Jumat, 25 Februari 2011

PEMULUNG DAN ANAK JALANAN

Aku berdiri di halaman museum Fatahilah yang sangat luas dan ramai sambil memotret museum Fatahilah dan gedung-gedung di sekitarnya pada malam hari. Ketika sedang memotret datang sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemulung menghampiriku. Dia meminta agar aku memotretnya. Dia melakukan beberapa pose. Aku tersenyum geli melihat gayanya. Setelah meminta dipotret dia lalu bercerita tentang sulitnya hidup yang dialami di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta. Dia adalah penduduk asli Jakarta yang kalah bersaing dengan para pendatang yang banyak menyerbu kota. Dia lahir dari keluarga miskin yang tidak mempunyai apa-apa selain tanah warisan yang akhirnya diambil alih oleh penguasa dengan alasan itu tanah negara. Kemiskinan membuatnya tidak mampu mengenyam bangku sekolah seperti yang diharapkanya. Setelah lulus SD dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia bekerja apa saja dan sampai akhirnya menekuni sebagai pemulung di sekitar kota tua.

Pasangan pemulung itu adalah salah satu potret kecil masyarakat Indonesia. Kaum miskin yang setiap tahun semakin bertambah banyak meski pemerintah berpendapat sebaliknya. Menurut data yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini kaum miskin sekitar 30,2 juta atau sekitar 12% lebih dari jumlah penduduk Indonesia padahal menurut WHO ada 70 juta lebih. Mereka hidup remah-remah kaum kaya. Pemulung itu bercerita dengan wajah berseri-seri bahwa istrinya sedang hamil 5 bulan. Aku membayangkan bagaimana nanti bila istrinya melahirkan? Dari mana dia mendapatkan dana untuk biaya rumah sakit? Seorang teman pernah berkata dengan nada sinis bahwa sebaiknya orang miskin tidak mempunyai anak. Untuk hidup sendiri saja sudah sulit mengapa mereka nekad mempunyai anak? Bagaimana dengan pendidikan anak-anak mereka? Aku membantah pendapat itu. Bagiku kaum miskin juga berhak mempunyai anak sedangkan pendidikan anak-anak mereka adalah tanggungjawab pemerintah.

Di sekitarku ada banyak anak-anak kecil yang tidak sekolah. Ketika aku duduk mereka pun duduk di sekitarku. Ada 16 anak mulai dari umur 5 tahun sampai 15 tahun. Tidak ada satupun yang sekolah. Beberapa dari mereka drop out SD sedangkan yang lain tidak sempat mengenyam bangku sekolah sebab tidak mempunyai biaya. Ketika kutanya bukankan sekolah gratis? Mereka mengatakan memang sekolah gratis tapi harga buku sangat mahal dan mereka tidak mampu membeli buku dan membayar uang iuran lain. Kini mereka menghabiskan hari-harinya dengan mengemis dan bermain di halaman museum. Anak pasangan pemulung itu apakah akan menjadi bagian dari anak-anak ini? Anak-anak yang kehilangan masa depannya karena tidak mampu bersaing dengan para pendatang yang semakin memenuhi Jakarta.

Dalam UUD 1945 pasal 34 jelas tertulis (1) fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Bila apa yang tertulis dalam UUD ini dijalankan tentu tidak ada pemulung dan anak-anak yang berkeliaran seharian di halaman museum ini. Anak-anak tentu akan menikmati bangku sekolah dan pemulung ini tidak akan kuatir bila nanti istrinya harus melahirkan sebab ada jaminan kesehatan dari pemerintah. Tapi sayangnya apa yang tertulis dalam UUD ini masih sekedar tulisan yang mungkin sudah tidak pernah dilihat, dibaca dan dijabarkan dalam langkah-langkah strategis.

Malam semakin larut. Pasangan pemulung itu pergi pulang ke gerobak mereka. Anak-anak masih berkeliaran meminta uang pada para pengunjung dengan alasan untuk makan. Mereka menjadi sisi lain wajah Jakarta. Wajah yang memancarkan kemewahan sehingga menarik banyak orang untuk datang tapi menyimpan wajah kumal yang membuat orang mengelus dada. Keduanya hidup berdampingan seperti bangunan kantor pos yang megah dan gedung rusak di sebelahnya di depan museum Fatahilah.

0 komentar:

Posting Komentar