekonominya telah mapan. Anak-anaknya pun sekolah di sekolah yang termasuk bagus dan mahal. Tapi mengapa dia masih merasakan banyak kekuatiran sehingga merasa tertekan? Ketika mengantar orang itu sampai halaman, seorang tukang becak yang biasa mangkal di depan gereja menyapaku. Aku pun datang padanya dan berbasa basi sejenak. Di sebelah becaknya ada teman tukan becak yang sedang menikmati tidur siang. Tidurnya sangat pulas. Dia tidak terganggu kendaraan yang lalu lalang. Aku dan bapak tukang becak yang menyapaku melihat orang itu sambil tersenyum.

Ada perbedaan besar antara tamu yang datang padaku dengan tukang becak itu. Satu orang sering cemas meski sudah mempunyai banyak hal sedangkan yang lain tenang menikmati hidupnya. Bagiku orang yang dapat tidur pulas seperti itu pasti pikirannya tenang. Bila orang dalam pikirannya penuh dengan kegelisahan pasti dia tidak dapat tidur nyenyak bahkan mungkin tidak bisa tidur meski badannya capek. Maka tidak ada orang yang memaksa tidur dengan meminum obat tidur. Tukang becak itu dapat tidur tanpa merasa takut miliknya akan dirampas atau diambil orang. Satu-satunya kekayaan yang ada padanya hanya becak yang ditidurinya. Sedangkan orang yang mempunyai banyak hal sering takut ada orang yang akan mengambil apa yang dimilikinya.

Dalam pikiranku melintas bahwa kekuatiran disebabkan orang terlekat pada barang atau impian atau cita-cita. Dalam buku berjudul “Ketika Mimpi-Mimpi Tak Terwujud” karangan Harold S Kushner, ditulis bahwa semakin orang mempunyai banyak impian semakin dia mudah gelisah dan kuatir akan impian yang tidak terwujud. Orang boleh saja mempunyai impian dan mengejar impian-impian itu tapi bukan berarti impian itu menguasai diri. Orang menjadi tidak bahagia sebab dirinya penuh impian atau impian yang diraihnya ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Ketika akan pergi ke sebuah tempat rekreasi yang belum pernah dikunjungi orang dapat membayangkan keindahan taman rekreasi itu dan membayangkan apa saja yang akan dilakukannya. Tapi ternyata sesampainya di taman rekreasi ternyata taman itu tidak seindah yang dibayangkan. Dia menjadi kecewa. Selain itu orang sering gelisah apakah dia akan mampu meraih apa yang diimpikan atau tidak. Semakin banyak impian yang ingin diraih semakin banyak kecemasan dan kegelisahan yang tumbuh dalam diri.

Beberapa kali Yesus bersabda “jangan kuatir,”, sebab kekuatiran tidak akan menambah apapun dalam hidup kita. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya.” (Mat 6:27). Kekuatiran dapat timbul sebab kita ingin segalanya terjadi seperti yang kita inginkan padahal kita tahu bahwa segalanya bisa terjadi diluar yang kita inginkan. Ada hal-hal diluar perhitungan kita yang dapat muncul tanpa kita duga. Maka Yesus menghendaki agar kita berserah pada Allah. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh 14:1). Kekuatiran juga disebabkan kita tidak ingin kehilangan apa yang kita miliki atau kita inginkan. Semakin banyak yang kita miliki semakin banyak kekuatiran dalam hati. Tukang becak tidak memiliki apa-apa maka dia tidak kuatir akan banyak hal.

Orang tidak merasa kuatir bila dia mempunyai semangat miskin. Hal ini bukan dia tidak memiliki apa-apa melainkan dia melihat apa yang dimilikinya sebagai bukan miliknya melainkan milik Allah yang dapat diambil setiap saat. Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah yang mengatur hidupnya bukan dia yang mengatur Allah agar memenuhi apa yang menjadi kehendaknya. Dia memiliki segala sesuatu tapi tidak menjadikan miliknya itu sebagai yang dibanggakan, sebab semua adalah milik Allah. Kalau dia tidak memiliki segala sesuatu atau sedang dalam penderitaan maka dia tetap dapat berharap bahwa Allah akan menolongnya. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:34)

0 komentar:

Posting Komentar