Rabu, 09 Februari 2011

SIMEON DAN EKARISTI


Dalam Injil Matius digambarkan seorang saleh yang bernama Simeon. Dia menantikan Mesias dan mendapat anugerah dari Allah bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Dia pun dikuasai oleh Roh Kudus. Ketika dia melihat Yesus dalam gendongan Maria, Simeon sangat suka cita sebab masa penantiannya sudah selesai. Dia siap untuk mati sebab dia sudah melihat apa yang dinantikan yaitu pembawa keselamatan bagi seluruh dunia. Apa yang diharapkan oleh Simeon merupakan harapan seluruh bangsa Israel yaitu kedatangan Mesias yang akan menegakkan kembali tahta Daud. Harapan ini muncul menguat ketika mereka dalam pembuangan Babel. Tapi Simeon memperluas makna Mesias bukan hanya untuk bangsa Yahudi, tapi Mesias adalah terang bagi seluruh bangsa “sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (Luk 2:30-31)

Kita saat ini tidak lagi menunggu keselamatan yang dijanjikan Allah, sebab Yesus telah hadir. Yesus telah menunjukkan keselamatan yang dibawaNya dalam kehidupan umat Israel yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Kita telah melihat keselamatan bahkan telah menerima keselamatan itu. Seharusnya kita jauh lebih bahagia dibandingkan Simeon, sebab dia baru sebatas melihat bayi Yesus sedangkan kita sudah menerima keselamatan yang dibawaNya. Kita sudah menikmati kepenuhan janji Allah yang dinantikan oleh umat Israel. Tapi sungguhkah kita lebih bahagia daripada Simeon?

Tidak jarang orang Katolik merasa hidupnya tidak bahagia menjadi Katolik atau ada juga yang hambar. Dia mengikuti perayaan sakramen dan berdoa tapi tidak ada kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh Simeon. Akibatnya dia mengalami kejenuhan dan semua menjadi rutinitas belaka. Doa-doa yang diucapkan hanya sekedar di mulut tapi tidak melibatkan hati. Ketika bernyanyi pun dia kehilangan kegembiraan. Dalam mengikuti perayaan sakramen dia hanya merasa sebagai kewajiban, sehingga ketika pulang dia merasa tidak mendapatkan apa-apa. Atau dia menghabiskan waktu dalam misa di gereja untuk melakukan hal-hal lain yang seharusnya dilakukan di luar gereja.

Mungkin hal ini disebabkan mereka telah kehilangan kerinduan seperti yang dimiliki Simeon. Kerinduan yang kuat mampu mengarahkan semua perbuatan, tindakan dan rasa pada terpenuhinya hal yang dinantikan itu. Seorang anak kecil yang ditinggal ibunya pergi maka dia akan menantikan dengan penuh kerinduan kedatangan ibunya. Ketika melihat ibunya datang maka dia akan menyongsong ibunya dengan penuh suka cita. Suka cita semacam itulah yang ada dalam diri Simeon. Suka cita terpenuhinya kerinduan yang sangat mendalam. Kita tidak merasakan kerinduan yang kuat untuk menantikan penyelamatan seperti yang dirasakan oleh Simeon.

Ekaristi adalah sakramen keselamatan. Dalam sakramen itu Yesus hadir bukan hanya secara Roh yang menyatukan umat sebagai tubuh dan Dia sebagai kepala, tapi juga secara fisik dalam wujud Tubuh dan DarahNya dalam hosti. Kehadiran Yesus ini tidak menjadi kerinduan lagi, sebab kita sudah sering bahkan mungkin tiap hari menerima hosti. Hilangnya kerinduan ini membuat hati kita menjadi hambar saat mengikuti ekaristi atau menerima hosti. Ada orang yang setiap pagi mengikuti ekaristi dengan alasan bila tidak mengikutinya maka dia merasa ada sesuatu yang hilang. Ekaristi menjadi bagian dari rutinitas kehidupannya sehari-hari, sehingga dia tidak merasakan suka cita yang besar. Hal ini berbeda dengan umat di desa terpencil yang jarang sekali ada perayaan ekaristi. Ketika menerima hosti seorang ibu berderai air matanya karena bahagia. Dia sangat merindukan mengikuti ekaristi tapi jarang sekali ada imam maka ketika ada imam datang dan merayakan ekaristi ibu ini sangat suka cita. Hal ini bukan berarti kita yang dapat mengikuti ekaristi setiap hari tidak perlu mengikutinya lagi, melainkan perlu adanya perubahan sikap batin. Kita sudah membangun kerinduan untuk menerima Yesus sejak berangkat dari rumah, sehingga ada semangat dan suka cita untuk mengikuti ekaristi dan menerima Yesus dalam hidup kita. Kerinduan ini akan membuat mengalami suka cita seperti yang dialami oleh Simeon.

0 komentar:

Posting Komentar