Sabtu, 12 Februari 2011

INDAHNYA PERBEDAAN

Akhir-akhir ini negara kita diguncang oleh tindak kekerasan sekelompok orang karena masalah agama. Kekerasan karena semacam ini bukanlah hal baru dalam negara kita. Sudah terjadi berulang-ulang dan tidak ada penyelesaian yang tuntas. Kasus Poso, Ambon dan sebagainya. Memang kekerasan itu pernah sampai ke meja pengadilan dan memakan kurban yaitu Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu yang ditangkap pada bulan Juli dan Agustus 2000. Mereka dijatuhi hukuman mati pada April 2001 lalu dieksekusi pada 22 September 2006. Hukuman mati ini menyisakan kontroversi, sebab memang tampaknya pemerintah hanya ingin memuaskan satu kelompok saja. Selebihnya biasanya diselesaikan dengan pertemuan damai dan membuat perjanjian tidak akan saling menyerang meski kurban nyawa dan harta cukup banyak. Kita saat ini hanya mampu menunggu apakah kekerasan terakhir yang terjadi di Banten dan Temanggung akan berakhir di meja persidangan atau hilang begitu saja.

Suatu sore aku mengobrol dengan seorang bapak tua yang biasa kami panggil abah. Umurnya sudah hampir 60 tahun. Jenggotnya banyak yang memutih. Ada dua lingkaran hitam di dahinya. Sambil minum kopi di warung tempat biasanya kami ketemu, kami berdiskusi tentang video yang menayangkan kekerasan dalam kerusuhan di Cikeusik, tanggal 6 Februari lalu. Abah mengatakan bahwa dia sangat sedih melihat kejadian itu. Baginya itu bukan tindakan kaum beriman tapi binatang. Abah menyesalkan bahwa banyak orang yang belum faham kitab suci tapi sudah merasa faham atau menafsirkan kitab suci dari sudut kepentingan mereka. Misalnya kata jihad atau perjuangan yang sering disempitkan dengan menyerang orang lain. Padahal perjuangan itu sangat luas. Orang ikut menyiram rumah yang sedang terbakar saja dia sudah melakukan jihad. Tapi karena ada kepentingan kekuasaan dan uang maka jihad menjadi salah kaprah.

Banyak orang menduga bahwa kerusuhan yang terjadi di Temanggung dan Cikeusik itu bukan murni soal agama tapi ada yang menunggangi dan menggerakkan. Bila memang demikian maka latar belakangnya pasti uang atau kekuasaan. Aku ketika berkumpul dengan teman-temanpun pernah diserang oleh sekelompok orang yang menyatakan diri sebagai kaum agamawan. Mereka dengan beringas menyerang kami. Beberapa waktu kemudian salah satu penyerang bergabung dalam kelompok kami. Ternyata dia adalah seorang preman yang dibayar Rp 75.000.

Terlepas dari soal orang agamawan bayaran, tapi ketegangan antar agama memang masih terjadi di negara kita. Para tokoh agama sudah sering berkumpul mengadakan dialog-dialog formal di hotel atau tempat pertemuan tapi kerusuhan di akar rumput masih saja terus terjadi. Hal ini disebabkan pertemuan itu berhenti di ruang pertemuan dan belum sampai pada akar rumput. Dalam pertemuan yang terjadi lebih pada basa basi tanpa membangun persahabatan yang nyata. Orang hanya sibuk memuji dan membuat slogan “agamamu agamamu, agamaku agamaku” atau lainnya. Tapi di luar ruang pertemuan benteng-benteng kuat dibangun kembali.

Aku dan abah tidak pernah bertemu dalam forum resmi untuk mendiskusikan ajaran agama yang jelas berbeda. Kami biasa duduk di warung kopi menikmati segelas kopi seharga Rp 2500 sambil mengobrol kian kemari. Dalam obrolan itu kami tidak saling sungkan untuk mengolok agama masing-masing tanpa ada rasa sakit hati apalagi ingin membunuh. Kami menyadari bahwa sejarah agama kami punya lembaran-lembaran hitam yang tidak perlu diulang. Kesadaran ini membuat kami tidak menjadi sombong dan merasa diri paling benar. Selain itu kesadaran bahwa kami sama-sama manusia yang harus saling menghormati membuat kami berusaha menghormati satu dengan yang lain apapun pilihannya. Dari sinilah muncul rasa persahabatan. Abah dan aku sudah yakin akan pilihan agama kami, maka kami tidak takut akan pindah agama meski melihat kelemahan agama kami. Seandainya semua orang yakin akan agamanya dan menyadari bahwa semua manusia semartabat, maka tidak akan ada lagi kerusuhan berdasarkan agama. Kita bisa hidup damai dalam aneka perbedaan

0 komentar:

Posting Komentar