Selasa, 08 Februari 2011

SAYA BUKAN ORANG BERDOSA

Seorang datang padaku. Dia mengatakan bahwa akan pergi berziarah ke Israel. Dia mengatakan bahwa romo pembimbing ziarah menyarankan agar dia mengaku dosa terlebih dahulu sehingga ketika di tanah suci hatinya pun sudah suci. Aku anggap saran romo ini cukup bagus. Ketika berjalan ke ruang pengakuan orang itu mengatakan bahwa dia bingung mau mengaku apa, sebab dia merasa tidak berdosa. Sambil tersenyum kukatakan ya sebaiknya tidak perlu mengaku dosa bila merasa tidak punya dosa. Tapi orang itu memaksa sebab itu syarat yang harus dilakukan. Dia mengatakan sejak baptis sekitar 25 tahun lalu sekalipun dia belum pernah mengaku dosa sebab dia yakin bahwa baptis telah menghapus semua dosanya. Setelah baptispun dia merasa bahwa tidak pernah berbuat dosa lagi. Akhirnya orang itu aku doakan dan berkati.

Sebetulnya mendengar pernyataan orang itu aku tertawa dalam hati. Bagiamana orang dapat mengatakan bahwa dia tidak berdosa? Tetapi aku hargai kejujurannya itu, sebab memang sering orang merasa bahwa dia tidak berdosa. Saat menjelang Paskah atau Natal banyak orang mengaku dosa. Banyak dari mereka datang ke ruang pengakuan hanya karena kewajiban atau menjalankan ritus atau kebiasaan atau yang lainnya tapi tidak berdasarkan kesadaran bahwa dirinya adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan. Akibatnya mereka bingung akan dosanya atau sibuk mencari-cari dosa bahkan ada pula yang menceritakan dosa orang lain. Karena orang tidak sadar akan dosanya, maka jumlah umat yang menerima sakramen pengakuan dosa menjelang Paskah dan Natal sangat sedikit. Seorang teman mengatakan bahwa dia dan 3 imam lain menerima kira-kira 100 umat yang mengaku dosa dalam satu malam saja. Jika demikian dalam satu hari ada 400 umat yang mengaku dosa. Bila pengakuan dosa dilakukan selama 4 hari maka ada 1600 umat yang mengaku dosa. Padahal jumlah umat di paroki itu sekitar 10.000 lebih, jadi yang mengaku dosa belum mencapai 20%.

Orang tidak menyadari bahwa dirinya berdosa sebab dia sudah terbiasa melakukan dosa, sehingga dia tidak merasakan dosa lagi. Hatinya sudah kehilangan kepekaan akan dosa, sehingga bila berbuat dosa dia menganggapnya hal biasa atau wajar. Apalagi bila orang beranggapan bahwa pengakuan dosa hanya dilakukan menjelang Natal atau Paskah, maka banyak dosa yang tidak diingatnya lagi. Ada pula orang yang hanya merasa berdosa bila dia melanggar 10 perintah Allah yang diberikan pada Musa. Padahal oleh Yesus 10 perintah Allah dijabarkan lebih luas. “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Mat 5:21-22). Dengan demikian bila kita mengikuti ajaran Yesus dalam kotbah di bukit maka sebetulnya kita mempunyai banyak dosa yang membutuhkan pengampunan dari Allah.

Dosa juga bukan karena kita aktif atau melakukan sebuah tindakan yang melanggar perintah Allah, tapi juga karena kita pasif atau tidak melakukan perintah Allah. Dalam kisah orang kaya dan Lazarus, orang kaya itu tidak melanggar perintah Allah. Tapi dia tidak melakukan belas kasih pada sesama, maka dia dihukum oleh Allah. Begitu juga seorang kaya yang merasa bahwa dia sudah menjalankan semua perintah Allah tapi dia tidak berani melepaskan hartanya maka dia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Surga (Luk 18:18-25). Dengan demikian sebetulnya kita semua adalah orang berdosa.

Untuk memiliki kesadaran akan dosa kita membutuhkan sikap rendah hati. Menyadari akan kelemahan diri yang mudah tergoda oleh bujukan iblis yang dapat menjauhkan kita dari Allah dan sesama. Selain itu perlu waktu untuk merefleksi diri sejauh mana kita telah melawan kasih Allah dan sesama. Masalahnya kita sering tenggelam dalam kesibukan sehingga tidak mempunyai waktu untuk refleksi diri, sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan berbuat melawan kasih kepada Allah dan sesama.

0 komentar:

Posting Komentar