Rabu, 17 Desember 2008

APAKAH ALLAH HANYA MELIHAT?

Aku duduk beralas tikar di lorong pasar sambil menikmati kopi mendengarkan cerita dari para kurban lumpur panas akibat pengeboran minyak oleh Lapindo Brantas Inc. Semua cerita membuat hatiku gregetan dan jengkel namun tidak tahu harus berteriak kepada siapa. Ketidakadilan begitu mencolok. Orang desa yang bodoh hanya menjadi obyek pembodohan oleh orang yang dianggap pandai dan bijaksana. Beratus warga desa diminta untuk tanda tangan di atas sebuah kwitansi yang di atasnya tertulis deretan angka yang harus dibayar oleh Lapindo. Namun setelah ditunggu selama dua bulan ternyata uang yang harusnya dibayar ternyata masih belum dibayar. Setelah melakukan aksi menghadang truk yang akan membuat tanggul akhirnya dibayar tidak sesuai dengan angka yang tertulis dalam kwitansi. Mereka protes tapi suara mereka seperti asap rokok yang menguap di kegelapan malam.

Dalam penderitaan yang demikian hebat mereka bertanya harus berbuat apa lagi? Aksi ke Jakarta sudah dan ternyata hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan pribadi. Menyurati para pejabat sudah dan tidak ada jawaban yang memuaskan. Bertemu dengan pejabat sudah dilakukan dan hanya mendapatkan janji. Lalu apa yang harus dilakukan lagi? Aku katakan memohon kekuatan dari Tuhan. Mereka menjawab bahwa sudah beberapa lama mereka berdoa tepat tengah malam untuk memohon pendampingan Tuhan agar Tuhan berpihak pada mereka tapi masalah pun tidak kunjung selesai.

Dalam mazmur 35 berisi jeritan orang Israel yang sedang mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari sesamanya. Mereka menjerit dan tampaknya Tuhan tidak menjawab maka mereka menulis. “Sampai berapa lama, Tuhan, Engkau memandangi saja? Selamatkanlah jiwaku dari perusakan mereka, nyawaku dari singa-singa muda!” Mereka merasa Tuhan tidak bertindak namun hanya memandang saja. Maka mereka bertanya sampai kapan? Sampai kapan mereka akan terbebas dari penderitaan yang mengerikan ini? Jeritan dari pemazmur itu merupakan jeritan umum bagi orang yang menderita. Mereka berharap Tuhan turut campur tangan.

Apakah Tuhan akan campur tangan dengan membuat semburan lumpur di rumah para penguasa Lapindo? Itu adalah hal mustahil sebab disana tidak diadakan pengeboran minyak. Kadang orang berharap ada mujijat dalam hidup, sebab mujijat diyakini sebagai campur tangan Allah dalam hidup. Namun campur tangan Tuhan tidak hanya melalui sebuah peristiwa melainkan juga melalui kita. Kitalah yang menjadi kepanjangan tangan Allah untuk terlibat dalam penderitaan umat manusia. Kehadiran Gereja ditengah kaum yang sedang menderita merupakan bukti bahwa Allah melibatkan diri. Namun sejauh mana kita mau terlibat dalam penderitaan sesama? Sejauh mana kita mau hadir ditengah orang yang sedang menderita? Inilah tantangan bagi kita sebab sering kali kita menghindari orang yang sedang menderita dengan aneka alasan yang sering kali masuk akal. Gereja enggan terlibat dalam perjuangan rakyat Porong sebab merasa bahwa perjuangan itu berbau politik, sudah banyak yang terlibat, mereka hanya memperbesar masalah dan aneka pendapat lain. Padahal semua itu tidak benar dan aku rasa ini hanya sebuah alasan akan keengganan terlibat dalam penderitaan sesama. Entah sampai kapan rakyat Porong masih harus menunggu sampai Tuhan tidak hanya melihat melainkan terlibat .

0 komentar:

Posting Komentar