Selasa, 01 Februari 2011

GARAM DAN TERANG DUNIA

Yesus memberikan dua perumpamaan tentang garam dan terang dan dalam Injil Matius kedua perumpamaan itu diletakkan berurutan. Perumpamaan sangat sederhana tapi sangat dalam maknanya. Yesus memang mengajarkan hal sederhana kepada banyak orang agar mereka dapat memahaminya. Ajaran Yesus tidak langsung dicatat oleh para penulis Injil melainkan diceritakan oleh para rasul kemudian dikumpulkan oleh para penulis Injil untuk disusun menjadi satu buku. Ada kemungkinan kedua perumpamaan tadi dikatakan oleh Yesus secara terpisah, tapi oleh penulis Injil Matius disusun seolah dikataan berurutan. Penempatan kedua perumpamaan yang berurutan juga sangat mengagumkan, sehingga memperjelas dan memperteguh satu dengan yang lain.

Semua orang pada jaman itu tahu bahwa salah satu fungsi garam adalah untuk mengubah rasa dari tawar menjadi enak. Selain itu fungsi garam adalah untuk mengawetkan makanan agar tidak mudah busuk. Sedangkan fungsi terang sudah jelas agar manusia bisa melihat segala sesuatu. Pada akhir perumpamaan Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:16). Inilah perintah Yesus agar kita berbuat baik sehingga dilihat orang dan mereka memuliakan Bapa yang di sorga. Terang dikaitkan dengan perbuatan baik.

Dengan demikian Yesus menghendaki kita menjadi orang yang mampu menunjukkan perbuatan baik, sehingga orang lain menyadari atau melihat kemuliaan Allah. Tidak semua perbuatan yang tampaknya baik dapat membawa orang sampai melihat atau menyadari kemuliaan Allah, sebab banyak orang berbuat baik hanya sekedar berbuat baik. Ada pula orang berbuat baik untuk menunjukkan kemuliaannya sendiri. Kita sering mendengar orang mampu melakukan penyembuhan atau berbuat mujijat yang mengagumkan, sehingga banyak orang akan berbondong-bondong hadir dimana dia berada. Mereka kagum pada si pembuat mujijat. Memang tidak jarang dalam acara semacam itu nama Allah dikumandangkan. Orang dengan bersemangat memuliakan nama Allah. Tapi apakah mereka akan beriman pada Allah setelah pembuat mujijat itu pergi? Apakah mereka juga mampu membuat orang lain memuliakan Allah?

Beberapa kali Yesus menyembuhkan yang membuat banyak orang memuliakan Allah. Orang buta yang disembuhkan oleh Yesus menjadi orang yang berani melawan para imam dan ahli taurat yang berusaha untuk mempertanyakan kuasa Yesus. Dia pun menjadi percaya pada Yesus. “Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.” (Yoh 9:38). Mujijat Yesus mengubah orang itu. Dalam Injil Lukas pun diceritakan hal yang hampir sama. Seorang pengemis buta yang disembuhkan Yesus lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. “Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” (Luk 18:43). Dia tidak memuliakan Yesus begitu pula rakyat banyak yang melihat hal itu. Mereka tidak memuliakan Yesus.

Perbuatan baik harus seperti garam yang dapat mempengaruhi dan mengubah orang. Banyak orang mengeluh bahwa orang yang dibantunya sekian lama ternyata tidak berubah. Dia menjadi bergantung pada bantuan dan hidupnya tidak berubah. Hal ini disebabkan ketika membantu kita tidak bertujuan memuliakan Allah. Kita hanya merasa kasihan. Bantuan adalah sarana kita untuk membuat orang menyadari belas kasih Allah dalam hidupnya. Hal ini tidak cukup dengan sekedar memberi. Perlu adanya sentuhan pribadi. Dalam melakukan mujijat Yesus sering mengadakan dialog dengan orang yang menderita agar tercipta relasi secara personal. Maka tidak mungkin menolong orang dalam jumlah yang besar. Hanya sekali Yesus menolong orang dalam jumlah yang besar yaitu saat menggandakan roti. Dalam dialog itu Yesus mewartakan Allah dan hadirnya Kerajaan Allah. Hal ini bukan berarti bahwa bantuan menjadi sarana pengkristenan apalagi menunjukkan kehebatan diri. Bantuan kita untuk mengubah orang menjadi mampu bersyukur pada Allah atas segala yang diterimanya melalui kita.

0 komentar:

Posting Komentar