Jumat, 18 Maret 2011

SEBUAH SHARING SAJA

Aku dibaptis saat kelas V SD. Dalam keluargaku tidak ada satupun yang beragama Katolik. Bagi nenek, kakek dan orang tuaku, agama Kristen identik dengan Belanda bangsa penjajah. Semua tetangga pada saat itu tidak ada satu pun yang beragama Katolik. Semua teman sepermainanku pun tidak ada yang bergama Katolik. Aku sekolah di SD negeri yang hampir tidak ada anak Katoliknya, bahkan aku menjadi satu-satunya anak Katolik di kelas yang berjumlah sekitar 50 murid lebih. Tidak ada satupun guru yang beragama Katolik, sehingga ketika ulangan umum bidang agama wali kelasku bertanya padaku beberapa pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Aku pun disekolah belajar mengaji dan harus hafal semua doa yang digunakan untuk sholat.

Aku mengikuti pelajaran agama Katolik setiap Jumat malam di rumah sebuah keluarga yang akan menjadi Katolik. Jarak rumahnya dan rumahku sekitar 1 km. Aku harus jalan kaki menuju rumahnya melalui kompleks pekuburan yang sangat luas dan gelap, sebab pada jaman itu listrik masih merupakan fasilitas yang mahal dan mewah. Bagi anak seusiaku hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebab nenek sering cerita tentang hantu yang bergentayangan di pekuburan. Tantangan terbesar muncul dari teman-teman di sekolah maupun di kampung yang sering mengejekku bila mati nanti akan menjadi babi. Apalagi bila hari Lebaran tiba disaat semua teman merayakan penuh suka cita, aku menjalaninya sendirian. Teman-teman enggan mengajak berkunjung ke rumah-rumah tetangga untuk mendapat uang receh dan kue. Pada saat Natal aku pun tidak pernah merayakan sebab di rumah tidak ada yang merayakan Natal. Beberapa kali aku berjalan kaki ke gereja yang berjarak sekitar 3 km sebab orang tua tidak mendukung.

Menjadi orang Katolik ditengah orang yang bukan Katolik memang suatu hal yang kurang mengenakkan. Ketika sekolah di SMA negeri tidak jarang guru agama secara kasar mengejekku meski tidak menyebut namaku. Beberapa teman pun sama saja. Mereka sering berkata keras dan kasar untuk menjelekkan agama yang kupilih. Tapi ejekan dan rasa disingkirkan tidak membuatku surut. Aku tetap menjadi seorang Katolik. Aku semakin aktif di gereja dan mulai mengikuti organisasi Gerejani. Aku berusaha membuktikan bahwa Katolik bukan agama yang salah. Aku buktikan pada teman-teman bahwa karena aku beragama Katolik maka aku berani menuntun orang kusta yang kesulitan turun dari bis kota. Aku dengan bangga bercerita tentang Ibu Teresa dari Kalkuta yang dianggap orang suci di dunia dan jauh berbeda dengan pemimpin negara Irak dan Iran yang terus berperang pada saat itu.

Aku bangga menjadi Katolik meski aku tidak tahu mengapa aku bisa memilih untuk menjadi Katolik. Meski aku tidak tahu apakah nanti bila mati aku masih berwujud manusia atau menjadi babi yang disalibkan seperti yang dikatakan oleh guru agama dan teman-temanku. Meski guruku mengatakan aku akan disiksa di neraka sedangkan teman-temanku akan menikmati kebahagiaan surga. Makan makanan yang enak dan minum susu setiap saat dan masih banyak lagi hal menakutkan yang harus aku jalani sebagai orang Katolik. Keputusanku menjadi Katolik seperti melompat dalam lorong gelap yang tidak tahu dimana ujung lorong itu. Aku mengikuti saja apa kata hatiku.

Menjadi Katolik bukan berarti menjadi enak. Aku mengurangi jam bermain agar bisa ikut pertemuan doa, mengunjungi orang sakit dan sebagainya. Hari minggu yang semula adalah hari libur aku gunakan untuk aktifitas Gereja. Semua kujalani dengan senang meski harus jalan kaki ke gereja. Keputusan mengikuti Allah adalah keputusan untuk memberikan diri. Mengikuti kemana Dia memerintahkan tanpa perlu bertanya, seperti Abraham yang mengikuti perintah Allah untuk mengurbankan Ishak. Tapi kelemahan manusiawi sering kali membuatku malas untuk berjalan atas perintah Allah. Aku kerap mempunyai alasan untuk menentukan diriku sendiri dan menutup telinga dari perintah Allah. Disinilah perlu kerendahan hati dan kesiapan untuk membuka telinga dan mata hati agar mampu mendengar perintah Allah dan melaksanakan tanpa bertanya mengapa harus aku yang melaksanakan.

4 komentar:

  1. trima kasih buat tulisan yg menyentuh ini,
    speechless.
    intinya kembali ttg kerendahan hati, dan kesiapan diri membiarkan the invisible hands works on us.
    eh, bener ga ?

    Vitha

    BalasHapus
  2. terima kasih atas pujiannya. Ya memang kita harus berserah pada kehendak Allah meski kadang membingungkan

    BalasHapus
  3. mungkin 'terlihat' membingungkan ya, romo.
    krn akal & rasio kita ga ckp unt menjangkau nya..
    tdk semua hrs make sense, kadang.
    itu pendapat saya.
    maka : kerendahan hati itu tdk semudah tampaknya.

    vitha

    BalasHapus
  4. Sharing yg indah & menguatkan... Jadi terharu membacanya... I like it!!!

    luciele

    BalasHapus