Selasa, 30 Desember 2008

KETIDAKSEIMBANGAN HIDUP

Pemuda itu wajahnya tampak kuyu ditekan aneka beban kehidupan. Dia kukenal beberapa tahun yang lalu, ketika dia masih kuliah. Ketika aku pindah tempat kami tidak pernah bertemu lagi. Tiba-tiba siang ini dia muncul di tempatku. Dia bercerita kalau sekarang sudah menikah dan punya anak satu. Memang pernikahannya kurang dipersiapkan secara matang. Dia menyesal telah bertindak ceroboh pada saat pacaran sehingga pacarnya hamil. Akibatnya dia dan pacarnya putus kuliah dan harus bekerja untuk menghidupi keluarga mereka, sebab kedua orang tua mereka tidak menyetujui keputusan mereka untuk menikah. Berbekal ijasah SMA maka dia berusaha mendapatkan pekerjaan apa saja asal dapat untuk memenuhi biaya hidup bersama istri dan anaknya. Akhirnya dia bekerja di sebuah rumah makan. Kini anaknya sakit dan dia tidak mempunyai biaya sedikit pun, sebab gajinya dan gaji istrinya yang bekerja di sebuah perusahaan hanya cukup untuk biaya makan dan kontrak sebuah kamar. Tidak ada sisa uang setiap bulannya.

Aku pernah sekali makan di tempanya bekerja. Sebuah restoran steak dan aneka makanan lain yang aku lupa namanya. Harga makanan disana cukup mahal. Ada beberapa makanan yang harganya diatas 100 ribu rupiah per porsi. Satu gelas es lemon tea harganya sama dengan 20 gelas kopi yang biasa aku minum bersama teman-teman di tepi jalan. Tapi dibalik kemewahan itu ternyata gaji karyawannya sangat minim. Temanku bercerita bahwa gajinya masih di bawah UMR. Kalau kuhitung gajinya sebulan sama atau mungkin tidak sampai harga 5 porsi steak. Padahal setiap malam ada banyak orang yang makan disana.

Betapa besar jurang antara orang yang datang untuk makan dan karyawan yang melayaninya. Ketika aku makan disana kulihat ada banyak orang yang tidak menghabiskan makannya. Bila sisa makanan dihargai mungkin bisa mencapai puluhan ribu rupiah setiap harinya tapi semua itu dibuang. Padahal para pegawai yang melayani dan membuang makanan itu adalah orang miskin yang gajinya hanya beberapa porsi steak saja. Andaikan aku menjadi mereka bagaimana perasaan hatiku? Di rumah anakku sakit dan tidak mempunyai biaya, sedangkan di tempat kerjaku ada banyak orang tanpa merasa bersalah membuang makanan yang harganya sangat mahal.

Ketika aku ceritakan masalah temanku pada seseorang yang terbiasa makan di tempat semacam itu, dia mengatakan itu hak seseorang untuk makan di tempat seperti itu. Sebetulnya mereka juga tidak ingin membuang makanan, tapi karena perut sudah kenyang, maka makanan tidak dihabiskan. Itu wajar saja. Mendengar penjelasan itu aku menjadi tertegun. Betapa dalamnya kesenjangan dan minimnya solidaritas di jaman ini. Ada sebagian orang yang kenyang dan dia mampu membeli banyak makanan sampai tidak termakan, sedang di sisi lain ada orang yang sangat membutuhkan makanan tapi tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.

Memang tidak ada salahnya bila ada orang membuka restoran dengan harga makanannya sangat mahal, sebab ada bahan makan yang diimport sehingga harganya sangat mahal. Tapi mengapa gaji karyawannya masih dibawah UMR? Memang ketika masuk dia sudah tahu bahwa kerja di tempat itu gajinya cukup kecil. Pemilik restoran tidak pernah memaksa temanku untuk bekerja di tempat usahanya. Temanku menerima pekerjaan itu sebab dia terdesak daripada tidak ada pekerjaan sama sekali. Pada jaman ini mencari pekerjaan sangat sulit sekali, maka apapun pekerjaan yang ditemui akan dijalani sejauh ada penghasilan untuk biaya hidup. Jika boleh memilih temanku pasti tidak akan mau bekerja disana dengan gaji sekecil itu. Tapi dia terpaksa menerima. Penghasilan sekecil apapun sangat berguna bagi hidupnya.

Orang yang datang dan membelipun tidak salah, sebab mereka punya uang dan ingin makan enak. Uang itu diperolehnya dengan kerja keras. Maka kalau hanya mencari salah siapa pasti tidak akan ketemu. Dalam hal ini aku hanya berpikir bagaimana soal solidaritas? Orang dapat melakukan apa saja yang ingin dilakukan asal tidak melanggar hukum positip. Tapi bukankah masih ada suara hati nurani? Sebuah hukum yang telah diletakkan oleh Tuhan dalam hati setiap orang. Bahkan ada yang berpendapat bahwa hati nurani adalah suara Tuhan sendiri. Maka selain orang berpedoman pada hukum positip atau hukum negara, maka perlu juga mendengarkan hati nuraninya.

Namun persoalannya apakah hati nurani masih peka? Tidak jarang hati nurani menjadi bebal bahkan mati, sehingga orang tidak mampu lagi mendengar suara hati yang katanya adalah suara Tuhan. Bila orang masih mampu mendengarkan suara hati, maka kondisi yang tidak seimbang dalam kehidupan seperti kasus temanku ini tidak akan terjadi. Orang akan rela memberikan sedikit apa yang dimiliki untuk sesamanya. Pengusaha berani memberikan upah yang sesuai dengan kebutuhan hidup yang layak. Orang tidak mudah membuang begitu saja makanan, sebab dihadapannya dan yang membersihkan sisa makanannya adalah orang miskin yang hanya mampu membau makanan itu.

0 komentar:

Posting Komentar