Rabu, 02 Maret 2011

SAHABAT


Misa anak SD seperti biasa ramai. Anak-anak memang menyimpan energi yang tidak ada habisnya, sehingga sulit untuk duduk diam dan tenang. Dalam kotbah aku bertanya tentang sahabat. Siapakah orang yang dapat disebut sahabat? Beberapa anak lalu maju dan mengemukakan pendapatnya. Bagi mereka sahabat adalah teman yang menyenangkan baginya. Teman yang dapat diajak bermain. Teman yang membantu ketika mereka sedang sedih. Teman yang mencintainya dan masih banyak lagi pendapat yang mereka kemukakan sambil berdesak-desakan dekat altar. Apa yang diungkapkan oleh anak-anak SD ini masih banyak diyakini oleh orang yang menganggap dirinya dewasa. Banyak orang masih menggambarkan bahwa sahabat adalah orang yang memahami, membantu, menyenangkan, mencintai dan sebagainya. Tapi semua berujung kepada kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Oleh karena pusatnya adalah diri sendiri, maka persahabatan dapat terjalin bila orang lain dapat menyenangkan diri kita. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyenangkan kita maka kita anggap sebagai musuh. Maka sering kali terjadi persahabatan menjadi putus bila salah satu dianggap tidak menyenangkan. Pada jaman ini dimana mentalitas banyak orang sudah terpengaruh oleh neoliberalisme dimana semua diukur dari untung rugi, maka persahabatan semakin sulit terjadi. Orang membangun relasi bila relasi itu menguntungkan bagi dirinya atau menyenangkan dirinya. Sirakh mengingatkan agar kita berhati-hati dalam memilih sahabat, sebab tidak semua orang yang mengaku sebagai sahabat adalah orang yang dapat setia baik dalam suka maupun duka. “Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu.” (Sir 6:9-10)

Dalam kehidupan beriman pun orang mengatakan bahwa Yesus adalah sahabat, sebab Yesus baik, melindungi, menolong dan sebagainya. Semua tetap berpusat pada diri sendiri. Maka tidak jarang orang meninggalkan Yesus sebab dia mengalami hal yang berbeda dari yang diharapkanya. Yesus sudah mengangkat kita menjadi sahabatNya. Sahabat bagi Yesus adalah orang yang tahu semua apa yang Dia kerjakan. Orang yang menjalankan perintahNya. Orang yang membuatNya berani menyerahkan nyawaNya. (Yoh 15:13-15). Yesus tidak mengambil keuntungan dari persahabatan yang dibangunnya dengan kita. Sebaliknya Dia mengurbankan diri bagi kita.

Sahabat bukan sekedar orang yang menyenangkan, melainkan orang yang menuntun kita atau membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Yesus menuntun dan membuat para murid lebih baik, maka beberapa kali Dia berkata keras dan tegas pada para muridNya, sehingga membuat banyak orang meninggalkanNya. Petrus sebagai murid yang dipercayapun pernah ditegur keras. “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:23). Semua teguran itu demi kebaikan Petrus sendiri. Tapi teguran dan kritik dari seorang sahabat bisa dianggap sebagai hal yang menyakitkan bagi kita sehingga kita pun merasa bahwa sahabat telah berubah menjadi musuh.

Dengan demikian orang yang menyenangkan belum tentu dia adalah sahabat dan orang yang menjengkelkan belum tentu dia adalah musuh. Kita perlu mengkajinya dalam perjalanan waktu apakah sahabat kita membuat hidup kita lebih baik atau tidak. “Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.” (Sir 6:17). Sirakh menegaskan bahwa orang dapat bersahabat bila dia sungguh orang beriman atau orang yang takut pada Tuhan. Dia akan mengarahkan sahabatnya untuk lebih mencintai Tuhan seperti yang telah dialaminya. Bila persahabatan didasarkan pada takut akan Tuhan maka tidak akan ada kejahatan dan dosa di dalamnya. Tuhan adalah kasih maka persahabatan menjadi perwujudan kasih dan pengurbanan seperti yang telah diajarkan Yesus.

0 komentar:

Posting Komentar