Rabu, 16 Maret 2011

PUASA: MENGENDALIKAN DIRI UNTUK MENJADI ALLAH

Godaan kedua yang dialami oleh Yesus adalah iblis dengan cerdik memprovokasi Yesus akan perlindungan yang akan diberikan oleh Allah kepadaNya. Pertanyaan iblis sangat menantang Yesus dengan membuka pertanyaan dengan mempertanyakan soal statusNya sebagai Putra Allah, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Mat 4:6). Dengan satu pertanyaan iblis hendak menguji Yesus untuk membuktikan siapa diriNya dan menantang kuasa perlindungan Allah pada Yesus. Maka pertanyaan itu dijawab dengan tegas, “Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat 4:7).

Pertanyaan iblis itu dikutip dari Mazmur 91:10-12. Mazmur 91 merupakan jenis Mazmur kepercayaan yaitu doa kepercayaan umat pada Allah yang akan melindunginya dari segala bahaya. Dalam Mazmur 91 ini bahaya itu adalah penyakit yang menakutkan yaitu wabah sampar. Iblis menggunakan kepercayaan umat Israel sebagai titik tolak untuk mencobai Allah. Maka Yesus pun menjawab dengan menggunakan kutipan dari Firman Allah yaitu dari Ulangan 6:16. Iblis senantiasa berusaha melawan Allah dan mengajak manusia untuk melawan Allah. Dalam kitab Ayub pun iblis meminta ijin pada Allah untuk menghancurkan Ayub, sebab bila dia hancur maka dia akan melawan Allah.

Iblis terus menggoda manusia sampai saat ini. Dia mencari saat yang tepat untuk mencobai manusia. “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13). Iblis ingin menjauhkan manusia dari Allah atau melawan Allah seperti yang diharapkan terjadi pada Ayub atau membuat manusia ingin menjadi Allah seperti yang dikatakan pada Hawa. Dengan makan buah yang dilarang maka Hawa akan tahu yang baik dan jahat. Godaan semacam ini terus terjadi dalam sejarah hidup manusia. Penderitaan yang hebat dan terjadi bukan karena kesalahannya memungkinkan seseorang untuk meninggalkan bahkan mengutuki Allah. Pemahaman akan Allah yang Mahakasih, Mahaadil dan sebagainya menjadi runtuh. Allah dilihat sebagai sosok yang keji dan sewenang-wenang.

Hal yang sering terjadi adalah iblis membujuk orang untuk menjadi allah yang berkuasa untuk menentukan baik buruk sesamanya. Orang dengan sombong mengatakan bahwa orang lain salah dan dialah yang benar. Dia dapat dengan kekuasaannya menghukum sesamanya seturut kebenaran yang dimilikinya. Kekerasan yang berdasarkan agama disebabkan ada orang yang merasa bahwa agamanya yang paling benar, maka agama yang dianggap tidak benar harus dimusnahkan. Bahkan lebih mengerikan lagi dia dapat menentukan manusia mana yang dapat masuk surga dan neraka. Seolah merekalah yang mempunyai dan menguasai surga dan neraka, sehingga berhak menentukan siapa saja yang dapat masuk surga. Padahal yang berhak menentukan manusia masuk neraka atau surga hanya Allah. Ini hak privilege Allah, tapi orang ingin mengambilnya alih hak ini. Manusia hanya mengetahui bagaimana cara untuk masuk surga tapi tidak dapat menentukan bahwa dia masuk surga dan orang lain tidak.

Seruan yang sangat kuat pada masa puasa adalah pertobatan, maka masa puasa juga disebut sebagai masa pertobatan. Pertobatan adalah usaha untuk kembali pada Allah dan menyadari bahwa kita adalah mahluk yang lemah dan membutuhkan belas kasih Allah. Seperti kata pemazmur "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (Mzm 91:2). Bila Tuhan adalah perlindungan kita, maka dalam kepahitan hidup kita tetap bersandar pada Tuhan bukan sebaliknya menjauh dan mengutuki Tuhan. Kita adalah hamba bukan tuannya Tuhan. Kita pun belajar untuk rendah hati sehingga tidak mudah mengadili orang, menyalahkan dan menghukum orang bahkan menentukan seseorang masuk neraka atau surga. Seperti seruan Yesaya 58:1-11 tentang puasa, bahwa kita tidak boleh memfitnah dan menyalahkan sesama melainkan kita harus berbelas kasih pada orang yang menderita.

2 komentar:

  1. Yesus adalah utusan Tuhan (Yesus tidak meminta dirinya untuk disembah dan dipuja).

    Aku (Yesus) berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya....Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia (Bapa) yang mengutus Aku. (Yohanes 13:16,20)

    Yesus adalah Tuhan sesuai pernyataan Paulus.

    Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6)


    Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. (Roma 10:9)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yg di atas AJARAN YESUS VS AJARAN KRISTEN.
      ternyata byk orang yg d bodohi tetang berTUHAN.
      dan byk pula orang yg menyangkal kebenarannya.

      Hapus