Minggu, 27 Maret 2011

EKARISTI DAN PERSAUDARAAN

Seorang teman muda melontarkan pertanyaan tentang suasana Gereja yang kurang bersahabat. Dia merasa ketika datang ke gereja orang dilihatnya tidak saling menyapa. Suasana ini sangat berbeda dengan beberapa komunitas dan Gereja lain yang rasa persaudaraan dan persahabatan sangat kental. Ketika umat datang sudah ada orang yang menyambut dan menyapanya dengan ramah. Di dalam gedung gereja pun umat saling senyum dan menyapa sehingga ada kehangatan. Perjamuan sungguh menjadi perjamuan yang membangun rasa kekeluargaan. Tampaknya di dalam Gereja Katolik terjadi krisis persaudaraan sehingga membuat beberapa umat pindah ke Gereja yang mampu memberikan rasa persaudaraan. Beberapa teman menanggapi bahwa dalam ekaristi pusat perhatian adalah Kristus, sehingga seluruh perhatian umat tertuju hanya pada Kristus akibatnya sesama menjadi tidak penting.

Memang jawaban itu ada benarnya bahwa dalam ekaristi pusat kita adalah Kristus. Tapi bila melihat akar ekaristi adalah perjamuan terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama para rasul pada Kamis Putih, maka sebetulnya dalam ekaristi juga sangat kuat unsur perjamuan makan bersama. Bagi orang Yahudi perjamuan makan adalah perjamuan yang penuh suka cita. Apalagi akar ekaristi adalah perjamuan Paskah dimana umat penuh harapan dan suka akan pembebasan dari perbudakan. Maka ekaristi tidak bisa dihilangkan dari rasa suka cita akan persaudaraan, sebab kita bukan hanya bertemu dan bersatu dengan Yesus tapi juga dengan semua umat yang hadir. Pada saat ini ekaristi sudah kehilangan rasa suka citanya yang berasal dari relasi dengan sesama.

Penulis surat Yohanes mengatakan “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1Yoh 4:21). Dengan demikian jelas bahwa kita tidak bisa mengabaikan sesama kita dan hanya memusatkan diri pada Kristus yang ada dalam tabernakel, sebab Kristus juga ada dalam diri saudara-saudari kita yang hadir dalam ekaristi. Maka bagiku pendapat bahwa pada saat misa pusat perhatian kita hanya pada Kristus adalah sebuah penghilangan unsur perjamuan yang mengandaikan kita menjalin relasi dengan sesama. Dalam surat Yohanes juga tertulis bahwa tidak mungkin kita bisa mengasihi Allah yang tidak tampak bila kita tidak mengasihi saudara kita yang tampak. Maka pertanyaan bagi kita adalah apakah dalam diri kita ada kasih kepada sesama yang hadir di sekitar kita? Bila ada kasih tentu kita tidak akan mengabaikan sesama. Hal ini bukan berarti kita bisa berbicara atau sibuk dengan teman kita sehingga mengabaikan tujuan kita datang ke gereja untuk berdoa. Kita tetap berdoa tapi tidak mengabaikan sesama yang ada di sekitar kita.

Oleh karena kita cenderung tidak peduli pada sesama dan tidak berbagi kasih dengan sesama maka ekaristi menjadi kering. Selama ekaristi orang merasa terasing sehingga enggan untuk mengikuti tata cara ekaristi. Orang bernyanyi tanpa semangat. Menjawab doa-doa pun hanya sekedar menjawab, sebab dia tidak merasa menjadi bagian dari perjamuan. Dia seperti orang yang datang dalam sebuah pesta tapi tidak mempunyai teman sama sekali. Maka yang ada dalam pikirannya adalah kapan pesta ini berakhir sehingga dia dapat segera meninggalkan ruang pesta setelah menikmati hidangan yang disediakan dalam pesta. Memang orang datang ke misa untuk bertemu dan menerima Yesus, tapi sebagai mahluk sosial kita pun membutuhkan sesama.

Maka perlu adanya perubahan dalam ekaristi yaitu mengembalikan ekaristi sebagai sebuah perjamuan yang diselenggarakan oleh Yesus sendiri. Dalam Injil pun beberapa kali digambarkan Kerajaan Allah sebagai perjamuan pesta. Maka seharusnya dalam ekaristi ada suka cita, persaudaraan dan persatuan sehingga kita menjadi satu tubuh Kristus. Penderitaan dan kebahagiaan sesama menjadi penderitaan dan kebahagiaan kita. Hal ini hanya dapat terjadi bila kita peduli terhadap sesama dan menjadikan mereka sahabat. Meski kita tenang dalam doa tapi rasa cinta kita mengalir pada sesama yang ada disekitar kita sehingga mereka tidak merasa asing. Bila dalam diri kita ada cinta maka akan terungkap dalam segala tindakan dan perkataan kita.

0 komentar:

Posting Komentar