Minggu, 21 Desember 2008

MEMIKUL SALIB

Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.” (Luk 23:26)
Setelah mengalami siksaan semalam suntuk Yesus harus memanggul salib menuju bukit Golgota. Para prajurit takut Yesus akan meninggal sebelum penyaliban, maka mereka memaksa Simon orang Kirene untuk menggantikan Yesus memanggul salib. Kirene adalah sebuah daerah dekat sungai Nil dan termasuk daerah Libya saat ini, dengan demikian Simon bukanlah orang Yahudi. Kisah Simon yang menggantikan Yesus hanya ada dalam Injil Lukas yang juga penulis Kisah Para Rasul. Dalam Kisah Para Rasul ditulis bahwa ada orang Kirene semula tidak percaya pada Yesus. Mereka termasuk yang menghasut orang untuk membunuh Stefanus (Kis 6:9-11) namun akhirnya mereka juga ikut menyebarkan Injil (Kis 11:20). Simon dari Kirene dikatakan berjalan mengikuti Yesus. Ini adalah gambaran kemuridan. Maka mungkin tampilnya sosok Simon orang Kirene adalah untuk menggambarkan bahwa menjadi murid Yesus tidak selalu merupakan sebuah pilihan bebas melainkan terkadang dengan paksaan.

Menjadi murid Yesus bukan untuk menikmati keselamatan namun terlibat dalam karya keselamatan seperti Simon dari Kirene. Membantu Yesus untuk memikul salibNya. Dalam dunia saat ini masih banyak penderitaan. Mereka membutuhkan penyelamat. Kita sebagai pengikut Kristus tidak mungkin diam dan hanya melihat saja. Kita dituntut untuk terlibat, sebab kita adalah penerus karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Dia mewarisi kepada kita kaum miskin yang membutuhkan keselamatan.

Dalam sambutannya kepada kaum muda di Philadelphia 5 Agustus 1970, Ibu Teresa mengatakan, “Simon dari Kirene mulai mengikuti Yesus ketika dia membantuNya memikul salibNya. Itulah yang kalian, muda mudi, telah lakukan sepanjang tahun ini sebagai lambang kasihmu: ribuan hal yang telah kamu tawarkan kepada Yesus dalam diri yang miskin. Kalian telah menjadi orang Kirene sejati setiap kali kalian melakukan perbuatan seperti itu….Apakah kita siap menghilangkan duka mereka? Apakah kita siap menanggung penderitaan mereka?Apakah kita siap?Atau apakah kita seperti orang sombong yang lewat, yang melanjutkan perjalanannya setelah melihat yang kekurangan?Yesus kembali jatuh. Berapa kalikah kita membangunkan manusia di jalanan yang telah hidup seperti hewan dan ingin mati seperti malaikat? Apakah kita siap membantu mereka bangun?....Dia adalah Yesus dan Dia membutuhkan tangan kalian untuk menyeka wajahNya. Apakah kalian siap melakukannya?Apakah kalian akan pergi begitu saja?”

Ibu Teresa menekankan bahwa kita harus seperti Simon orang Kirene yang menolong Yesus dalam diri orang miskin. Yesus memang berada dalam diri orang miskin, sehingga barang siapa menolong orang yang menderita dia telah melakukan untuk Yesus. Tapi Yesus juga ada dalam diri kita untuk melakukan karya keselamatan. Dengan demikian bila kita melihat ada orang miskin, maka kita diingatkan akan tugas perutusan kita sebagai penerus karya keselamatan dan disisi lain kita diteguhkan bahwa yang kita tolong adalah Yesus sendiri yang sedang membutuhkan pertolongan.

Yesus memanggil kita untuk diutus mewartakan Injil, tapi kita sering kurang sadar atau mengabaikannya. Kita lebih suka mengikuti Yesus untuk memperoleh keselamatan tanpa perjuangan. Kita puas dengan mengikuti sakramen atau berdoa. Padahal mengikuti Yesus adalah berjalan memikul salib seperti Simon dari Kirene. Sering kita enggan melakukan karya kasih sebab kita sibuk dengan diri kita sendiri atau kita merasa bahwa kita masih membutuhkan pertolongan, sehingga memusatkan perhatian pada diri sendiri. Untuk itu perlulah kita melepaskan kesulitan diri dan mulai membuka mata terhadap penderitaan sesama.

Dalam masa Prapaskah biasanya diadakan ibadat jalan salib. Kita diajak oleh Gereja untuk merenungkan kisah sengsara Yesus yang rela menderita demi keselamatan kita. Bila Yesus sudah menyerahkan nyawaNya untuk kita maka apa balasan kita padaNya? Yesus tidak mengenal kita tapi rela mengurbankan diri bagi kita. Inilah yang oleh Ibu Teresa dimaksukan sebagai hutang yang tidak mungkin terbayarkan. Maka sebagai silih atas hutang itu, kita diajak untuk berani menderita bagi sesama yang membutuhkan. Namun di dunia banyak sekali orang yang menderita dan mungkin kita adalah salah satunya. Akibat kita sering melihat penderitaan maka hati kita dapat menjadi tumpul atau tidak peka pada penderitaan kecuali bila penderitaan itu sangat besar misalnya bencana alam yang merenggut banyak kurban. Maka sangat penting bagi kita untuk merefleksikan secara sungguh bila mengikuti ibadat jalan salib.

0 komentar:

Posting Komentar