Jumat, 04 Maret 2011

KETIKA AKU DIKALAHKAN OLEH ALAT


Seorang mengeluh tentang apa yang baru dialaminya. Dia sedang mempunyai masalah dalam perusahaannya. Lalu dia meminta bantuan seorang ahli hukum untuk mencari jalan yang aman dari segi hukum. Setelah mengadakan perjanjian untuk bertemu, maka dia datang ke kantor ahli hukum itu. Ketika sedang membahas masalahnya, tiba-tiba telpon ahli hukum itu berbunyi. Dia lalu mengangkat dan mengadakan pembicaraan yang menghabiskan waktu beberapa menit lalu melanjutkan kembali membahas masalah. Tapi beberapa menit kemudian telpon itu berbunyi lagi dan diterima lagi. Hal ini terjadi beberapa kali. Akhirnya orang itu pulang dengan perasaan mendongkol. Dia merasa bahwa lebih baik bertanya melalui telepon daripada harus datang sendiri, sebab untuk datang dia harus meninggalkan pekerjaannya. Menunggu giliran berbicara. Membayar biaya konsultasi. Tapi kenapa dikalahkan oleh telpon yang masuk?

Sejak munculnya HP seolah telepon telah menguasai kehidupan manusia. Dia menjadi tuan dari manusia. Dimana saja dan kapan saja orang tidak bisa lepas dari HP. Tidak jarang orang menjadi begitu terlekat pada HP, sehingga mengabaikan sesamanya yang ada di sekitarnya. Pengalaman temanku bukanlan pengalaman satu-satunya. Banyak orang mengalami hal yang menjengkelkan seperti itu. Manusia dikalahkan oleh dering telpon. Seharusnya orang harus lebih menghargai sesamanya yang ada di sekitarnya daripada orang yang jauh, kecuali dalam hal darurat. Apalagi bagi orang-orang yang menjual jasa seperti pengacara, dokter, pegawai bank dan sebagainya. Tapi meskipun bukan orang bukan orang penjual jasa pun seharusnya lebih diutamakan orang yang ada di dekatnya daripada orang yang jauh. Beberapa kali aku pun mengalami ketika sedang berbicara dengan seseorang tiba-tiba dia menghentikan pembicaraannya ketika ada SMS atau telepon yang masuk.

Kadang banyaknya telepon yang masuk dapat menjadi ukuran tingkat kesibukan seseorang. Semakin banyak dia ditelepon oleh orang-orang, semakin menunjukkan bahwa dia adalah orang penting yang dicari atau dibutuhkan oleh banyak orang. Padahal belum tentu telepon yang masuk adalah telepon yang penting dan mendesak. Pada jaman ini orang bangga bila dikatakan sebagai orang sibuk. Bahkan tidak jarang orang menyatakan dirinya sebagai orang yang sibuk. Maka menerima banyak telepon adalah sebuah kebanggaan tersendiri untuk menunjukkan kepentingan dan kesibukan dirinya dihadapan umum. Ada pula orang yang mensetting suara teleponnya begitu keras sehingga semua orang yang disekitarnya akan tahu bahwa ada orang yang sedang menelepon dirinya. Ada pula yang bila menerima telepon suaranya yang cukup keras seolah tidak ada orang di sekitarnya. Dengan demikian semuanya kembali pada diri yang ingin dianggap sibuk dan penting sesuai dengan tuntutan jaman.

Akhir-akhir ini dengan munculnya black berry dan telepon sejenisnya yang dapat berfungsi bukan hanya sebagai telepon dan SMS tapi juga membuat grup, mengakses twiter, facebook dan sebagainya, sehingga setiap menit ada saja pesan yang masuk. Orang dapat tenggelam dalam menjawab pesan-pesan yang masuk, sehingga meski duduk berdua pun orang dapat tidak berkomunikasi satu dengan yang lain melainkan tenggelam dalam sarana komunikasi yang ada dalam genggamannya. Dengan demikian sebetulnya kita mengalami krisis kemanusiaan nyata. Kita menjadi manusia maya yang tenggelam dalam dunia maya daripada menjadi manusia nyata yang berbicara dengan teman yang ada didekat kita. Merasakan kehadiran dan menjadi bagian dari komunitas nyata.

Bila Yesus berbicara soal mammon maka HP dan BB adalah mammon pada jaman ini. Mammon adalah sesuatu yang membuat manusia terlekat padanya sehingga dapat memisahkan manusia dengan Allah dan sesamanya. Maka perlu ketegasan pada diri sendiri dan membuat prioritas tentang membangun sebuah relasi. Prioritas utama adalah membangun relasi yang nyata dengan orang nyata yang ada di sekitar kita. Kita pun harus menghargai orang nyata yang sudah merelakan diri datang pada kita.

1 komentar: