Senin, 28 Februari 2011

KETERLEKATAN

Suatu hari aku diajak seorang teman untuk datang ke sebuah resepsi perkawinan di sebuah tempat yang sangat mewah. Sebetulnya aku enggan datang ke pesta, sebab aku merasa asing ditengah orang-orang yang rapi dan berpakaian bagus serta acara yang menurutku sangat membosankan. Tapi karena ajakan dan demi menghargai orang yang menikahkan anaknya aku terpaksa hadir. Ketika kami berjalan dari tempat parkir ke gedung pesta, baju temanku terkait sebuah ranting bunga kering sehingga ada sedikit lubang di bahunya. Dia menjadi gelisah dan mengatakan ingin pulang untuk ganti baju. Aku memaksa untuk terus saja masuk ke ruang pesta. Bila ganti baju dan kembali lagi ke tempat itu maka akan memakan waktu yang lama. Temanku memaksa untuk pulang. Aku pun berteguh agar terus ke gedung sebab lubang itu tidak akan terlihat oleh siapa pun kecuali ada orang yang sangat memperhatikan bahunya.

Temanku kuatir lubangnya di bajunya akan mengurangi penampilannya. Dia kuatir akan penilaian orang. Dalam hidup kita mempunyai banyak hal yang ada dalam diri kita. Hal itu dapat merupakan hasil yang kita perjuangkan misalnya kekayaan, prestasi, jabatan, penampilan dan sebagainya. Ada pula yang sudah ada sejak lahir seperti wajah yang tampan, talenta, kepandaian dan sebagainya. Semua itu ingin dipertahankan sekuat tenaga. Sebetulnya inilah mammon. Bagiku mammon bukan hanya uang atau materi saja tapi sesuatu yang kita miliki. Sesuatu yang dapat membuat kita meninggalkan atau mengabaikan Tuhan demi apa yang ada pada kita. Seorang pernah sharing bahwa dia terpaksa meninggalkan iman Katolik, sebab bila dia terus mempertahankan imannya maka dia tidak akan naik jabatan. Atau orang meninggalkan imannya demi menikah dengan pacarnya yang beragama lain dan sebagainya.

Orang bisa tidak terlekat bila dia mempunyai semangat miskin. Semangat miskin belum tentu dia seorang miskin. Semangat miskin bila seseorang tidak lagi terlekat pada aneka hal yang ada padanya, seperti orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Orang yang bersemangat miskin hanya bergantung dan terlekat pada Tuhan saja. Dia berani melepaskan segalanya demi Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan melindungi dirinya. Orang yang bersemangat miskin dia tidak akan kuatir dalam segala hal, sebab Tuhan tidak akan melupakannya. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes 49:15).

Orang yang tidak terlekat dia akan menjadi orang bebas. Temanku yang terlekat pada penampilannya dia menjadi orang yang tidak bebas. Dia takut dilihat orang. Bila dia melihat orang tersenyum maka dia menduga bahwa orang itu telah melihat lubang di bahunya. Pesta yang sebetulnya menjadi tempat yang menyenangkan berubah menjadi tempat yang membuatnya menderita. Kemana saja dia bergerak seolah ada orang yang memperhatikan lubang di bahunya. Dia terlekat pada penampilannya. Yesus adalah manusia bebas. Meski Dia tahu bahwa pada hari sabat orang tidak boleh bekerja tapi Dia melakukan perbuatan yang dianggap melanggar hari sabat. Dia bebas makan tanpa cuci tangan meski hal itu melanggar adat dan sebagainya.

Anthony de Mello menulis, dimana ada cinta disitu ada ketidakteraturan. Apa yang ditulisnya menggambarkan secara tepat sikap Yesus. Dia menjunjung kasih sehingga membuat sesuatu yang teratur menjadi tidak teratur. Dia mendobrak batasan yang dibuat oleh manusia yaitu keterlekatan pada suku, budaya, adat, aturan agama dan sebagainya. Baginya hanya satu yang harus dilakukan yaitu memuliakan Allah. Dia pun tidak peduli terhadap penilaian orang tentang diriNya. Sedangkan kita berusaha mempertahankan apa yang ada atau berusaha meraih sebanyak mungkin segalanya agar dipuji orang lain. Bagi Yesus kemuliaan diberikan oleh Allah. “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku.” (Yoh 8:54). Maka bila kita hanya mencari kemuliaan dari Allah maka kita tidak akan kuatir dengan segala hal yang ada pada diri kita.

0 komentar:

Posting Komentar