Jumat, 18 Maret 2011

PUASA: MENGENDALIKAN DIRI DARI KEKUASAAN

Cobaan yang terakhir dari iblis adalah tentang kekuasaan duniawi. "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Mat 4:9). Iblis memberi janji yang sangat menggiurkan dan dikejar oleh banyak orang yaitu menjadi penguasa dunia. Tetapi janji ini tidak diberikan secara gratis melainkan ada tuntutan yaitu menyebah dia. Iblis ingin disembah seperti Allah. Yesus menjawab keras dan menunjukkan kepada iblis bahwa hanya Allah yang patut disembah. Apa yang dikatakan Yesus merupakan dasar dari monoteisme yang sudah ditetapkan oleh bangsa Israel sejak jaman Musa. “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.” (Ul 6:13). Allah bangsa Israel adalah Allah yang pencemburu. Dia tidak ingin diduakan.

Bujukan iblis akan memberi kekuasaan pada siapa saja yang mau menyebahnya terus terjadi sepanjang sejarah manusia. Menyembah iblis berarti mengabaikan Allah dan segala ajaran Allah. Orang mentaati ajaran iblis yang bertentangan dengan ajaran Allah. Ajaran iblis adalah perpecahan, kekerasan, kesewenang-wenangan dan ajaran lain yang melawan ajaran Allah yaitu kasih. Dalam mengejar kekuasaan tidak jarang orang melegalkan kekerasan. Sejarah mencatat jutaan orang mati akibat ada orang yang berusaha menjadi penguasa dunia. Adolf Hitler (20 April 1889-30 April 1945) adalah salah satu orang yang berambisi untuk menjadi penguasa dunia sehingga pecah perang dunia II yang menelan jutaan nyawa manusia. Bila Hitler adalah orang yang menyembah Allah maka dia tidak akan mendirikan kamp-kamp kosentrasi untuk membunuh dan menyiksa jutaan orang Yahudi dan musuh-musuhnya.

Yesus tahu bahaya dari godaan ini. Ketika para murid bertengkar mengenai siapa yang paling besar dan memperebutkan kekuasaan, maka Yesus mengingatkan bahwa yang terbesar adalah orang yang mau melayani. “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” (Luk 22:26). Menjadi yang paling muda berarti siap untuk tidak dihargai atau diperhitungkan. Menjadi pelayan memposisikan diri untuk melayani sesamanya. Jarang ada orang yang tidak ingin diperhitungan dan sanggup untuk menjadi pelayan bagi sesamanya. Semua orang ingin menikmati yang sebaliknya. Tapi bila mengejar kekuasaan maka ada kemungkinan akan menjauh dari Allah dan segala perintahNya atau dia sudah menyembah iblis. Kekuasaan sebagai kekuasaan tidaklah jahat atau salah tapi mengejar kekuasaan dapat dan melaksanakan kekuasaan dapat membuat orang menjadi jahat.

Kita setiap hari disuguhi berita tentang orang yang mengejar kekuasaan dan berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan melegalkan aneka cara. Tidak jarang berbuat mereka melakukan kekerasan sampai membunuh sesamanya. Hal ini dilakukan sebab kekuasaan dapat memberikan kekayaan, popularitas, penghargaan dan sebagainya. Inilah kenikmatan yang dapat menjauhkan orang dari sesama dan Allah. Selain itu orang juga ingin menjadi yang tertinggi atau satu-satunya yang berkuasa, sehingga orang lain dianggap sebagai pesaing yang harus disingkirkan. Dengan demikian mereka telah menyembah iblis yaitu kekuatan yang ingin menjauhkan orang dari Allah yang terwujud dari sikapnya yang ingin menghancurkan sesamanya.

Dalam masa puasa ini kita diingatkan bahwa kita pun dapat menjadi penyembah iblis ketika kita telah mengejar kekuasaan. Kekuasaan tidak hanya disempitkan pada suatu kedudukan dalam masyarakat, tapi dapat diartikan lebih luas yaitu sikap dimana kita tidak ingin disepelekan dan melayani sesama. Menyerobot dalam antrian, memacu kendaraan tanpa peduli orang lain, memerintah orang dengan sewenang-wenang dan masih banyak lagi contoh dimana kita ingin menjadi yang utama dan pertama atau ingin menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Puasa mengajak kita untuk mengendalikan diri sehingga rela menjadi orang yang tidak diperhitungkan dan siap untuk melayani sesama terutama yang lemah.

0 komentar:

Posting Komentar